Jakarta—Kepala Biro Hukum, Organisasi, dan Humas Badan Standardisasi Nasional (BSN), Budi Rahardjo, mengatakan bahwa dalam umur 1997-2017, pihaknya telah mencatatkan berbagai peristiwa penting yang melibatkan pemangku kepentingan. Diantaranya di tahun 2002, untuk pertama kalinya, Indonesia menyelenggarakan acara nasional Bulan Mutu dan Konvensi Nasional, yang saat ini berganti menjadi Indonesia Quality Expo (IQE).
“Lantas, di tahun 2005, BSN bersama pemangku kepentingan, mendeklarasikan Masyarakat Standardisasi Indonesia (Mastan). Sebagai organisasi nirlaba, keanggotaan Mastan kini mencapai 4.709,” kata dia di Jakarta (30/3/2017).
Di tahun yang sama, BSN menyelenggarakan malam Anugerah SNI Award. SNI Award kemudian menjadi rutinitas tahunan, yang tahun ini menginjak ke-13 kali penyelenggaraan.
Tahun 2007, SNI Mi Instan berhasil diadopsi menjadi standar internasional Codex.
“Sebuah kebanggaan bagi Indonesia, mengingat pangsa pasar mi instan Indonesia, sangat besar baik di dalam negeri maupun mancanegara. Sukses adopsi mi Instan oleh Codex, kemudian diikuti oleh SNI produk lain diantaranya tempe kedelai, tepung sagu, lada hitam, lada putih, pala, dan bawang merah, yang saat ini masih dalam tahap Codex regional,” kata dia.
Pencapaian lain yang merupakan tugas pokok BSN adalah meningkatnya jumlah SNI yang ditetapkan yang sampai September 2016, tercatat 9.050 SNI aktif.
Lalu, kata dia lagi, ada pengembangan skema penilaian kesesuaian. Sehingga, per tahun 2016, sebanyak 1.171 laboratorium, lembaga inspeksi, penyelenggara uji profisiensi, dan 227 Lembaga Sertifikasi, terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).
“Hingga tahun 2016, BSN juga telah menetapkan 116 Komite Teknis Perumus SNI,” ucap dia. (Albarsah)