Jakarta, TopBusiness – PT PP Presisi Tbk (PPRE) mengaku optimistis untuk menggarap segmen baru di sektor jasa pertambangan. Langkah ini dirasa sangat positif, sebab kinerja sektor pertambangan selama ini dirasa memiliki prospek cerah. Sehingga Perseroan pun melihat, dengan menggeluti sektor pertambangan dapat berdampak positif terhadap kinerja keuangan.
Demikian seperti disebutkan oleh Direktur Utama PT PP Presisi Tbk, Arzan saat menyampaikan kinerja Perseroan di Public Expose Tahunan 2024 yang digelar secara online, Rabu (18/12/2024).
“PPRE menegaskan fokusnya untuk menjadi pemain utama di bidang jasa pertambangan (mining services) sebagai lini bisnis utama. Langkah ini didukung oleh meningkatnya tren global dan prospek cerah sektor pertambangan di Indonesia,” ungkap Arzan.
Selama ini, lanjut Arzan, PPRE juga mencatat bahwa kontribusi bisnis Mining Services telah menjadi pendorong utama akuisisi kontrak baru selama tiga kuartal di tahun 2024 ini. Yakni, mencapai 72% dengan proyeksi peningkatan hingga akhir tahun mencapai 83,7%.
“Selain itu, perusahaan juga mencatat dominasi pangsa pasar dari segmen swasta (private), yang menyumbang 91% dari total kontrak baru hingga kuartal III 2024 ini,” kata dia.
Dia menegaskan, salah satu fokus penting adalah peningkatan kapasitas Mining Equipment itu telah menyerap 80% alokasi belanja modal (capital expenditure/Capex) pada 2024. Langkah ini, kata dia, sejalan dengan strategi Perseroan untuk terus mengembangkan lini bisnis Mining Services sebagai prioritas utama Perseroan ke depannya.
Terlepas dari itu, lanjut Arzan, diversifikasi bisnis juga terus berjalan dengan pendekatan Selective Civil Work. Dalam hal ini, PPRE akan bersinergi bersama PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk sebagai induk Perseroan untuk menangkap peluang di sektor pekerjaan sipil bernilai tinggi.
Untuk memastikan keberlanjutan bisnis, PPRE juga memaparkan sejumlah langkah strategis ke depan, antara lain: Pertama, ekspansi & pertumbuhan secara massif di sektor pertambangan dan menjajaki kemitraan baru dengan pemilik tambang nikel serta mengeksplorasi peluang kontrak baru pada sektor mineral lainnya seperti bauksit, timah, dan batu bara.
Kedua, Optimalisasi Rental Equipment melalui peningkatan utilisasi aset idle dengan memanfaatkan kontrak persewaan proyek eksternal. Ketiga, peningkatan efisiensi keuangan, termasuk percepatan arus kas dan program cost reduction untuk menekan biaya operasional.
Keempat, penggunaan teknologi untuk produktivitas, melalui perencanaan proyek yang lebih canggih dan implementasi predictive maintenance untuk menjaga performa aset. Kelima, pengembangan Sumber Daya Manusia, dengan peningkatan kompetensi karyawan melalui program pelatihan khusus dan manajemen talenta.
“Dengan strategi transformasi bisnis ke sektor pertambangan dan efisiensi operasional yang telah kami jalankan, kami optimis dapat terus mencetak pertumbuhan positif yang berkelanjutan,” ungkap dia.
Kinerja Keuangan
Lanjut Arzan, hingga kuartal III-2024, PPRE mencatatkan pencapaian positif. Dalam hal ini, Perseroan membukukan pertumbuhan yang signifikan di berbagai indikator utama. Seperti dalam hal perolehan kontrak baru telah meningkat 27% secara tahunan (YoY) menjadi Rp6,3 triliun pada kuartal III 2024. “Dan kita estimasikan selama full year akan mencapai Rp7,9 triliun atau naik 17% dibanding tahun 2023,” tegas dia.
Selanjutnya, dari segmen pendapatan usaha telah tumbuh 5,6% menjadi Rp2,7 triliun selama sembilan bulan pertama 2024 itu. Dan diproyeksikan akan mencapai Rp4 triliun di akhir tahun, yang berarti meningkat 19% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Dengan laba bersih tercatat naik 12% menjadi Rp100 miliar di kuartal III 2024. Dan kita proyeksi selama full year mencapai Rp194 miliar atau tumbuh 9,6%. Adapun untuk ekuitas perusahaan diproyeksikan meningkat 12% menjadi Rp3,9 triliun. Ini menunjukkan fundamental keuangan yang sehat dan berkelanjutan,” pungkas Arzan.
