Jakarta, TopBusiness – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berharap agar program harga gas bumi tertentu (HGBT) untuk industri tetap berlanjut.
Harga gas industri sebesar 6 dolar AS per MMBTU dinilai penting untuk mendukung keberlangsungan sektor manufaktur di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri mengatakan, apabila program HGBT tidak dilanjutkan dikhawatirkan banyak industri yang terperosok sehingga berimbas pada turunnya indeks manufaktur (Purchasing Manager Index/PMI). “Berdasarkan hasil riset Ekonom UI juga menyatakan kalau harga gas bahan baku industri naik maka PMI akan tertekan dan mungkin bisa kontraksi. Tapi kalau harga gas turun, industri bergairah dan PMI bisa naik. Tentu kita berharap harga gas untuk industri tetap di harga 6 dollar AS dan suplainya lancar,” ujarnya saat ditemui media di Kementerian Perindustrian Jakarta, Senin (13/1/2025).
Di sisi lain Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka opsi untuk memangkas jumlah sektor industri penerima HGBT. Langkah ini sedang dipertimbangkan untuk memastikan efisiensi dan ketepatan sasaran penerima program. “Ada kemungkinan (memangkas jumlah perusahaan atau industri), kami lagi bahas, tapi belum final ya,” ungkap Bahlil di Kantor BPH Migas, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sementara itu, data menunjukkan bahwa sektor manufaktur Indonesia sedang menghadapi tantangan berat. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia mencatat penurunan signifikan sepanjang tahun 2024. Dari Juli hingga November 2024, indeks ini berada di bawah angka 50, menandakan kontraksi yang berkelanjutan selama 45 bulan berturut-turut. Situasi ini dikhawatirkan akan memperburuk daya saing industri nasional jika program HGBT dihentikan atau penerima manfaatnya dikurangi. Oleh karena itu, Kemenperin mendorong koordinasi intensif dengan Kementerian ESDM dan pemangku kepentingan lainnya untuk mempertahankan kebijakan yang mendukung industri.
