Jakarta, TopBusiness—Tahun 2024 merupakan tahun berat bagi Perumda Air Minum (Perumdam) Tirta Serambi Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Sebab, bencana letusan Gunung Marapi yang terjadi di Desember 2023, berdampak ke masyarakat sekitar gunung tersebut.
“Tetapi, sekali pun ada dampak bencana tersebut, kami masih mendapatkan laba untuk tahun pembukuan 2024,” kata Direktur Perumdam Tirta Serambi Kota Padang Panjang, Adrial A. Bakar, dalam presentasi untuk Dewan Juri Top BUMD Awards 2025, melalui jaringan internet (30/1/2025).
Adrial menjelaskan bahwa, untuk tahun 2024, Perumdam Tirta Serambi P mencatatkan laba Rp74.026.665. “Jadi, ada dampak bencana alam pun, kami masih laba,” Adrial menegaskan.
Adapun di tahun pembukuan 2023, angka tersebut di Rp256.453.801. “Kami bisa mendapatkan laba, dalam enam tahun belakangan ini,” ia mengatakan.
Tren laba tersebut pun bisa terjadi sekalipun tarif yang dikenakan ke para pelanggan masih rendah yaitu di Rp800 per m3. Tarif tersebut belum pernah naik dalam 15 tahun belakangan ini. “Tarif kami ini, termasuk yang terendah dalam dunia PDAM di Indonesia,” Adrial menjelaskan lebih lanjut.
Dalam presentasinya, Adrial juga memaparkan pencapaian lain oleh BUMD tersebut. Ia, antara lain, mengatakan bahwa tingkat NRW (non revenue water/tingkat kebocoran air) di BUMD tersebut rendah, yaitu di 22,78%. Ini jauh di bawah rata-rata nasional yang di atas 30%.
“Kami berhasil mengurangi banyak tingkat NRW berkat peran TI. Dulu, NRW kami mencapai 39%,” begitulah Adrial menjelaskan.
Di tahun 2023, Perumdam Tirta Serambi mendapatkan nilai kinerja 3,60. Untuk peringkat propinsi, BUMD tersebut ada di peringkat 1. “Kemudian, untuk peringkat nasional, kami di peringkat tiga untuk kelompok PDAM 10.000-20.000 pelanggan,” papar Adrial.
Ia pun mengatakan bahwa, tarif Rp800 per m3 untuk pelanggan, sebenarnya belum mencapai FCR (full cost recovery). Dan BUMD tersebut bisa mengatasi hal ini dengan berbagai strategi efisiensi. “Direncanakan, ada kenaikan tarif ke pelanggan, untuk tahun 2025,” Adrial mengatakan.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Dewan Pengawas Perumda Air Minum Tirta Serambi Kota Padang Panjang, Putra Dewangga, mengatakan bahwa menaikkan tarif tersebut memang dilematis. Sejatinya, tarif tersebut sudah akan dinaikkan pra-pandemi Covid-19. “Namun, datangnya Covid-19 membuat Pemerintah Kota Padang Panjang menunda kenaikan tersebut,” papar Putra Dewangga.
Setelah berlalunya dampak pandemi tersebut, bencana letusan Gunung Marapi pun muncul. “Maka, kenaikan tarif air bersih tersebut kami tunda lagi,” kata dia.
Bila tarif air bersih itu tidak naik, kata dia, tentu bisa berdampak ke perkembangan BUMD tersebut di masa mendatang.
