Jakarta, TopBusiness—Analis saham dari Indo Premier Sekuritas (Ipot), Indri Liftiany Travelin Yunus, memberikan rekomendasi saham untuk perdagangan pekan ini.
Berbicara tentang potensi market pada 3-7 Maret 2025, Indri mengimbau pelaku pasar saham untuk mencermati data-data dari global dan domestik agar tetap bisa mendulang cuan. “Dari global ada Indeks NBS PMI Manufacturing (China), Indeks PMI Manufacturing Amerika Serikat bulan Februari dan data Non-Farm Payrolls Amerika Serikat bulan Februari,” kata dia dalam riset terbaru, pagi ini.
Pertama, Indeks NBS PMI Manufacturing (China) dilaporkan kembali ekspansi ke level 50,2 dari bulan sebelumnya di level 49,1 dan lebih tinggi dari konsensusnya di level 49,9. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian China kembali menemukan titik terang dan mulai berjalan normal.
Kedua, Indeks PMI Manufacturing Amerika Serikat bulan Februari yang diperkirakan akan sedikit menguat ke level 51,6 dibanding bulan sebelumnya. Namun di sisi lain, Indeks PMI Composite (gabungan antara manufaktur dan servis) Amerika Serikat pada bulan Februari diperkirakan turun ke level 50,4 dari bulan sebelumnya di level 52,7. Hal itu karena diprediksi terjadi stagnasi di sektor swasta dan terkontraksinya output jasa dibanding manufaktur yang cenderung stabil.
Ketiga, Data Non-Farm Payrolls Amerika Serikat bulan Februari akan dirilis pada akhir pekan ini. Diperkirakan dana Non Farm Payrolls akan turun ke level 133.000 dibanding bulan sebelumnya yang berada di level 143.000. Data ini menjadi salah satu data yang cukup penting bagi The Fed untuk membantu menilai kondisi ekonomi Amerika Serikat. “Jika dinilai masih cukup kuat maka hal tersebut berpotensi membuat The Fed untuk tetap mengambil langkah defensif dengan tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuannya di level yang sama seperti bulan sebelumnya.”
Sementara itu data-data dari domestik yang wajib dipantau, yakni Indeks PMI Manufaktur Indonesia bulan Februari dan tingkat inflasi Indonesia bulan Februari.
Pertama, Indeks PMI Manufaktur Indonesia bulan Februari diperkirakan akan tetap pada kondisi ekspansi dan bertumbuh ke level 52,3 dari bulan sebelumnya 51,9. Jika indeks manufaktur Indonesia bertumbuh maka menunjukkan bahwa roda perekonomian Indonesia masih dalam kondisi aman dan berpotensi menarik investor asing untuk kembali menanamkan modalnya di Indonesia.
Kedua, tingkat inflasi Indonesia bulan Februari diperkirakan akan kembali mengalami disinflasi ke level 0,41% yang merupakan efek lanjutan dari adanya kebijakan pemerintah dengan memberikan diskon tarif listrik sebesar 50% untuk pelanggan PLN.
Indri menandaskan berdasarkan sentimen yang ada saat ini, para pelaku pasar masih dihantui ketidakpastian pasar baik dari global maupun domestik. Selain itu, ia pun memprediksi bahwa aksi sell off besar-besaran masih berpotensi berlanjut pada pekan ini.
Ipot memprediksi IHSG akan bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah sepanjang pekan ini dalam rentang support 6.660 dan resistance 6.880.
Berkaca pada data global dan domestik di atas, Indri merekomendasikan saham dan reksadana berikut ini.
- Buy CMRY (Current Price 4.560, Entry 4.560 Target Price 4.760 (4,39%), Stop Loss 4.470 (-1,97%), Risk to Reward Ratio 1:2,2). Emiten ini mengalami penguatan sebesar 4,83% setelah perusahaan melaporkan laba bersih yang meningkat 22% secara year on year. Selain itu, candlestick CMRY membentuk marubozu berekor pada area support-nya diiringi dengan stochastic yang terjadi goldencross di area oversold-nya dan berdasarkan fibonacci-nya CMRY berpotensi mengalami penguatan hingga level 4760 sebagai puncak golden area-nya.
- Buy on Breakout LSIP (Current Price 975, Entry 985, Target Price 1.015 (3,05%), Stop Loss 965 (-2,03%), Risk to Reward Ratio 1:1,5). Emiten ini mencatatkan laba bersih senilai Rp1,48 Triliun atas kinerja tahun 2024. Secara teknikal LSIP sedang berusaha untuk rebound dari area support-nya saat ini dan stochastic oscillator sudah terjadi goldencross pada area oversold-nya.
- Buy on breakout ULTJ (Current Price 1.420, Entry 1.455, Target Price 1.530 (5,15%), Stop Loss 1.420 (-2,41%), Risk to Reward Ratio 1:2,1). Emiten ini membentuk candlestick hammer di level support-nya sebagai pertanda potensi pembalikan arah terjadi volume spike pada perdagangan ULTJ di akhir sesi pekan lalu dań stochastic oscillator mengkonfirmasi telah terjadi goldencross di area oversold-nya.
- Buy Reksa Dana Saham Premier ETF Indonesia Consumer (XIIC). Saat ini mayoritas masyarakat Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa. Sebagaimana diketahui bahwa mayoritas penduduk Indonesia ialah beragama Islam dan menjalankan ibadah puasa. Masyarakat Indonesia sendiri memiliki kecenderungan untuk lebih konsumtif sepanjang bulan Ramadan.
Hal ini tentu akan menjadi sentimen positif bagi emiten-emiten ritel dan consumer goods, sehingga cocok bagi para pelaku pasar untuk mengoleksi Power Fund Series dengan kode XIIC (Premier ETF Indonesia Consumer) yang sedang dalam kondisi terdiskon saat ini untuk dikoleksi setidaknya hingga bulan depan.
