Jakarta, TopBusiness – PT Trimegah Bangun Persada Tbk atau Harita Nickel membangun tanggung jawab sosial perusahaan, sejalan dengan penciptaan creating shared value (CSV). Dengan begitu, ada keseimbangan antara kesinambungan proses bisnis dengan keberlanjutan lingkungan dan sosial-ekonomi masyarakat.
Selanjutnya, perusahaan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan agar iniasiatif program corporate social responsibility (CSR) dapat tepat sasaran dan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi baik bagi perusahaan itu sendiri hingga masyarakat.
Saat sesi pendalaman atau tanya-jawab materi presentasi berjudul Roted in Community, Focused on Impact, Dindin Makinudin sebagai Community Affairs General Manager, menjelaskan seputar CSV yang melibatkan pemasok lokal kepada Dewan Juri TOP CSR Awards 2025.
“Terkait dengan creating shared value yang sedang kami kembangkan salah satunya tadi mengenai pemanfaatan slag nickel. Proses hilirisasi, itu memberikan semacam limbah yah yang kita kelola. Dan itu bermanfaat untuk masyarakat,” kata Dindin secara online melalui aplikasi zoom meeting, di Jakarta, hari ini.
Sehubungan untuk mewujudkan CSR, manajemen menggandeng sejumlah pemangku kepentingan. “Untuk kolaborasi, tentunya kami sudah melibatkan pemerintah daerah. Dan terus lagi perusahaan-perusahaan yang ada di sekitar, itu bagian dari networking yang tidak bisa terpisah dari satu sama dengan yang lain, termasuk penerima manfaatnya dari nelayan-nelayan yang ada di sekitar,” ucap Dindin.
Di kesempatan yang sama, CSR Compliance, Reporting & Budget Control SPT, Muhammad Yuda Pranata, mencotohkan soal keberadaan CSV dalam program CSR. “Salah satunya, CSV itu local supplier ada 65 pemasok lokal dengan 254 pekerja dan total transaksi di tahun 2025 Rp 150 miliar. Ini menghasilkan berbagai macam dampak positif, begitu yah, buat masyarakat yang menjadi pemasok lokal,” ujar Yuda.
Kemudian, perusahaan akan tertolong dengan adanya pemasok lokal lantaran pegawai dapat terpenuhi kebutuhan pangannya. “Dan membuat kami juga, terus terang, karena 20.000 lebih karyawan dari perusahaan di Pulau Obi yang butuh makan 3 kali sehari, dalam satu roster itu mungkin ada 16.000 lebih karyawan,” ungkap dia.
Dampak positifnya adalah perusahaan akan mendapatkan efisiensi biaya. “logistics costs-nya sangat tinggi, Pulau Obi itu terpencil. Dengan melibatkan local supplier ini, mereka akhirnya terlibat memproduksi sendiri terutama bahan-bahan makanan. Nah, ini menjadi nilai lebih bagi kami mendapatkan harga yang lebih murah dari pulau lain, kalau didatangkan dari Jawa, Sulawesi, begitu. Yang pertama. Yang kedua, lebih fresh. Nah ini dari sisi ikan, buah-buahan dan sayur-sayuran. Ini menjadi nilai bagi kami karena ini bagian dari bisnis proses juga memberikan konsumsi bagi karyawan,” papar Yuda.
Contoh berikutnya adalah soal limbah nickel. “Yang kedua slag nickel. Slag nickel ini kemudian menjadi manfaat dengan mengolah dan ada nilai konservasi serta reduce cost-nya, bila kita mendatangkan batako dari luar pulau. Ini bisa membantu kami untuk membuat jalan dari beton di area-area konstruksi, konstruksi kantor-kantor kami, termasuk program-program konservasi,” beber Yuda.
Mengomentari terkait dengan pemangku kepentingan, Yuda mengatakan, pihaknya terus berkolaborasi dengan sejumlah pemangku kepentingan dalam menjalankan program-program CSR.
“Kemudian keterlibatan stakeholders. Kita melibatkan Universitas Khairun Ternate dalam hal kajian. Dari sisi unit kewirausahaan komunitas (UNIK), kami melibatkan dinas kesehatan. Kemudian, ada juga TNI, Kodim untuk melibatkan masyarakat dalam hal penanaman padi, dan kedelai. Serta kolaborasi di internal dan tentu saja keterlibatan ini bukan hanya di pemerintah tapi berbagai stakeholder lain seperti akademisi, media juga, dan organisasi kemasyarakatan lain,” katanya.
