Jakarta, TopBusiness – Di balik hamparan hijau Desa Griya Asri, Kabupaten Purwakarta, tumbuh sebuah gerakan perubahan yang dipelopori oleh Yayasan Desa Bukit Indah. Yayasan ini hadir bukan hanya untuk menjaga lingkungan, tetapi juga untuk membangkitkan potensi tersembunyi masyarakat desa, terutama para ibu rumah tangga.
Selama ini, banyak kegiatan masyarakat seperti peternakan dan kerajinan lokal berjalan secara alami tanpa arah yang jelas. Melihat hal ini, Yayasan Desa Bukit Indah bergerak cepat membentuk wadah pemberdayaan yang terstruktur. Fokus utama mereka adalah pengembangan kesadaran lingkungan serta pelestarian budaya dan kearifan lokal.
“Yayasan Desa Bukit Indah merupakan yayasan yang memberdayakan untuk peningkatan kesadaran lingkungan dan pengembangan desa. Yayasan ini berada di desa Griya Asri Kabupaten Purwakarta,” ungkap Yusnaini selaku Pembina sekaligus Pendiri yayasan saat mengikuti wawancara penjurian TOP CSR Awards 2025 secara daring, Senin (7/4/2025).
“Nah di sana kami membina ibu-ibu, ibu rumah tangga kita coba untuk mulai belajar pemberdayaan lingkungan dan peningkatan budaya kearifan lokal setempat,” lanjutnya.
Dalam presentasinya berjudul ‘Pemberdayaan untuk Meningkatkan Kesadaran Lingkungan dan Pengembangan Desa’, Yusnaini memaparkan secara komprehensif tujuan dari Yayasan tersebut. Menurutnya, Yayasan ini lahir dari keresahan terhadap potensi desa yang selama ini terbengkalai. Banyak aktivitas warga, khususnya kaum perempuan, yang sebenarnya bernilai tinggi namun belum diberi ruang tumbuh.
“Kami mempunyai visi Mempertahankan Kearifan Lokal dengan Misinya Pengembangan kegiatan aktivitas desa menjadi atraksi wisata,” katanya dalam presentasi.
Tidak hanya ingin melestarikan budaya dan kebiasaan lama, yayasan justru ingin mengolahnya menjadi gerakan baru yang relevan dan berdampak nyata. Melalui pendekatan pemberdayaan, ibu-ibu rumah tangga dibina dalam satu kelompok yang terorganisir. Mereka diajak untuk menyusun program, merancang kegiatan, dan menjalankannya bersama-sama.
“Selama ini memang ibu-ibu itu sudah terbiasa dengan kegiatan ataupun salah satu kegiatan yang dijalankannya itu yang misalnya untuk peternakan tapi itu merupakan kegiatan yang belum tertata. dengan adanya Yayasan kitab isa memberdayakan ibu-ibu untuk mempertahankan kegiatan yang sudah dilaksanakan,” beber Yusnaini.
“Dan juga pengembangan aktivitas untuk menjadi kegiatan yang berkelanjutan, seperti mengangkat kearifan lokal desa, seperti pilah sampah,” imbuhnya.
Dalam kelompok ini, berbagai pelatihan mulai digelar, dari pengelolaan sampah berbasis lingkungan, pemanfaatan lahan terbuka hijau, hingga praktik berkebun untuk kebutuhan dapur sehari-hari. Aktivitas seperti menanam kangkung, jagung, cabai, hingga tomat, kini bukan hanya untuk konsumsi, tapi juga menjadi bagian dari solusi ekonomi rumah tangga.
“Biasanya mereka berkumpul sekedarnya tidak ada tujuan dan tidak ada apa yang akan diterapkan. Nah kami berusaha untuk memberdayakan masyarakat dalam satu wadah kelompok wanita tadi. Kita mengadakan berbagai kegiatan pelatihan dan edukasi tentang lingkungan kita. Untuk ibu-ibu itu memanfaatkan lahan terbuka hijau,” katanya.
“Lahan terbuka hijau itu bisa kita untuk menanam Kangkung, menanam Jagung, Cabe, Tomat dan yang kesehariannya itu juga bisa dipergunakan untuk ibu-ibu di dapur. Jadi untuk kebutuhan dapur mereka sudah terpenuhi dengan adanya kegiatan di lahan terbuka hijau itu,” sambung Yusnaini.
Tidak hanya itu, yayasan juga menggagas pengembangan potensi desa sebagai destinasi wisata. Ibu-ibu diajak mengembangkan kreativitas lewat budidaya lele, penanaman anggur, hingga pengolahan hasil kebun yang memiliki nilai jual. Semua kegiatan tersebut terintegrasi dalam wadah Kelompok Wanita Tani yang aktif berkegiatan di satu lahan terbuka hijau.
“Nah terus juga kita berusaha untuk mengangkat potensi di sekitar Desa yang ada seperti desa wisata. Kita mengajak ibu-ibu itu untuk lebih berkreativitas diantaranya ya budidaya lele, anggur dan semacamnya. Nah itu semuanya kita adakan dalam satu kelompok wanita tani dan dalam satu lahan terbuka hijau,” jelasnya.
Tiga Strategi Utama
Untuk mencapai visi tersebut, Yayasan Desa Bukit Indah merancang strategi bertahap yang berakar dari kehidupan sehari-hari warga. Strategi ini tidak hanya difokuskan pada hasil akhir, tetapi lebih pada membentuk proses pembelajaran yang mengedepankan kesadaran, kolaborasi, dan kemandirian. Ada tiga strategi utama yakni, Sosialisasi ke masyarakat sekitar, Menggali potensi yang ada di Masyarakat dan Mengadakan pendampingan.
Langkah awal dilakukan dengan mendekati masyarakat secara langsung. Tim yayasan turun ke lapangan, menjalin komunikasi personal, dan memperkenalkan gagasan-gagasan perubahan melalui pendekatan yang membumi. Salah satu tujuannya adalah mengubah cara pandang warga—dari sekadar “ikut kegiatan” menjadi benar-benar tahu tujuan dan manfaat dari setiap aktivitas yang dilakukan.
“Selama ini masyarakat menganggap mereka hanya menyelenggarakan kegiatan seperti biasa. Tapi kami berusaha supaya mereka tahu apa yang mereka lakukan, dan apa hasil yang bisa mereka capai,” terang Yusnaini.
Salah satu contoh perubahan nyata adalah edukasi tentang pengelolaan sampah. Sebelum adanya yayasan, warga tidak terbiasa memilah sampah, apalagi memahami konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Melalui pendekatan bertahap, ibu-ibu mulai memahami pentingnya pemilahan sampah organik. Sampah daun, misalnya, kini dikelola menjadi kompos yang bermanfaat untuk kebun mereka sendiri.
“Misal untuk pengelolaan sampah, mereka kan selama ini tidak tau istilahnya membedakan sampah itu 3R diapakan gitu. Jadi setelah dengan adanya Yayasan Desa Bukit Indah mereka boleh memilah, sampah daun kita bisa kelola menjadi kompos,” ujar Yusnaini.
Strategi berikutnya yakni menggali potensi warga dan mendampinginya. Selama ini banyak di antara mereka yang akhirnya menyadari bahwa mereka memiliki keterampilan yang bisa dikembangkan untuk membangun kepercayaan diri dan kemandirian.
“Sebelumnya masyarakatnya itu diam aja, setelah kami masuk mereka bisa lebih meningkatkan, menggali lagi apa yang ada dalam potensi dirinya itu sehingga bisa mengelola lingkungan dengan baik. (kemudian) Mengadakan juga training pelatihan dan semacam edukasi yang kita berikan kepada masyarakat sekitar dalam bentuk sebuah kelompok wanita tani,” pungkasnya.
