Mobil-mobil keluaran Astra International terus menderu di jalan raya seluruh Indonesia, demikian pula sepeda motor keluaran grup bisnis raksasa yang telah menjadi perusahaan publik itu. Juga, berbagai lini bisnis non-otomotif Astra International, terus membesar. Dan sebagai perusahaan besar, sudah tentu Astra International tidak menafikan pentingnya program pertanggungjawaban sosial perusahaan (CSR/corporate social responsibility).
Seperti apakah isi rinci dari CSR di perusahaan yang sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) tergolong saham big cap itu? Menjawab pertanyaan itu, marilah kita kini mendengar paparan panjang lebar dari Manajer ESR (Environment and Social Responsibility) Astra International, Wiwik Setyowati. Begini, dia menjelaskan bahwa program CSR di Astra International harus sejalan dengan portofolio bisnis. CSR, dijalankan oleh seluruh anak perusahaan; dalam hal itu, ada panduan dari induk perusahaan.
Lantas, seperti apakah panduan tersebut? Jawabannya, ada empat pilar CSR. Yakni, Astra Cerdas (pendidikan), Astra Kreatif (kewirausahaan), Astra Hijau (lingkungan), serta Astra Sehat (kesehatan).
Dan tidak kepalang tanggung, berjalannya CSR di Astra International punya kontrol dan evaluasi yang akurat. “Ada standar untuk evaluasi program CSR, yang diambil dari ISO 26000. Dan itu berlaku buat seluruh grup,” Wiwik menjelaskan.
Sudah Berdampak Nyata
Tatkala program CSR tersebut sudah dilingkupi oleh ISO 26000, seperti apa dampaknya bagi masyarakat? Baguskah? Marilah kita simak beberapa contoh perihal itu.
Sebelumnya, perlu dijelaskan bahwa saat ini program CSR Astra International berjalan di seluruh Indonesia. Pun, di bagian timur Indonesia seperti Papua, program tersebut digelar. “Hal ini sesuai dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang kini lebih memerhatikan perkembangan di bagian timur Indonesia,” kata Wiwik.
Selanjutnya, salah satu contoh dampak nyata program CSR itu, gamblang di Astra Kreatif. Begini, di program pembinaan untuk UKM itu, sudah ada 10.081 buah perusahaan yang dibina. Adapun tenaga kerja yang diserap oleh 10.081 UKM itu berjumlah signifikan, tepatnya di 61.385 orang. Dalam hal itu, UKM mendapatkan pelatihan, pendampingan, fasilitas pemasaran, serta fasilitas pembiayaan.
Masih dalam lingkup Astra Kreatif dan UKM, program Astra Start Up Challenge juga bergulir. Itu persisnya merupakan program pengembangan untuk UKM dan perusahaan rintisan (start up). Dari situ, diharapkan bahwa dua jenis perusahaan itu bisa tumbuh.
Lalu, marilah melongok dampak nyata dari program Astra Hijau. Nah, ternyata, dampak nyata dari program yang ini, tidaklah kalah memikat. Bayangkan, satu ketika di tahun 2008, Astra Hijau menggelindingkan program penanaman satu pohon untuk setiap karyawan. Walhasil, ada sekitar 132.000 pohon yang ditanam. Pun, tidak sekadar ditanam, ratusan ribu pohon itu juga dipelihara keberadaannya.
Dalam lingkup Astra Hijau, tercatat adanya sejumlah kerja sama dengan sejumlah pihak. Itu antara lain dengan Perhutani untuk menanam banyak pohon di kawasan Hambalang, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Adapun di program Astra Sehat, ada banyak posyandu (pos pelayanan terpadu) kesehatan yang telah didirikan. Rincinya, ada 1.500-an posyandu yang telah menangani 120.000-an pasien.
Astra Cerdas, tak kalah perkasa dalam hal dampaknya ke masyarakat. Begini, jumlah penerima beasiswa, sudah melebihi 200.000 siswa, tepatnya di 229.197 orang. Tidak berhenti di situ, guru binaan yang disambangi Astra Cerdas di angka 35.499 orang. Kemudian, jumlah sekolah binaan sudah menapak angka 15.353 buah; rumah pintar sebanyak 120 buah; fasilitas PAUD (pendidikan anak usia dini) di 120 buah; dan lain-lain.
Dari gencarnya program CSR Astra International itu di seluruh Indonesia, sudah tentu ada banyak manfaat yang dituai oleh grup bisnis terkemuka itu. Seperti apa saja? Marilah kita sekarang menyimak lagi penjelasan Wiwik Setyowati.
Dia mengatakan bahwa, untuk jangka panjang, sudah pasti program CSR berefek positif ke perusahaan. Semisal, perusahaan UKM yang dibina melalui Astra Kreatif, saat naik peringkat menjadi perusahaan yang lebih besar, pasti tetap loyal ke Astra International. “Ada juga kan, program CSR yang nge-link dengan lini bisnis Astra International,” kata dia.
Kisah menarik lain muncul berkaitan naiknya citra Astra International di mata masyarakat. Saat kerusuhan besar terjadi tahun 1998 di Jakarta, aset Astra International di kawasan Sunter, Jakarta Utara, tidak menjadi sasaran amuk masyarakat. Dan persepsi positif dari masyarakat ke Astra International, muncul dari berjalannya program CSR ke masyarakat Sunter. “Padahal, saat kerusuhan itu, kami tidak meminta perlindungan ke masyarakat,” Wiwik mengenang.
Program CSR di grup bisnis besar itu sudah tentu tidak sekadar dijalankan, tapi dirancang dengan cermat. Social mapping, dilakukan sebelum berjalannya suatu program CSR. FGD alias focus group discussion, dijalankan sebelumnya. Walhasil, tingkat ketepatan sasaran dari program CSR itu, lebih akurat. Dan tidak lupa, masukan dari masyarakat di bakal lokasi CSR, diperhatikan. “Semua itu untuk memastikan bahwa, nantinya, program CSR kami tepat sasaran dan bermanfaat. Dan semua hal itu berlaku untuk semua perusahaan di grup kami,” demikianlah penjelasan Wiwik.
Kini, Astra International punya 214.835 karyawan yang ada di 208 anak perusahaan. Nilai kapitalisasi pasar Astra International, kini melebihi Rp 300 triliun, persisnya di Rp 335 triliun. Sudah tentu, berjalannya empat pilar CSR tersebut, kian membentuk persepsi positif masyarakat ke salah satu grup bisnis raksasa di Indonesia itu, bukan? (Dhi)
Sumber Foto Aktivitas CSR Astra International: Astra International
