Jakarta, TopBusiness – Sebagai pemain utama di sektor pertambangan batu bara, nama besara PT Adaro Indonesia memang sudah mendunia. Secara bisnis, kiprah Adaro sudah sangat luar biasa.
Dan ternyata tak cuma itu, Adaro juga sangat berkomitmen tinggi dalam menjalankan bisnis keberlanjutan. Bahkan saat ini, Adaro sudah memiliki Adaro Green yang merupakan pilar energi terbarukan.
“Energi terbarukan ini untuk mendukung hilirisasi pengolahan mineral dan diversifikasi bauran energi Indonesia. Jadi Adaro mendukung pencapaian target Net Zero Emissions (NZE) dan memaksimalkan kinerja bisnis, makanya Adaro akan memisahkan (spin off) bisnis pilar Adaro Energy dengan pilar bisnis Adaro Minerals dan Adaro Green,” tutur CSR Dept Head Adaro Indonesia, Iwan Ridwan saat mengawali proses penjurian TOP CSR Awards 2025 yang digelar Majalah TopBusiness secara online, Rabu (17/4/2025).
Dalam penjurian kali ini, juga dihadiri oleh jajaran tim CSR lainnya, yakni Yuri Budhi Sujalmi – CSR Program Section Head, Aan Nurhadi – CSR Program Section Head, dan Diah Restu Lestari – CSR Section Head. Bahkan hadir pula kalangan Masyarakat yang menerima manfaat dari program CSR Adaro Indoesia yaitu Bumukti selaku Kepala Desa Padang Panjang dan Sokhidin sebagai Direktur BUMDes Maju Jaya Desa Padang Panjang.
Dalam hal ini, tandas Iwan, tentu saja program CSR yang digarap Adaro Indonesia dan bisnis keberlanjutan menjadi ujung tombaknya. Pasalnya, sebagai Perusahaan penambang batu bara tentu saja ada dampak yang ditimbulkan. Dan untuk mengatasi dampak itu, Perusahaan yang telah mengantongi TOP CSR Awards Bintang 5 tiga kali itu sudah banyak menggarap program CSR yang terarah dan terukur, sehingga manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
“Sejauh ini, dalam hal keberlanjutan ini, Adaro juga mendapat rating MSCI A yakni rating tertinggi dalam kelompok perusahaan tambang. Sementara dalam Green initiative sudah ada PLTS Apung Terbesar di Indonesia 618.000 kWh/tahun ini setara pengurangan emisi: 515 ton/tahun,” jelas Iwan.
Untuk diketahui, Adaro yang sudah mengantongi tujuh Proper Emas yaitu 2012, 2019, 2020, 2021, 2022, 2023, dan 2024 itu merupakan operasi penambangan batu bara terbesar dalam Grup Adaro, yang memproduksi produk batu bara utama grup, yakni Envirocoal.
Batu bara sub-bituminus ini dengan nilai kalor sedang dan kadar polutan yang amat rendah. Rentang nilai kalor Envirocoal adalah dari 4.000 kkal/kg sampai 5.000 kkal/kg dan merupakan salah satu batu bara paling bersih di pasar batu bara termal seaborne.
“Dalam menjalankan bisnis kami, Grup Adaro ini memfokuskan upayanya pada konsolidasi kekuatan dalam segala aspek bisnis, dengan tekad yang lebih kuat untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan berdasar Sustainability Report 2023,” ujarnya.
Program CSR
Dalam menggarap program CSR ini, kata Iwan, Adaro Indonesia memiliki Visi CSR yaitu “Mewujudkan masyarakat lingkar tambang yang mandiri, cerdas, sejahtera dalam lingkungan yang lestari.”
Program CSR tersebut memalui Adaro Nyalakan Perubahan. Program ini mengacu pada lima bidang utama yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan. Selain itu, program CSR Adaro Indonesia juga sudah berbasis ISO 26000 dan sesuai kebijakan ESDM dalam Kepmen 1824 tahun 2018.
“Sebagai salah satu perusahaan pertambangan dan energi terkemuka di Indonesia, Grup Adaro memahami tanggung jawabnya untuk membangun ekonomi bangsa, sekaligus menjaga keberlanjutan bumi ini bagi generasi mendatang,” katanya.
“Melalui Laporan Keberlanjutan ini, kami membawa Anda melalui perjalanan yang menggambarkan kesadaran kami terhadap perubahan iklim serta komitmen kami untuk memperkuat Adaro sebagai entitas yang berkelanjutan dan ramah lingkungan,” lanjut Iwan.
Pada tahun 2023 lalu, kata Iwan, Adaro menerbitkan pernyataan Net Zero Emission (NZE) yang berisi target transisi internal pada tahun 2030, dimana Adaro bertujuan untuk menghasilkan sekitar 50% dari total pendapatan dari bisnis batu bara nontermal dan mencapai net zero emission pada tahun 2060 atau lebih awal.
Adaro Indonesia juga mengusung konsep LCA dalam mengembangkan program CSR-nya. Adapun rekomendasi LCA-nya adalah, pertama, mengoptimalkan program reklamasi dan biodiversity untuk mengurangi potensi dampak akibat Global Warming Potential & land used change baik di internal perusahaan maupun pada masyarakat sekitar tambang.
Kedua, menanam tanaman fast growing, lokal daur panjang, dan tanaman hidrologi untuk meningkatkan biodiversitas serta kegiatan lain untuk berkontribusi menjawab hot spot. Dan ternyata, kata Iwan, kontribusi program inovasi sosial Adaro dapat menjawab Hot Spot itu.
Seperti aspek LCA dalam production, kata dia, pertama, terkait Konservasi dan Penanaman Tanaman 484 Endemik dalam upaya mengurangi emisi karbon. Langkah ini manfaatnya, kontribusi carbon stock 479,405 ton maupun dari sisi serapan emisi karbon CO2 equivalen sebesar 1.759,42 ton setara dengan Rp129.439.352 dan ada flora endemik yaitu ulin dan kasturi.
Kedua, edukasi vegetasi dengan Quick Respons Code (QR Code/barcode). Langkah ini bermanfaat pemberian edukasi vegetasi lokal termasuk tanaman buah-buahan kepada masyarakat.
Ketiga, Mini-WTP Solar Cell kapasitas1,5 lps. Dengan ini menjadi tersedianya air bersih untuk Masyarakat serta bisa menghemat pembelian air bersih sampai dengan Rp120/liter dan bisa menghemat penggunaan listrik sampai dengan Rp33.650,7/hari.
Keempat, IPAL UMKM. Program ini bermanfaat karena pengolahan limbah domestik UMKM melalui IPAL bisa menghemat pengeluaran sekitar Rp.337.500/bulan.
Dan kelima, TPS3R (pemilahan dan Vermicomposting). Langkah ini membuat pengelolaan sampah metode 3R agar tidak terjadinya penumpukan sampah yang bisa menimbulkan penyakit, dapat mengurangi sekitar 2 ton sampah Anorganik dan 10 ton sampah Organik setiap bulan.
Program Taman Wisata Menanti Laburan (TWML)
Program CSR unggulan dari Adaro Indonesia adalah Taman Wisata Menanti Laburan (TWML) yang berada di Desa Padang Panjang, Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.
Dalam program ini, jelas Iwan, untuk level kebaruan Radikal di Tingkat Kabupaten, yaitu pertama, mengubah pola pikir pragmatis tentang lahan tukar guling untuk menciptakan sustainable new circular economy bagi masyarakat di Desa Padang Panjang. Dan kedua, pola yang dikembangkan PT Adaro Indonesia merupakan hal yang baru diimplementasikan dan pertama kali di daerah operasi Perusahaan.
Beberapa kebaruan di TWML itu ada 14, yakni: Pemanfaatan lahan tukar guling untuk usaha desa; Konsep “Eco Sport Edutainment”; Identifikasi vegetasi dengan QR Code/Barcode; Pemanfaatan lahan karet untuk wisata; Embung Air kapasitas ± 17.500 m3; Mini WTP Solar Cell 1,5 lps, 2200 watt; IPAL UMKM kapasitas 1000 liter.
Lalu, TPS3R dikelola oleh Desa; Pemanfaatan ban bekas dan botol bekas untuk material bangunan & spot wisata; Outbound edukatif (Flying fox, sepeda air, jogging track, kolam renang); Promosi wisata berbasis media sosial facebook dan Instagram; Sirkuit Grass Track pertama dikelola oleh Desa; Akses sangat mudah dan biaya sangat murah; Berbasis kewirausahaan sosial.
Sementara manfaat program ini dilihat dari Compass Sustainability adalah:
–Dari sisi Nature: 484 tanaman berkontribusi pada carbon stock 479,405 ton, serapan emisi CO2 equivalen 1.759,42 ton dengan NEK Rp. 129.439.352; Mini WTP Solar Cell kapasitas 1,5 Lps 2200 Watt menghemat 60% operasional listrik untuk kebutuhan air bersih; IPAL Domestik kapasitas 1000 liter; TPS3R mampu mengelola sampah domestic 12 ton per bulan; Embung air kapasitas 17.500 m untuk air baku; Mendukung upaya adaptasi dan mitigasi bencana perubahan iklim; Peningkatan produktivitas 5 Hektar lahan tukar guling; Pemanfaatan botol bekas dan ban bekas untuk material wisata.
–Dari sisi Economic: Pendapatan Bumdes Rp 1.351.722.123; Pendapatan (Omset) UMKM Rp 456.815.602; Pendapatan Pokdarwis Rp 493.145.179; Kontribusi Pendapatan Asli Desa Rp 26.013.054; Rata-rata pendapatan masyarakat marginal Rp 500.000,-/minggu.
–Dari sisi Wellbeing: Aturan Pengelolaan usaha desa melalui Perdes No. 2/2021; Kemampuan Pengelolaan Wisata Desa oleh Bumdes Maju Jaya; Pengelolaan wisata berbasis Kewirausahaan Sosial dengan Konsep “Eco Sport Edutainment”; Rasa bangga masyarakat Padang Panjang; Kondusivitas masyarakat Padang Panjang (Zero Conflict); Pemberitaan positif tentang Desa Padang Panjang; 40 RTM mendapatkan Bansos dari hasil usaha Taman Wisata Menanti Laburan; Pengakuan sebagai Desa Mandiri dari Kemendes; Pengakuan sebagai desa wisata terbaik 6 Tingkat Nasional dari Kemendes; dan Pengakuan sebagai Desa Proklim Utama dari KLHK.
–Dari sisi Social: Keterlibatan 69 tenaga kerja lokal (31 orang merupakan masyarakat marginal); Perubahan positif pola pikir Bumdes pada pengelolaan usaha wisata desa; Peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat terkait dengan Konservasi Lingkungan; Pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat marginal; Alternatif spot wisata yang aksesnya mudah dan murah untuk “mental health” bagi Masyarakat.
“Dengan nilai SROI 2019 – 2023 sebesar 4,01. Artinya, setiap investasi Rp 1,- memperoleh benefit sebesar Rp 4,01 yang berarti nilai benefit Program Taman Wisata Menanti Laburan lebih besar daripada nilai investasinya (layak) Taman Wisata Menanti Laburan. Serta dengan IKM (Indeks Kepuasan Masyarakat): 89,15 atau Sangat baik,” tandas Iwan.
Selain itu, program CSR TWML juga mendukung program ASTA CITA, dengan point yang relevan. Di antaranya, pertama, Pembangunan Desa untuk pemerataan ekonomi, meningkatkan ekonomi pedesaan melalui BUMDes dan UMKM; kedua, Penguatan sumberdaya manusia, focus pada Pendidikan, kesehatan, kesetaraan gender dan pemberdayaan kelompok rentan; dan ketiga, Keberlanjutan Energi dan Sumber Daya Alam, mengelola SDA berkelanjutan sesuai amanah konstitusi.
Dalam penjurian kali ini, dalam menjawab pertanyaan Dewan Juri, Iwan juga dibantu oleh Yuri Budhi Sujalmi, Aan Nurhadi, dan Diah Restu Lestari yang memaparkan program CSR Adaro serta komitmen Adaro dalam mengusung program keberlanjutan itu.
