Jakarta, TopBusiness – PT Darma Henwa Tbk terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya. Salah satu bentuk nyata dari komitmen tersebut adalah melalui program CSR unggulan bertajuk Walidah (Warga Lingkar Tambang Berdaya), sebuah inisiatif strategis untuk mendorong kemandirian ekonomi dan sosial masyarakat lingkar tambang.
Program Walidah dirancang sebagai langkah proaktif dalam pemberdayaan masyarakat, dengan fokus pada tiga pilar utama: pemberdayaan warga lokal, peningkatan kapasitas, dan penciptaan kemandirian. Ketiganya saling terintegrasi dan dilaksanakan dengan tetap menghargai nilai-nilai adat serta budaya setempat.
“Visi kita memberdayakan masyarakat lingkar tambang agar mandiri dan sejahtera. Jadi, fokusnya adalah meningkatkan ekonomi masyarakat di sekitar tambang yang tidak bekerja langsung di area tambang melalui berbagai program,” kata Dwi Handoko, External Relations Specialist PT Darma Henwa Tbk saat mengikuti wawancara penjurian TOP CSR Awards 2025 secara daring, Selasa (29/4/2025).
“Misi kami adalah memberdayakan sumber daya lokal dengan tetap menghormati nilai-nilai adat dan budaya setempat. Kami juga mempertimbangkan potensi lokal. Misalnya, ada komoditas ikan yang kami coba kembangkan, tetapi ternyata tidak cocok secara ekonomi dan musim,” lanjutnya mengawali presentasi.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Supten HCM Site ACP, Edy Mulyono, Industrial and External Relation Site ACP, Hadi, External Site BCP, Alan, Industrial and External Relation Ikhsan dan Spv Industrial and Employee Relation, Azwin.
Masih menurut Handoko, pihaknya ingin mendorong warga yang tidak bekerja di tambang untuk tetap memiliki sumber penghidupan yang layak melalui kegiatan produktif seperti peternakan, pertanian, dan perikanan yang terintegrasi dalam satu program Walidah.
“Program ini dinamai “Walidah”, singkatan dari Warga Lingkar Tambang Berdaya. Program ini bertujuan memberikan dukungan berkelanjutan agar warga bisa berperan aktif dalam pembangunan komunitas,” tegasnya.
“Fokus utama program ini adalah peningkatan kapasitas, seperti pengembangan keterampilan dan pengetahuan warga. Program ini mencakup sektor peternakan kambing, pertanian kopi dan jeruk. Evaluasi dan pemantauan dilakukan secara rutin,” lanjutnya.
Sebagai upaya pemberdayaan Masyarakat, lanjut Handoko, perusahaan membentuk kelompok-kelompok tani dan peternak di beberapa desa. Setiap kelompok terdiri dari 3 hingga 4 orang, dengan pembagian tugas yang jelas, seperti pengelolaan pemasaran dan perawatan ternak maupun tanaman.
“Kami membentuk kelompok-kelompok tani dan peternak di beberapa desa. Tiap kelompok terdiri dari 3 hingga 4 orang, dengan tugas yang dibagi seperti pemasaran dan perawatan,” bebernya.
Handoko menegaskan, inisiatif ini dilaksanakan di delapan desa yang berada dalam lingkar tambang, yaitu Muara Asam-Asam, Asrimulia, Asam-Asam, Simangkot Sungai Baru, Panansari, Salaman, Riamadungan, dan Kintapura.
“Ada 8 desa yang masuk dalam lingkar tambang: Muara Asam-Asam, Asrimulia, Asam-Asam, Simangkot Sungai Baru, Panansari, Salaman, Riamadungan, dan Kintapura,” tambahnya.
Hasil nyata dari Walidah terlihat dalam berbagai sektor usaha warga. Di bidang peternakan, kelompok seperti Peternak Kambing Etawa kini berkembang pesat di Desa Simpang Empat Sungai Baru, Kintap, dan Panansari. Usaha ini tak hanya berfokus pada kambing, tetapi juga merambah perikanan dan sayuran.
“Jadi peternak kambing kita ada 3 tempat. Mulai Desa Simpang empat, Sungai Baru, Desa Kintap, dan Desa Panansari. Secara perkembangan cukup baik,” paparnya.
“Sekali panen, hasil dari sawi, lombok, dan sayur-mayur lainnya cukup melimpah,” lanjutnya.
Manfaat dan Dampak Program Walidah
Dalam presentasinya berjudul Program Walidah (Warga Lingkar Tambang Berdaya) Dwi Handoko memaparkan secara komprehensif terkait dampak manfaat program tersebut terhadap pemberdayaan Masyarakat, baik dari segi sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Warga yang sebelumnya tidak memiliki akses terhadap pelatihan atau permodalan kini mampu membangun dan menjalankan usaha sendiri.
“Alhamdulillah, masyarakat mulai terbuka pikirannya, pola pikirnya sudah bagus, masyarakat sudah terbuka bagaimana cara mengelola hasil ternak dan hasil panen agar bernilai jual,” bebernya.
Dampak sosial dari program terlihat melalui meningkatnya partisipasi warga dalam pembangunan komunitas, serta peningkatan pengetahuan dan kapasitas individu. Program ini juga menjadi ruang baru bagi pemuda dan perempuan untuk turut aktif mengembangkan usaha keluarga dan desa.
Secara ekonomi, warga kini merasakan peningkatan pendapatan yang signifikan. “Dari yang tidak bisa menghasilkan, akhirnya ada pemasukan. Masyarakat sudah mulai terbiasa dengan kegiatan produktif,” tambah Dwi Handoko.
Peningkatan produktivitas ini diperkuat dengan akses terhadap sarana produksi seperti pupuk, benih, dan pestisida, yang disalurkan langsung kepada kelompok tani.
Dampak lingkungan juga tak luput dari perhatian. Banyak warga kini menerapkan prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan. “Pupuk dari kotoran ternak kita manfaatkan kembali, jadi tidak buang-buang. Lingkungan pun jadi lebih bersih,” tegasnya.
Manfaat bagi perusahaan pun signifikan. Hubungan sosial yang harmonis dengan warga setempat mengurangi potensi konflik dan meningkatkan citra perusahaan. “Kami melihat ini sebagai investasi jangka panjang dalam hubungan sosial dan keberlanjutan bisnis,” jelasnya.
Di tengah persaingan industri yang ketat, program Walidah memberikan nilai tambah yang tidak hanya membedakan perusahaan, tetapi juga memperkuat fondasi sosial di wilayah operasionalnya.
Tak hanya berdampak lokal, program ini juga sejalan dengan Asta Cita ke-3 dan ke-4, yakni menciptakan lapangan kerja yang berkualitas dan penguatan SDM. Selain itu, Walidah mendukung Program Prioritas Kabinet Merah Putih pada poin ke-12, melalui distribusi pupuk dan benih langsung ke petani.
Dengan keberlanjutan sebagai prinsip dasar, Walidah membuktikan bahwa sinergi antara dunia usaha dan masyarakat dapat menjadi katalisator pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
