TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Bos PLN: Minta Dukungan Pendanaan Murah untuk Proyek Pembangkit Panas Bumi

Albarsyah
15 May 2025 | 10:45
rubrik: BUMN
Energi  Panas Bumi RI Bakal Terbesar Kedua Dunia

Ilustrasi Energi Panas Bumi. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo meminta dukungan Komisi XII DPR untuk percepatan pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), termasuk mendorong pendanaan dengan bunga rendah.

Hal itu dia sampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (14/5/2025) sore.

Adapun, rapat memang membahas strategi percepatan pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi di PLN. “Kami membutuhkan dukungan terutama dari Komisi XII DPR RI dalam rangka percepatan pengembangan panas bumi, ini program kolaborasi perencanaan pengembangan panas bumi antara PLN dengan pemerintah, kemudian juga [agar] adanya fasilitas pendanaan berbunga rendah,” kata Darmawan.

Menurutnya, pendanaan bunga rendah dibutuhkan lantaran biaya belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk proyek PLTP semua dibayar di muka. Menurut Darmawan, insentif berupa pendanaan bunga rendah tak hanya dibutuhkan PLN, tetapi juga partner-partner perusahaan.

Selain itu, Dirinya juga meminta agar DPR mendukung agar pemerintah dapat memasukkan kawasan pengembangan panas bumi terpilih dalam proyek strategis nasional (PSN).

Darmawan mengatakan bahwa pembangunan PLTP membutuhkan waktu sekitar 6-13 tahun dengan kebutuhan investasi 4-5 kali lebih besar dibandingkan pembangkit gas.

Dia menyebut, investasi untuk pembangkit listrik berbahan baku gas hanya sekitar US$500 juta per gigawatt (GW), sedangkan untuk panas bumi, investasi yang dibutuhkan mencapai sekitar US$2,7 miliar per GW. “Jadi lebih mahal memang investasinya, tetapi biaya operasinya itu jauh lebih murah,” imbuh Darmawan.

Bangun PLTP 5,1 GW hingga 2034

Adapun, dalam draf Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pembangunan PLTP direncanakan dapat mencapai 5,1 GW hingga 2034 mendatang.

Darmawan mengatakan, pembangunan PLTP berkapasitas 5,1 GW itu akan didominasi oleh produsen listrik swasta (independent power producer/IPP). “Dalam hal ini porsinya PLN hanyalah 11%, kemudian porsi dari pengembang swasta ini 89% sekitar 4,5 GW,” ujar Darmawan.

BACA JUGA:   Internet Biznet Masuk ke Purwokerto

Dia menjelaskan, dalam mengembangkan PLTP sebesar 5,1 GW, terdapat tahapan yang harus dilalui, mulai dari eksplorasi hingga operasi. Dia memerinci pengembangan PLTP memiliki tiga tahapan utama, yakni resources, reserve, dan production.

Darmawan mengatakan bahwa dalam prosesnya, PLN menghadapi berbagai tantangan terkait eksplorasi, perizinan, kehutanan, serta dinamika sosial di lapangan.

Namun, risiko terbesar adalah pada tahap mengubah potensi sumber daya (resource) menjadi cadangan (reserve). Pasalnya, pada proses ini dilakukan pengeboran untuk mengukur seberapa panas suhu dari uap.

“Tentu saja mengubah resources menjadi reserve inilah resikonya yang paling tinggi karena exploration drilling itu banyak sekali [risiko], juga tingkat suksesnya hanya sekitar 30%-40%, jadi 60%-nya akan gagal,” jelas Darmawan.

Tags: pln
Previous Post

Trafik Tol Naik Selama Libur Waisak, Hutama Karya Dorong Akses Wisata Sumatra

Next Post

Tambang Ilegal Marak, TINS: Harus Segera Ditertibkan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR