Jakarta, TopBusiness – PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menyambut positif penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 21 Mei 2025. Kebijakan itu menjadi sinyal positif yang akan dimaksimalkan Perseroan untuk menggenjot penjualan properti
“Kebijakan ini memberikan angin segar bagi industri properti, karena turut mendorong peningkatan daya beli masyarakat dan membuka peluang lebih besar untuk mendorong transaksi, baik di segmen residensial maupun komersial,” ujar Corporate Secretary APLN, Justini Omas dalam keterangan persnya, Jumat (23/5/2025).
Optimisme ini turut diperkuat oleh proyeksi pertumbuhan sektor properti nasional, di mana Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) yang menyatakan bahwa investasi di sektor properti residensial dan komersial diperkirakan akan tumbuh sebesar 15–18 persen sepanjang 2025.
Kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga diprediksi meningkat dari 10 persen pada tahun 2024 menjadi 11,5 persen di tahun ini.
Di sisi lain, permintaan terhadap Kredit Pemilikan Rumah (KPR) diproyeksikan tumbuh hingga 20 persen secara tahunan (year on year), didorong oleh suku bunga yang lebih kompetitif, kemudahan akses pembiayaan, serta berbagai insentif pemerintah.
Justin juga mengungkapkan bahwa APLN dalam empat bulan pertama tahun ini atau hingga April 2025 mencatatkan marketing sales sebelum Pajak Pertambahan Nilai (PPN) senilai Rp445 miliar.
Marketing sales APLN selama periode April 2025 tersebut berasal dari proyek Podomoro Park Bandung, diikuti oleh Bukit Podomoro Jakarta dan Podomoro City Deli Medan.
Capaian marketing sales itu mencerminkan resiliensi dan daya saing proyek-proyek APLN di tengah dinamika pasar properti yang cenderung melambat selama bulan Ramadan, namun APLN tetap berhasil mempertahankan momentum penjualan.
“Capaian ini menunjukkan bahwa strategi kami dalam merancang proyek yang sesuai kebutuhan pasar, baik sebagai hunian maupun instrumen investasi berhasil menjawab permintaan konsumen, terutama di kawasan yang berkembang pesat seperti Bandung, Medan, dan Karawang,” kata Justin.
Diketahui pada kuartal I 2025, APLN masih mencatatkan rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp62,08 miliar. Meski demikian, rugi tersebut telah mengalami penyusutan sebanyak 50,92 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp126,49 miliar.
Penyusutan rugi tersebut didukung oleh kenaikan penjualan dan pendapatan usaha per Maret 2025 yang naik 22,68 persen menjadi Rp874,49 miliar dari Rp712,79 miliar.
Kenaikan itu didukung oleh pos bagian laba neto entitas asosiasi yang naik menjadi Rp22,33 miliar dan keuntungan lainnya neto sebesar Rp14,26 miliar.
