Jakarta, TopBusiness – ‘Diseminasi Olah Limbah Peternakan dan Sampah Organik Basis Teknologi Konsorsium Mikroorganisme
Lokal di Kabupaten Gianyar’ merupakan tema yang diangkat PT Bank Sinarmas Tbk. (IDX: BSIM) dalam sesi penjurian TOP CSR Awards 2025. Sesi penilaian oleh dewan juri ini dijalani Bank Sinarmas seiring perusahaan yang menjadi salah satu kandidat penerima penghargaan bergengsi yang diselenggarakan Majalah TopBusiness.
Sekilas mengenai Bank Sinarmas, perusahaan perbankan ini didirikan pada tahun 1989. Perusahaan ini terus melebarkan sayap, salah satunya di tahun 2009 di mana perusahaan membentuk bisnis syariah.
Dan di tahun 2010, Bank Sinarmas resmi menjadi perusahaan terbuka. Hal ini seperti diungkap Retno Tri Wulandari, Corporate Secretary PT Bank Sinarmas Tbk., dalam sesi penjurian yang digelar secara daring, Rabu (28/5/2025).
Program CSR Unggulan
Bicara tema yang diangkat dan kaitannya dengan CSR yang dijalankan, Retno mengungkap bahwasanya aktivitas CSR yang dijalankan perusahaan dilatarbelakangi oleh pengambilan dan penggunaan sumber daya alam secara berlebihan.
“Kenapa (hal tersebut) menjadi latar belakang, karena hal ini termasuk yang kita lihat (dari) berbagai inovasi dan rekayasa teknologi yang saat ini telah terjadi di lingkungan, dan kita lihat (juga) itu sudah dilakukan dalam jangka panjang,” ujar dia.
“Kita melihat itu sebagai salah satu latar belakang yang mungkin kita bisa bantu untuk lingkungan (menjadi) lebih baik. Salah satunya juga kita bisa lihat dari akumulasi gaya hidup, masyarakat yang sudah mulai instan, penggunaan bahan kimia yang sintetis sudah berlebihan, juga konsumsi produk kemasan sekali pakai itu juga menurut kami berdampak kepada rantai makanan dan mempengaruhi kualitas kesehatan manusia saat ini,” lanjutnya.
Tidak sampai di situ, semakin meningkatnya pertambahan penduduk yang diikuti dengan perkembangan ekonomi dan industri yang mengakibatkan terjadinya degradasi kualitas, alih fungsi dan segmentasi lahan pertanian pangan juga menjadi latar belakang lain dari CSR yang dijalankan Bank Sinarmas.
“Di sini kami salah satu yang termasuk menjadi latar belakang program kami, karena kami melihat sebanyak 72% tanah-tanah pertanian di Indonesia itu saat ini kekurangan bahan organik. Lahan kritis juga, akibat penggunaan bahan kimia yang berlebihan, dan terjadi maraknya konversi lahan hijau dan pertanian untuk permukiman, penurunan produksi itu juga menjadi faktor yang menyebabkan salah satunya krisis air juga sebagai latar belakang yang saat ini sulit diatasi,” tandas Retno.
Berangkat dari latar belakang tersebut, dalam program CSR-nya Bank Sinarmas lebih menekankan pentingnya penggunaan produk organik dan media tanam dari sampah organik maupun limbah peternakan untuk memulihkan kesuburan tanah, melindungi ekosistem sawah dan menghasilkan pangan yang bisa menjadi lebih sehat.
Nama program CSR Bank Sinarmas sendiri persis seperti tema yang diangkat, yakni Diseminasi Olah Limbah Peternakan dan Sampah Organik Basis Teknologi Konsorsium Mikroorganisme Lokal di Kabupaten Gianyar.
Program CSR ini merupakan rangkaian Program Solusi Berkelanjutan berbasis pemberdayaan masyarakat dengan penggunaan teknologi ramah lingkungan dan pemanfaatan limbah peternakan dan sampah organic untuk mendukung usaha ketahanan pangan desa.
Program ini memiliki keterkaitan dengan Asta Cita Nomor 2, tentang Mendorong kemandirian bangsa melalui penerapan konsep ekologi sirkular di bidang pertanian dan peternakan untuk pangan sehat yang berkelanjutan.
Kemudian Asta Cita Nomor 3, yakni mendorong kewirausahaan dengan bahan baku limbah peternakan & sampah organic dan teknik fermentasi alami. Asta Cita Nomor 4 yakni Memperkuat Pembangunan kompetensi SDM dengan pelatihan tata kelola sampah mandiri berbasis teknologi yang ramah lingkungan dalam waktu singkat (1 hari).
Asta Cita Nomor 6, yakni membangun desa dari kegiatan pemanfaatan sampah organic dan limbah peternakan untuk pertanian dan peternakan (mandiri pupuk dan pakan). Asta Cita Nomor 8 terkait Penerapan Tri Hita Karana memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya.
Selain itu, program CSR ini juga memiliki keterkaitan dengan Program Prioritas Kabinet Merah Putih 2024-2029, antara lain Nomor 1, Nomor 8, Nomor 11, Nomor 12, dan Nomor 14.
Dari program CSR yang dijalankan, dampak internal yang diperoleh perusahaan, yakni naiknya kompetensi karyawan cabang Bank Sinarmas untuk mengadakan kegiatan literasi keuangan, adanya keterlibatan karyawan untuk memilih produk UMKM yang lebih ramah lingkungan, serta tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap Image Bank Sinarmas
Sementara dampak eksternalnya, pertama bagi lingkungan, yakni naiknya populasi kunang-kunang sebagai bioindicator pertanian sehat, terjaganya unsur hara tanah dan kualitas air maupun udara di sekitar subak dan kebun Desa.
Bagi masyarakat, yakni kenaikan panen padi dengan penanaman metode sehat sebesar 50%, perbaikan kualitas panen mendorong terbukanya akses pasar bahan pangan organik langsung ke konsumen. Sementara bagi Pemerintah Kabupaten Gianyar, yaitu memiliki percontohan Desa Wisata basis pengelolaan sampah mandiri TPS3R (Desa Taro).
“Tujuan program kami ini adalah untuk melakukan diseminasi aplikasi olah limbah peternakan dan sampah organik dengan menggunakan teknologi konsorsium Teknologi Konsorsium Mikroorganisme Lokal Biotaro dan menggunakan ekonomi sirkular untuk pertanian pangan sehat,” ungkap Retno.
“Juga tujuannya untuk program ini melibatkan peran aktif masyarakat tentunya dalam sirkulasi ekonomi melalui kegiatan pemberdayaan untuk membangun ketahanan pangan sehat yang ramah lingkungan melalui optimalisasi sumber daya yang ada di lingkungan tersebut,” sambungnya.
Untuk diketahui, berkaitan dengan penerapan optimalisasi olah limbah peternakan, kegiatan ini sejatinya telah dilakukan Bank Sinamas sejak tahun 2020 di Kelompok Tani Desa Sukajaya, Jawa Barat.
“Dan di tahun 2020 sampai 2021 kita sudah melihat progresnya dan kemajuannya di Sukajaya itu yang sangat melimpah limbah kotoran ternak itu sudah kita bisa atasi dengan menurunkan gas metan di sana, (kemudian) kita beralih ke Desa Taro di Denpasar Bali. Di sana juga kita menerapkan olah limbah peternakan dari lembu putih yang ada di Desa Taro, kita usung dengan Program Pengolahan Limbah Peternakan Lembu Putih dengan model pengelolaan sampah organic di desa tersebut di Desa Taro,” kata Retno.
Selanjutnya di tahun 2024, diperluas lagi penerapannya ke Desa Petak, Kabupaten Gianyar yang juga masih di Provinsi Bali. Di desa ini Bank Sinarmas juga melakukan aplikasi olah limbah peternakan dan sampah organik tetap dengan basis teknologi konsorsium Teknologi Konsorsium Mikroorganisme Lokal Biotaro.
Editor: Busthomi
