Jakarta, TopBusiness – Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjalin kemitraan strategis dengan Indonesia Investment Authority (INA) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group).
Kemitraan tersebut untuk membangun pabrik chlor alkali–ethylene dichloride (CA-EDC) dengan nilai investasi mencapai US$ 800 juta atau setara Rp 13 triliun.
Presiden Direktur Chandra Asri Group, Erwin Ciputra mengungkapkan kerja sama ini bertujuan memperkuat ketahanan industri nasional, menurunkan ketergantungan terhadap impor bahan baku kimia hulu, serta mempercepat agenda hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi jangka panjang.
Proyek ini menjadi tonggak penting bagi pihaknya dalam mendukung kemandirian industri nasional.
“Melalui kolaborasi ini kami membangun fondasi yang kuat untuk mendorong pengembangan industri yang berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (23/6/2025).
Menurut Erwin, produksi ethylene dichloride dari pabrik ini ditargetkan untuk ekspor dan berpotensi menghasilkan devisa hingga Rp 5 triliun per tahun.
Di sisi lain, pengoperasian pabrik juga diperkirakan mampu mengurangi impor soda kaustik dengan efisiensi hingga Rp4,9 triliun setiap tahun.
Nantinya pabrik ini bakal dikelola oleh PT Chandra Asri Alkali (CAA), anak perusahaan Chandra Asri Group.
Fase pertama proyek mencakup kapasitas produksi 400.000 ton soda kaustik padat (setara 827.000 ton cair) dan 500.000 ton ethylene dichloride.
Tahap selanjutnya akan fokus pada peningkatan kapasitas Chlor-Alkali dan produk turunan klorin.
Sementara itu Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir meyakini investasi yang sedang digarap akan meningkatkan ketahanan nasional.
“Investasi ini memperkuat ketahanan nasional dengan mengurangi ketergantungan terhadap impor produk penting seperti soda kaustik dan ethylene dichloride.”
“Di Danantara Indonesia, kami menyambut baik kemitraan global yang memiliki visi yang sama untuk membangun ekosistem industri yang tangguh dan bernilai tinggi di tengah dinamika ekonomi Asia,” terangnya.
Sementara itu, CEO INA Ridha Wirakusumah menambahkan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan mandat investasi jangka panjang pihaknya.
“Kolaborasi ini memperkuat daya saing dan ketahanan Indonesia di kancah ekonomi global,” tuturnya.
