TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Gelar RUPST, BEI Pastikan Transaksi Short Selling Tak Berubah hingga September Sebab Ada Perang

Busthomi
25 June 2025 | 15:02
rubrik: Capital Market
Gelar RUPST, BEI Pastikan Transaksi Short Selling Tak Berubah hingga September Sebab Ada Perang

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memastikan untuk menunda pelaksanaan transaksi short selling oleh perusahaan efek sampai dengan tanggal 26 September 2025 nanti.

Langkah ini kembali diambil karena BEI melihat masih banyak sentiment negative terhadap kondisi pasar. Salah satunya karena adanya isu geopolitik yang memanas di Timur Tengah dengan ditandai perang Israel-Iran.

“Alasannya karena kita lihat momentum kondisi di pasar (modal). Sekarang ini begitu tinggi ketidakpastian. Terutama adanya gejolak geopolitik global. Sehingga BEI kembali menunda hingga September,” ujar Direktur BEI, Jeffrey Hendrik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan BEI, di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (25/6/2025).

Sebelumnya, BEI telah mencabut seluruh Efek yang dapat ditransaksikan secara Short Selling dari Daftar Efek Short Selling sebagaimana tercantum dalam butir 1.f. pengumuman PT Bursa Efek Indonesia No. Peng-00055/BEI.POP/04-2025 tanggal 25 Maret 2025 tentang Efek yang dapat Ditransaksikan dan Dijaminkan dalam Rangka Transaksi Margin dan Short Selling.

Kemudian, BEI juga tidak menerbitkan daftar Efek Short Selling sebagaimana diatur dalam ketentuan III. Peraturan Bursa Nomor II-H tentang Persyaratan dan Perdagangan Efek dalam Transaksi Marjin dan Transaksi Short Selling sampai dengan tanggal 26 September 2025.

“Dengan kondisi uncertainly saat ini, investor tidak bisa menganalisis secara objektif. Makanya perlu wisdom. Kita Kembali tunda hingga September. Jadi kita kembali tunda transaksi Short Selling itu,” jelasnya.

Sementara itu, RUPST BEI sendiri menyepakati beberapa agenda, yaitu, pertama, persetujuan atas Laporan Tahunan termasuk Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris Perseroan dan Pengesahan Laporan Keuangan Perseroan untuk Tahun Buku 2024, dan kedua Penunjukan Akuntan Publik Perseroan untuk Tahun Buku 2025.

“RUPST 2025 BEI dihadiri 93 Pemegang Saham atau 100% dari jumlah Pemegang Saham yang memiliki hak suara,” sebut Direktur Utama BEI, Iman Rachman.

BACA JUGA:   Pasar Modal Bangun Aksesibilitas Jembatan di Lampung 

Kiprah 2024

BEI Bersama SRO juga telah berhasil meluncurkan dan melakukan penyempurnaan sejumlah produk dan layanan untuk menjaga momentum pertumbuhan pasar modal Indonesia.

Inisiatif yang terkait dengan produk, yaitu telah diluncurkannya sejumlah indeks acuan investasi dan juga Single Stock Futures (SSF) yang rilis pada 12 November 2024 lalu. Selain itu, terdapat inisiatif terkait pelindungan investor, peningkatan likuiditas perdagangan, peluncuran sejumlah indeks acuan investasi, hingga upaya penguatan sinergi dengan bursa global.

Hingga akhir tahun 2024, BEI berhasil mencatatkan 41 saham baru, 144 emisi Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) baru, 15 saham tambahan hasil konversi Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan 81 saham tambahan hasil konversi Waran, dengan total penghimpunan dana atas seluruh Efek tersebut mencapai Rp193 triliun.

“Adapun kontribusi penghimpunan dana yang berasal dari 41 saham baru tersebut sebesar Rp14,4 triliun,” katanya.

Sedangkan, kontribusi terbesar penghimpunan dana sepanjang tahun 2024 berasal dari emisi EBUS sebesar Rp143,6 triliun. Momentum pertumbuhan tersebut masih berlanjut pada 2025 ini dengan jumlah pencatatan saham baru sampai dengan akhir Mei 2025 sebanyak 14 saham baru.

Dari total saham baru tersebut 3 di antaranya merupakan Lighthouse IPO yang merupakan IPO dengan kriteria kapitalisasi pasar minimal Rp3 triliun, serta free float 15% atau nilai kapitalisasi pasar free float lebih dari Rp700 miliar.

“Sampai dengan Mei 2025, secara keseluruhan jumlah perusahaan tercatat saham telah mencapai 956 dan secara regional BEI menduduki posisi ke-2 di ASEAN untuk total perusahaan tercatat saham, serta menjadi Bursa dengan pertumbuhan kedua tertinggi meningkat sebesar 1,38% secara global,” jelas Iman.

Dari sisi permintaan, pada akhir 2024 total jumlah investor di pasar modal Indonesia mencapai 14,8 juta atau mengalami peningkatan sebesar 1,7 juta single investor identification (SID).

BACA JUGA:   Di Masa Pandemi, Penjualan Unilever Capai Rp32,4 T

Partisipasi investor ritel pun masih terjaga selama 2024 dengan dominasi jumlah investor muda dari generasi milenial dan Z. Hal tersebut mencerminkan keyakinan investor terhadap pasar modal Indonesia masih cukup terjaga meski dihadapkan pada situasi ekonomi global dan domestik yang penuh ketidakpastian.

Bersama Bank Indonesia (BI) dan sejumlah bank pelaku pasar, BEI telah secara resmi meluncurkan Central Counterparty (CCP) untuk transaksi di pasar uang dan valuta asing pada 30 September 2024.

Inisiatif ini menandai langkah strategis dalam memperkuat infrastruktur pasar keuangan domestik guna meningkatkan efisiensi, mitigasi risiko, dan mendukung stabilitas sistem keuangan nasional.

BEI juga berupaya mengoptimalkan pemanfaatan instrumen keuangan yang telah diluncurkan dengan tujuan mencapai keseimbangan sumber pendapatan sekaligus menjaga efektivitas biaya pemeliharaan sistem perdagangan yang terus meningkat.

“Tahun 2024 merupakan momentum penting dengan diluncurkannya versi terbaru Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) yang menghadirkan sistem perdagangan yang lebih baik beserta fitur-fitur baru untuk meningkatkan efektivitas dan akurasi transaksi,” jelas dia.

Selanjutnya, pada Maret 2025 BEI meluncurkan fitur SPPA Repo sebagai bagian dari strategi penguatan peran di pasar keuangan nasional. Transaksi instrumen Exchange-Traded Fund (ETF) juga menunjukkan pertumbuhan yang substansial dari sebesar Rp135 juta pada tahun 2024, kini telah melampaui target tahunan dengan pendapatan sebesar Rp233 juta sampai dengan Mei 2025, melebihi estimasi awal sebesar Rp92 juta.

Sementara itu, pertumbuhan transaksi Structured Warrant mencatat kinerja stabil sebesar Rp497 juta pada tahun 2024 dan telah mencapai Rp232 juta hingga Mei 2025 dari target tahunan sejumlah Rp355 juta. Perdagangan karbon melalui IDXCarbon juga mulai menunjukkan kontribusi yang positif.

Dari pencapaian transaksi sebesar Rp40 juta pada tahun 2024, kini telah tumbuh menjadi sebesar Rp55 juta hanya dalam lima bulan pertama 2025, menempatkan IDXCarbon di jalur yang baik untuk mencapai target transaksi sebesar Rp100 juta.

BACA JUGA:   Pilih Saham Ini Saat IHSG Lanjutkan Koreksi

Inovasi pada perdagangan produk derivatif juga terus dilakukan oleh BEI dengan meluncurkan Kontrak Berjangka Indeks Asing pada Februari lalu. Sampai dengan saat ini, jumlah transaksi derivatif mencapai rata-rata 86 kontrak per hari dengan jumlah investor yang terus bertambah hingga mencapai 345 investor.

“Kami tentunya mengundang seluruh anggota bursa untuk turut serta menjadi AB Derivatif dan meramaikan, serta meningkatkan transaksi pada pasar derivative,” pungkas Iman.

Tags: beiRUPST BEItransaksi short selling
Previous Post

Sepanjang 2024, BEI Catatkan 41 Saham Baru

Next Post

Ambil Untung, Akhiri Indeks di Label Hijau

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR