Jakarta, TopBusiness – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat kinerja penerbitan surat utang atau obligasi korporasi masih marak selama semester I-2025. Tercatat, penerbitan surat utang korporasi itu meningkat 48% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy).
“Hingga akhir semester I-2025, penerbitan surat utang mencapai Rp90,90 triliun atau meningkat 48,31% (yoy) dari penerbitan sebelumnya sebesar Rp61,29 triliun,” tutur Direktur Utama Pefindo, Irmawati Amran dalam acara Media Forum Pefindo, di Jakarta, Selasa (8/7/2025).
Sehingga dengan penerbitan surat utang korporasi tersebut, outstanding-nya hingga paruh pertama tahun ini mencapai Rp550 triliun. Angka tersebut menjadikan jumlah emiten yang menerbitkan surat utang itu mencapai 249 emiten.
“Jika dilihat dari sektor industrinya, lembaga pembiayaan masih dominan yakni sebesar 26,8%, lalu industri pulp dan kertas 14,3%, perbankan 13,9%, dan sektor-sektor lainnya,” kata dia.
Namun dari sisi positifnya, kata Irmawati, penerbitan surat utang korporasi tersebut lebih banyak untuk modal kerja dibanding untuk refinancing. Tercatat, kata dia, hingga Januari-Juni 2025 sebanyak Rp56,26 triliun untuk modal kerja dan Rp31,49 triliun untuk refinancing.
“Jadi yang untuk modal kerja itu meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp38,61 triliun,” katanya.
Lebih jauh ditegaskannya, untuk paruh kedua ini, penerbitan surat utang korporasi diproyeksikan tetap meningkat seiring besarnya nilai jatuh tempo tahun ini.
Pefindo mencatat nilai jatuh tempo 2025 mencapai Rp161,2 triliun, dengan Rp96,43 triliun jatuh pada paruh kedua.
Berdasarkan data Pefindo, sektor yang paling aktif menerbitkan obligasi selama semester I/2025 mencakup industri pulp & paper, multifinance, perbankan, dan pertambangan.
Kemudian jika dilihat dari kelompok non-Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih mendominasi nilai penerbitan yakni mencapai Rp60,91 triliun, sedangkan BUMN mencatatkan Rp29,98 triliun.
Lalu dari sisi rating, surat utang dengan peringkat AAA masih mendominasi penerbitan maupun outstanding masing-masing sebesar 48,7% dan 44,3%. Dan terakhir dari sisi tenor, mayoritas obligasi yang diterbitkan pada tahun ini berada pada jangka waktu 3 tahun yaitu sebanyak 40,7%.
