Jakarta, BusinessNews Indonesia—Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) terus berupaya agar badan usaha milik negara (BUMN) atau instansi pemerintah dan masyarakat maupun swasta, menggunakan mebel produk dalam negeri. Salah satunya dengan menetapkan tanggal 16 Mei sebagai Hari Mebel Indonesia (MEI).
Ketua Umum HIMKI Soenoto mengatakan hal itu kepada Majalah BusinessNews Indonesia melalui sambungan telepon (26/10/2017).
Upaya memperkuat added value (nilai tambah) tersebut, menurut Soenoto, seiring dengan meningkatnya kebutuhan pasar lokal yang diperkirakan kebutuhannya sekitar 7.000 ton rotan per bulan.
Sehingga, kata dia, tidak perlu lagi terlalu memikirkan ekspor bahan baku rotan.
“Karena ekspor bahan baku rotan itu semangatnya adalah semangat instan, bukan semangat added value. Kita harus punya semangat nilai tambah, supaya apa? Dapat devisa, dapat penyerapan tenaga kerja dan punya harga diri di pentas internasional,” tandasnya.
Sedangkan dalam meningkatkan kebutuhan pasar internasional, HIMKI gencar mengadakan berbagai pameran berskala internasional baik di luar negeri maupun di dalam negeri, seperti IMM di Koln Jerman, Amerika, Eropa, China dan lain-lain. Sementara di dalam negeri, ada pameran IFEX yang rutin digelar pada bulan Maret.
“Jadi, kami untuk menerobos pasar internasional itu melalui pameran-pameran tersebut,” jelas Soenoto.
Berdasarkan data Kemenperin, tercatat industri furnitur nasional mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 101.346 orang pada tahun 2016. Penyerapan ini diproyeksikan akan bertambah mencapai 202.692 orang pada tahun 2018. Hal itu seiring dengan tingkat kebutuhan bahan baku indusrti furnitur, seperti rotan yang mencapai sekitar 85% dipasok dari dalam negeri.
