Jakarta, TopBusiness – Manajemen PT Waskita Karya Infrastruktur atau WKI menilai penerapan prinsip-prinsip governance, risk management and compliance (GRC) bukan semata-mata untuk mewujudkan kepatuhan, tapi sebagai fondasi strategis dalam menciptakan bisnis proses sehingga tercipta nilai tambah baik bagi pemangku kepentingan, apalagi pemegang saham.
“Kami percaya bahwa keberhasilan implementasi GRC bukan semata-mata untuk memenuhi kepatuhan, tetapi sebagai fondasi strategis dan menjaga keberlanjutan, menciptakan nilai tambah serta membangun kepercayaan kepada stakeholder,” kata Plt Direktur Utama merangkap Direktur Marketing, Operasi & QHSE, Bambang Dwi Wijayanto, saat memberikan pernyataan pembuka kepada Dewan Juri TOP GRC Awards 2025, secara dalam jaringan melalui aplikasi zoom meeting, di Jakarta, hari ini.
Bahkan dirinya berujar melalui partisipasi dalam penjurian ini, pihaknya ingin menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus melakukan perbaikan yang berkelanjutan, serta membuka diri terhadap masukan dan penilaian yang objektif dari para pakar dan Dewan Juri. “Semoga proses seleksi ini dapat berjalan dengan lancar, objektif dan memberikan manfaat bagi peningkatan praktik GRC di seluruh perusahaan peserta,” ucap dia.
Bambang menyatakan apresiasi atas WKI menjadi nominator dalam TOP GRC Awards 2025. “Alhamdulillah pada kesempatan ini, kami bisa ditunjuk sebagai nominasi untuk penyelenggaraan TOP GRC Awards 2025. Pertama-tama kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Panitia, atas kesempatan yang diberikan kepada perusahaan kami untuk mengikuti ajang TOP GRC Awards 2025,” ungkap dia.
Lanjut Bambang mengutarakan. “Ini merupakan suatu kehormatan, sekaligus tanggung-jawab bagi kami untuk mendapatkan partisipasi dalam proses seleksi yang sangat kredibel dan kompetitif. Ajang TOP GRC Awards 2025 tidak hanya menjadi sarana evaluasi dan pengakuan terhadap implementasi tata kelola perusahaan, manajemen risiko dan kepatuhan yang telah kami jalankan. Namun juga menjadi ruang pembelajaran dan refleksi yang sangat berharga untuk terus memperkuat sistem dan budaya GRC dalam organisasi kami,” papar dia.
Dalam pemaparan materi presentasi berjudul Optimizing Potential Through Diversification for a Resilient Future, Bambang membeberkan soal pandangan manajemen tentang Sustainable Business. “Dalam kondisi sekarang memang stabilitas keuangan yang akan kita jaga, karena imbas dari induk sudah merestruktur, kita juga punya restrukturisasi keuangan,” ucap dia.
Dalam konteks untuk menjaga kestabilan kinerja keuangan, WKI memperluas pangsa pasar. “Nah, tentang pasar ini kita akan ekspansi ke pasar eksternal. Karena apa? Selama ini kita mainnya dapat pasar internal untuk support di downstream saja. Nah, sekarang kita sudah berekspansi selain kita bisnisnya ada di upstream-nya, Waskita Karya. Middle stream kita juga bantu Waskita Karya. Dan downstream kita juga bantu, gitu,” ungkap Bambang.
Selain melakukan divestasi aset untuk mampu mendorong percepatan stabilisasi kinerja keuangan. ”Dan yang terpenting adalah recycling aset. Ada beberapa aset yang akan kita divestasi untuk stabilitas keuangan. Sehingga, kita ke depan bisa berjalan untuk mencapai sasaran yang sustainable,” imbuh Bambang.
Dalam kerangka untuk mencapai harapan ketercapaian kinerja keuangan, perusahaan melakukan penguatan tata kelola dan peningkatan kemampuan human resources. “Nah, di sini kita lihat bahwa kita punya stakeholder. Kita punya aturan UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Permen BUMN, dan Peraturan OJK. Jadi, dalam proses ini kita tetap menggunakan transparency, accountability, responsibility, independency, and fairness,” kata Bambang.
Menurut Bambang, perusahaan di lengkapi dengan perangkat untuk risk management and control, compliance, dan assurance. “Di sini sistem kita ada amanah, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, kolaboratif (AKHLAK),” tutur dia.
Dalam rangka menegakkan GRC agar terukur dan transparan, maka dibantu oleh sistem teknologi dan digital, serta standard sebagai acuan dengan dibarengi kompetensi dan kredibilitas insan-insan perusahaan. “Terus teknologi (tools) kita juga sudah punya sistem seperti di risiko ada WaRM, WeProc (Pengadaan). Untuk di pengendalian, kita punya SAP HANA dan SPIN untuk di internal audit. Untuk proses, kita juga sudah punya SMW, corporate charter, risk management charter, internal audit charter, dan lainnya. Terus manajemen ISO, serta whistleblowing system (WBS). Secara people kita sudah ada sertifikat dari CRMO, CRMP, CRGP dan ISO,” beber Bambang.
Bambang mengakhiri bahwa upaya yang dilakukan untuk menunjang kenaikkan nilai kontrak baru (NKB), gross profit margin (GMP), on time on budget, zero defect and zero construction future, dan penerapan ESG serta talent management. “Harapan ini bisa menjadi program kita untuk menjadikan sustainable business perusahaan yang ada,” pungkas dia.
