Jakarta, TopBusiness – Manajemen PT Sahabat Mikro Fintek atau Samir menilai, implementasi prinsip governance, risk and compliance alias GRC merupakan pilar utama, menyusul perusahaan merupakan industri yang ketat dengan aturan.
Dalam konteks ‘mencegah lebih baik daripada mengobati’, maka pelaksanaan GRC menjadi sebuah keniscayaan, seiring dengan bisnis proses yang terintegritas, transparan, dan akuntabel. Dengan begitu, semakin meningkatkan nilai kepercayaan perusahaan di mata publik, terkhusus pemangku kepentingan dalam rangka sustainable business perusahaan.
“Jadi, salah satu pilar untuk GRC, menurut saya, itu adalah hal yang penting. Karena, kita ini adalah industri highly regulated. Artinya, kita benar-benar perlu. Setiap bisnis model maupun produk-produk yang diluncurkan, itu mesti harus di-asses dulu risiko dan kemudian bagaimana penerapan dan kepatuhannya di dalam peraturan OJK maupun peraturan-peraturan lain yang terkait,” kata Direktur Utama, Yonathan Gautama, kepada Dewan Juri TOP GRC Awards 2025 yang berlangsung secara daring melalui aplikasi zoom meeting, di Jakarta, kemarin.
Penerapan prinsip GRC pada perusahaan pinjaman daring (pindar) merupakan faktor kunci dalam menciptakan keberlanjutan bisnis jangka panjang. GRC yang efektif tidak hanya memastikan kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga mendukung integritas operasional dan pertumbuhan berkelanjutan perusahaan di pasar yang semakin kompetitif dan teregulasi dengan ketat.
Dari sisi governance, lanjut Yonathan, adalah prinsip yang baik untuk diterapkan. “Tentunya, dari sisi governance sebagai salah satu pilar penerapan prinsip tata kelola yang baik pada perusahaan. Itu kita harus mengedepankan prinsip-prinsip integritas, transparansi, dan akuntabilitas agar struktur manajemen. Ini juga terlihat menjadi transparan dan bisa diterapkan secara konsisten dari waktu ke waktu,” ungkap dia.
Pada aspek governance, perusahaan perlu memastikan bahwa struktur manajemen yang transparan dan akuntabel diterapkan secara konsisten. Pengambilan keputusan harus berorientasi pada prinsip-prinsip integritas, transparansi, dan akuntabilitas, dengan mempertimbangkan kepentingan pemangku kepentingan dan konsumen.
Tata kelola yang baik memperkuat reputasi perusahaan di mata regulator, konsumen, dan investor, serta menciptakan kerangka kerja yang memastikan operasional perusahaan berjalan sesuai dengan tujuan strategis jangka panjang.
Selanjutnya, Yonathan menjelaskan terkait dengan pengelolaan risiko di Samir. “Kalau dilihat dari sisi risk, kita berpandangan bahwa manajemen risiko Samir itu mesti aktif. Artinya, harus bisa mengukur potensi risiko yang ada. Jadi dalam Samir, itu akan ada self assessment untuk risk dari masing-masing departemen,” ujar dia.
“Dan dari manajemen akan memberikan arahan-arahan pada saat self assessment tersebut, nanti akan di-publish. sehingga prinsipnya adalah lebih baik mencegah daripada mengobati untuk manajemen risiko,” tambah dia.
Samir melaksanakan risk untuk manajemen risiko yang proaktif. Karena itu, pengelolaan risiko kredit, risiko likuiditas, serta risiko pasar perlu dilakukan secara proaktif untuk mengurangi potensi kerugian yang dapat berdampak pada kelangsungan bisnis.
Sistem pemantauan risiko yang kuat memungkinkan perusahaan untuk mengidentifikasi dan mitigasi potensi risiko sejak dini, meminimalkan dampak negatif, serta meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap kemampuan perusahaan dalam memberikan layanan yang aman dan mengedepankan pada kepatuhan.
Yonathan menguraikan terkait dengan prinsip compliance. “Compliance juga menjadi satu aspek yang saya perhatikan dengan cukup baik agar compliance ini bukan hanya menjadi penghambat dalam bisnis, tapi bisa mendukung bisnis,” ucap dia.
Dalam hal kepatuhan terhadap regulasi OJK, maka aspek compliance Samir berfokus pada kepatuhan terhadap peraturan yang ditetapkan oleh OJK, yang bertujuan untuk melindungi konsumen.
Kepatuhan yang ketat terhadap regulasi OJK tidak hanya mengurangi risiko sanksi hukum dan reputasi, tetapi juga berkontribusi pada terciptanya lingkungan pasar yang lebih stabil dan terpercaya. Dengan memastikan seluruh operasi perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan pasar dan memperluas market, serta menciptakan keberlanjutan bisnis yang berkesinambungan.
Dia berpendapat, sisi kepatuhan perlu menjadi semangat dalam peluncuran bisnis baru, produk baru baru maupun model bisnis dari Samir sehingga kesemuanya akan diintegrasikan agar tidak saja hanya berat pada kepatuhan, namun juga sudah bisa mengukur risiko yang ada dalam perusahaan ini. Selain itu, dalam kerangka perusahaannya juga tetap mengelola governance dengan baik.
Integrasi GRC untuk keberlanjutan bisnis, maka secara keseluruhan, penerapan prinsip GRC yang efektif secara terintegrasi berkontribusi pada terciptanya keberlanjutan bisnis yang sehat. Tata kelola baik memperkuat reputasi perusahaan, pengelolaan risiko yang tepat guna meminimalkan potensi kerugian, dan kepatuhan terhadap regulasi OJK menciptakan dasar yang kokoh bagi stabilitas dan pertumbuhan perusahaan.
