Jakarta, TopBusiness—Salah satu pendorong utama untuk transformasi Asean terletak pada perdagangan yang berkelanjutan. Indonesia menyaksikan peningkatan tajam dalam permintaan global untuk barang- barang yang diproduksi secara berkelanjutan, terutama di pasar seperti Uni Eropa, yang telah memperkenalkan peraturan seperti EU Deforestation-free Regulation (EUDR) dan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM).
Hal itu dikatakan Wakil Menteri Perdagangan RI (Wamendag), Dyah Roro Esti Widya Putri, dalam keterangan resmi, hari ini.
Australia dan Selandia Baru juga telah menanamkan standar ramah lingkungan dalam sistem perdagangan dan pengadaan mereka, dan di dalam Asean sendiri, pelabelan ramah lingkungan dan sertifikasi keberlanjutan menjadi prasyarat untuk akses pasar.
Ia memandang perkembangan ini bukan sebagai hambatan, tetapi sebagai peluang strategis untuk memposisikan ulang basis ekspor Indonesia menuju produk yang bernilai lebih tinggi dan sadar lingkungan. Untuk menanggapi tren ini, Indonesia mengoptimalkan daya saing industri dengan mendorong kepatuhan terhadap standar keberlanjutan internasional. Indonesia juga mengembangkan platform penelusuran untuk komoditas utama dan memasukkan penilaian siklus hidup ke dalam strategi perdagangan.
“Upaya-upaya ini bertujuan untuk memastikan bahwa produk Indonesia tetap kredibel dan menarik di pasar yang peka terhadap keberlanjutan,” wakil menteri tersebut menambahkan.
