Jakarta, TopBusiness – PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (TWC) atau Injourney Destinations terus memperkuat sistem tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan (Governance, Risk, and Compliance/GRC) untuk mendukung visi sebagai pengelola destinasi berkelas dunia yang berkelanjutan.
Komitmen ini ditegaskan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TWC, Joel Siahaan, dalam presentasi penjurian TOP GRC Awards 2025 yang dilakukan secara daring, Senin (4/8/2025).
“Bagi kami, penerapan GRC bukan soal mengejar skor atau penghargaan, tapi menjadi landasan untuk menciptakan value creation dan value protection yang berkelanjutan. GRC ini membantu kita untuk memastikan perusahaan sustainable dan juga berdaya saing. Harapan kita tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga di global,” ujar Joel.
Ia menambahkan bahwa GRC yang kuat akan menjadi penopang utama keberlanjutan bisnis TWC di tengah tantangan industri pariwisata pascapandemi dan dinamika global.
Perusahaan ini mengelola tiga destinasi utama warisan budaya dunia yaitu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Keraton Ratu Boko yang menjadi bagian dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Prioritas. Sejak 2021, BUMN ini juga dipercaya mengelola Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Dalam menjalankan bisnisnya, PT TWC memiliki empat pilar utama, yaitu Heritage, Culture, Attraction & Amenities. Keempat pilar ini dijalankan dengan pendekatan sustainability, digitalisasi, dan integrasi risiko, agar tetap adaptif terhadap tantangan eksternal seperti perubahan regulasi konservasi, fluktuasi kunjungan wisatawan, hingga krisis global seperti pandemi Covid-19.
Struktur Organisasi dan Afiliasi Bisnis
Sejak tahun 2021, TWC resmi menjadi bagian dari InJourney, bersama entitas lain seperti Angkasa Pura I dan II, Hotel Indonesia Natour, dan Sarinah. Di bawah struktur ini, TWC mengelola dua anak perusahaan: PT Taman Wisata Borobudur dan PT Bhumi Visatanda Indonesia (Bhiva), serta satu afiliasi dengan Sinergi Colomadu.
Joel menjelaskan bahwa struktur ini mendukung koordinasi dan standardisasi tata kelola yang lebih baik, termasuk dalam hal penerapan GRC yang terintegrasi. “Kami mirroring dan sinkronkan banyak kebijakan, termasuk sistem pengendalian internal, manajemen risiko, dan kebijakan antifraud sesuai dengan standar holding,” ujarnya.
TWC juga mengadopsi prinsip tata kelola korporasi yang baik (Good Corporate Governance/GCG) melalui penguatan struktur, proses, evaluasi, dan budaya. Perusahaan telah menyusun berbagai dokumen kebijakan mulai dari Corporate Charter, Code of Conduct, Pedoman Tata Kelola Terintegrasi, Pedoman Integritas, Transparansi, dan Kepatuhan Governansi, Pedoman Investasi dan Aksi Korporasi, serta Pedoman Manajemen Risiko.
“Pedoman ini bukan hanya formalitas, tapi menjadi panduan nyata untuk setiap insan perusahaan agar dapat bertindak profesional, transparan, dan akuntabel,” ujar Joel yang membawakan materi presentasi berjudul Resilience to Sustainability: Leading Through GRC.
Menurut Joel, integrasi GRC dalam bisnis TWC tercermin dalam penerapan Four Eyes Principle dan Nota Analisa Investasi. Perusahaan mengadopsi Four Eyes Principle atau mekanisme pengendalian internal yang mensyaratkan bahwa setiap aktivitas yang melibatkan pengambilan keputusan (khususnya untuk transaksi bisnis) harus dikendalikan dengan review atau kajian oleh pihak kedua yang independen dan kompeten.
Selain itu, kata Joel, manajemen TWC menerapkan Nota Analisa Investasi, di mana sebelum investasi dan aksi korporasi dilakukan, terdapat kajian dari aspek finansial/bisnis, lingkungan, sosial, ekonomi, fiskal, pelayanan dan operasional, legal, manajemen risiko, governance dan compliance, dan aspek lain yang relevan.
Terkait manajemen risiko, TWC menerapkan kerangka three lines model sebagai upaya untuk menjamin akuntabilitas, transparansi, dan pengawasan yang efektif. Ini untuk memastikan adanya pembagian tanggung jawab yang jelas antara business process owner (1st line), fungsi risk dan compliance support (2nd line), dan juga fungsi yang memberikan independent assurance (3rd line). Seluruh lini bekerja dan saling mendukung di bawah kepemimpinan Direksi dan Dewan Komisaris.
Manajemen juga menggulirkan kampanye think risk untuk membangun budaya sadar risiko di seluruh level organisasi dengan tujuannya adalah risk culture.
Tahun 2024, TWC mencatatkan peningkatan skor Risk Maturity Index (RMI) menjadi 2,54 (Fase Berkembang+), naik dari 2,4 (Fase Berkembang) di tahun sebelumnya. Sedangkan skor GCG berdasarkan asesmen independen untuk tahun buku 2024 mencapai 84,91, lebih baik dibandingkan 2023 sebesar 84,87. Selain itu, TWC juga telah melakukan sertifikasi ISO 37001 tentang sistem manajemen antipenyuapan.
“Kemudian penerapan kebijakan dan sistem anti korupsi dan gratifikasi. Dan juga yang paling penting kami mudah-mudahan atau seharusnya juga tidak ada ada kasus hukum yang kami hadapi,” kata Joel.
Dalam aspek compliance, TWC berproses menuju manajemen kepatuhan yang tersistem melalui implementasi awal Regulatory Compliance System (RCS). Melalui RCS, Perusahaan dapat melihat tingkat kepatuhan tiap grup terhadap regulasi eksternal.
Manajemen kepatuhan dianggap berhasil ketika pasal-pasal yang memiliki konsekuensi hukum telah dipenuhi persyaratannya, tidak ada risiko kepatuhan yang terjadi, dan dan seluruh aktivitas operasional berlangsung sesuai prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau GCG.
Pada 2024, TWC melakukan evaluasi kepatuhan terhadap regulasi peraturan perundangan mulai dari UU, regulasi Presiden, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah, regulasi Kementerian BUMN, regulasi Kementerian Keuangan, regulasi Kementerian Lingkungan Hidup, serta Peraturan Daerah.
“Dari hasil evaluasi tersebut, tingkat kepatuhan atas regulasi dari PT TWC pada 2024 mencapai 98,43 persen,” ujar dia.
Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, kata Joel, TWC tidak menghadapi satu pun kasus hukum yang bersifat material.
Keberhasilan implementasi GRC di TWC didukung oleh penerapan sistem digital seperti e-procurement, whistleblowing system (WBS), sistem ticketing internal, serta portal SDM untuk pemetaan kebutuhan pengembangan talenta. “Transformasi digital ini kami yakini akan memperkuat akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas penerapan GRC di semua lini,” ujar Joel.
Komitmen Sosial dan Lingkungan
Implementasi GRC di TWC juga mencakup keberpihakan terhadap lingkungan dan masyarakat. Di sektor lingkungan, TWC telah mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil di destinasi, menggantinya dengan kendaraan listrik, serta memanfaatkan air hujan melalui sistem water treatment.
Secara sosial, TWC berhasil merelokasi lebih dari 1.943 pedagang di zona 2 Borobudur ke kawasan Kampung Seni Borobudur (KSB) melalui pendekatan persuasif dan kolaboratif. “Kami tidak sekadar memindahkan, tapi juga membina mereka agar naik kelas menjadi UMKM yang mendukung kualitas destinasi wisata,” kata Joel.
Dalam dua tahun terakhir, TWC mencatatkan kinerja keuangan yang sehat. Pada tahun 2024, TWC berhasil mencetak laba bersih sekitar Rp 385,75 miliar, jauh lebih besar dibandingkan laba tahun 2023 sebesar Rp 67 miliar. Perusahaan juga memperoleh peringkat kredit “Single A” untuk standalone rating, dan “A+” untuk Final Rating dari lembaga pemeringkat independen, Pefindo.
Berkat komitmen perusahaan terhadap GRC, PT TWC tahun 2025 ini kembali menjadi kandidat pemenang TOP GRC Awards. Pada 2023, perusahaan meraih TOP GRC Awards 2023 # Star 4.
