Jakarta, TopBusiness – Laju IHSG kemarin ditutup naik 2.44%, dan disertai dengan net Buy asing ~2,2 triliun. Saham yang paling banyak dibeli asing adalah BBRI, BBCA, BMRI, TLKM, dan RAJA.
Untuk perdagangan hari ini, menurut Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Muhammad Lutfi Permana, laju IHSG berpotensi lanjut menguat, setelah adanya inflow asing yang cukup besar di perdagangan kemarin.
“Dengan kondisi tersebut, maka level Resist IHSG diproyeksi di kisaran 7845-7880 dan level Support IHSG akan berada di rentang 7760-7740,” ujar dia, dalam risetnya, Rabu (13/8/2025).
Global Overnight Review
Wall Street Melesat, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi. Indeks-indeks Saham Wall Street kompak naik pada perdagangan Selasa (12/8). Bahkan, S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatat rekor (all time high).
Kenaikan tajam tersebut disebabkan rilis data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan memperkuat harapan pemangkasan suku bunga The Fed bulan depan.
Indeks S&P 500 melonjak 1,13%, Nasdaq melesat 1,39% dan Dow Jones Industrial Average menguat 1,10%.
Data inflasi terbaru meredakan kekhawatiran investor bahwa kebijakan tarif luas Presiden AS Donald Trump akan menimbulkan kenaikan harga pada ekonomi AS. CPI tahunan naik 2,7% pada Juli, lebih rendah dari perkiraan 2,8%.
Sedangkan Core CPI, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, naik 3,1% YoY, sedikit di atas ekspektasi 3%.
Rally Wall Street juga didukung oleh kabar bahwa Trump memperpanjang jeda kenaikan tarif terhadap barang impor China selama 90 hari.
Selain itu, pasar kini menanti rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis (14/8), yang akan menjadi petunjuk inflasi di tingkat produsen.
Rangkaian data ini akan menjadi bahan pertimbangan The Fed jelang pertemuan tahunan di Jackson Hole akhir Agustus dan rapat kebijakan September.
AS-China Gencatan Dagang, Bursa Asia Beragam. Pasar saham Asia-Pasifik bervariasi pada perdagangan Selasa (12/8).
Pergerakkan pasar saham Asia tersebut merespon keputusan Presiden AS Donald Trump yang memperpanjang gencatan dagang dengan China selama 90 hari hingga pertengahan November.
AS menunda kenaikan tarif tinggi atas barang-barang asal China hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu habis.
Di sisi lain, Reserve Bank of Australia (RBA) menurunkan suku bunga utama sebesar 0,25% menjadi 3,60%, level terendah dalam dua tahun terakhir.
Selain itu, dalam pertemuan kebijakan selama dua hari, Dewan Gubernur RBA menyatakan data menunjukkan inflasi inti diperkirakan akan mereda ke kisaran tengah target 2%-3%, dengan asumsi pelonggaran kebijakan dilakukan secara bertahap.
Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,41%. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 2,15% dan Topix menguat 1,39%. Sedangkan di Korea Selatan, indeks Kospi turun 0,53%, dan Kosdaq melemah 0,57%.
Selain itu, Hang Seng Hong Kong naik 0,25%, CSI 300 China menguat 0,52% dan Taiex Taiwan bertambah 0,09%. (Source: Investor Daily, Kontan, Bloomberg)
Trading Idea hari ini: BREN, PTRO, RATU, BBNI, BBRI, dan SCMA. BREN dan PTRO merupakan saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu.
- BREN Spec Buy dengan area beli di 9100-9025, cutlloss di bawah 8975. Target dekat di 9275-9400.
- PTRO Spec Buy dengan area beli di 3860-3830, cutlloss di bawah 3820. Target dekat di 3920-3980.
- RATU Spec Buy dengan area beli di 7400-7350, cutlloss di bawah 7275. Target dekat di 7550-7700.
- BBNI Spec Buy dengan area beli di 4360-4350, cutlloss di bawah 4300. Target dekat di 4450-4520.
- BBRI Spec Buy dengan area beli di 4050-4030, cutlloss di bawah 4000. Target dekat di 4140-4200.
- SCMA Spec Buy dengan area beli di 238-236, cutlloss di bawah 234. Target dekat di 244-248.
