Jakarta, ToBusiness – PT BPR Bank Djoko Tingkir menunjukkan komitmen kuat dalam mengintegrasikan tata kelola perusahaan (Governance), manajemen risiko (Risk), dan kepatuhan (Compliance) atau GRC, sebagai pondasi utama menghadapi dinamika bisnis yang semakin kompleks.
Direktur Kepatuhan BPR Bank Djoko Tingkir, Agung Sugiarto, memaparkan strategi holistik yang dijalankan bank ini. Menurutnya, kombinasi ESG (Environmental, Social, Governance) dengan GRC bukan sekadar pemenuhan regulasi, melainkan langkah strategis untuk menciptakan keunggulan kompetitif.
“Ketahanan bisnis harus dimulai dengan tata kelola perusahaan yang baik, mengintegrasi ESG dan GRC, diperkuat penerapan manajemen risiko dan kepatuhan.” Kata Agung dalam wawancara penjurian TOP GRC Awards 2025 secara daring, Selasa (12/8/2025).
Masih menurut Agung, Bank Djoko Tingkir telah membentuk Komite GRC dan Forum GRC yang dibina langsung oleh Komisaris Utama dan Komisaris Independen, diketuai Direktur Utama, serta melibatkan seluruh kepala bagian. Struktur ini memastikan penerapan kebijakan, pengawasan, dan mitigasi risiko berjalan terpadu.
“Kami beranggotakan seluruh kepala bagian, termasuk kepala bagian kepatuhan, audit, pemasaran, dan pelayanan. Semua terlibat aktif dalam menjaga tata kelola dan kepatuhan,” jelas Agung.
Inovasi Digital dan Pengawasan Tiga Lapis
Salah satu kekuatan Bank Djoko Tingkir adalah penerapan Three Lines of Defense atau model pertahanan tiga lapis. Lapisan pertama berada pada operasional bidang bisnis yang diawasi komite khusus seperti Komite Kredit dan Komite SDM. Lapisan kedua dijalankan oleh satuan kerja manajemen risiko, kepatuhan, dan unit APU PPT. Lapisan ketiga adalah Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) yang berperan mengawal kualitas audit secara independen.
“Walaupun secara aturan kami bisa PE, kami memilih melangkah lebih tinggi dengan membentuk satuan kerja manajemen risiko, kepatuhan, dan audit internal yang terpisah. Ini untuk memastikan kualitas pengawasan benar-benar terjaga,” tegas Agung.
Inovasi dalam pengawasan ini didukung teknologi informasi. Bank Djoko Tingkir memanfaatkan flowchart penerapan GCG yang menghubungkan kantor cabang dengan sistem self-assessment GRC gabungan. Sistem ini memungkinkan evaluasi kerentanan risiko dilakukan cepat, akurat, dan terukur.
Selain itu, penerapan whistle blowing system diakses publik melalui laman resmi www.bprdjokotingkir.com. Sistem pengadaan barang dan jasa juga dilakukan secara transparan melalui prinsip ketaatan, seleksi vendor, dan pengawasan komite internal.
Pendekatan strategis dalam GRC dan inovasi pengelolaan risiko membawa hasil nyata. Per Desember 2024, Bank Djoko Tingkir mencatat aset sebesar Rp448 miliar, tumbuh dari Rp391 miliar pada 2023. Laba bersih meningkat dari Rp9,5 miliar menjadi Rp12,2 miliar. NPL net berada di 1,9% dan gross di 3,6%, menempatkan bank ini di peringkat pertama BPR di Solo Raya dari sisi aset dan kualitas kredit.
“Dampak kinerja kami menjadi nomor satu di Solo Raya per posisi Desember 2024. NPL net kami 1,9 dan gross 3,6. Itu menjadikan BPR kami menjadi nomor satu,” kata Agung.
Prestasi ini didukung enam penghargaan nasional, termasuk penghargaan OJK inklusi. “Semua capaian ini adalah hasil kolaborasi pengurus, direksi, komisaris, dan seluruh tim yang bekerja mengedepankan integritas GRC,” tutup Agung.
Dengan strategi GRC yang terintegrasi, inovasi berbasis teknologi, dan pencapaian kinerja yang solid, Bank Djoko Tingkir menegaskan diri sebagai lembaga keuangan daerah yang bukan hanya adaptif, tetapi juga siap bersaing di era bisnis yang penuh tantangan.
