Jakarta, TopBusiness – PT Chemstar Indonesia Tbk (IDX: CHEM) mengaku masih optimistis kinerja perseroan hingga akhir tahun 2025 ini tetap tercapai sesuai target. CHEM adalah perusahaan perdagangan dan manufaktur bahan kimia untuk industri tekstil dan industri lainnya.
Hal ini lantaran salah satu lini bisnisnya, yakni sektor energi berhasil mencapai kinerja melebihi ekspektasi, sekalipun memang sektor tekstil yang sempat menjadi tulang punggung Perusahaan mengalami perlambatan.
“Sejauh ini, untuk top line (pendapatan) masih akan sesuai target yakni Rp207 miliar. Ini masih terkonfirmasi. Namun kamu akui, kontribusi tekstil tidak sesuai dengan target (di semester I-2025). Sehingga kinerja hingga akhir tahun akan ditopang dari segmen energi. Jadi cukup yakin top line akan tercapai,” ujar Tony Widjaja, Direktur Keuangan CHEM saat paparan public virtual, Selasa (19/8/2025).
Selain top line, Perseroan juga masih yakin dari sisi bottom line bisa trcapai sesuai target. Kendati hingga semester I-2025 masih tergerus cukup dalam mencapai 69% secara year on year (yoy).
“Iya dari sisi net margin itu sekitar 5-6% dari omset bisa tercapai lah. Jadi bottom line optimis tercapai,” katanya.
Menurut Tony, pendapatan CHEM tercapai Rp106 miliar atau sebanyak 51% dari target sebesar Ro207 miliar. Untuk pencapaian hingga semester I 2025 ini, dari segmen energi sudah terkumpul Rp57 miliar atau setara dengan 54%, lalu untuk divisi tekstil sebesar 44% atau sebanyak Rp47 miliar, dan untuk segmen agro 2% atau setara Rp2 miliar.
“Hinga kuartal II itu, pendapatan sebesar Rp106,97 miliar berarti naik 13,48% yoy dari periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp94,26 miliar. Dengan laba bersih yang berhasil diraih sebesar Rp2,05 miliar di periode kuartal II 2025 ini. Angka tersebut berarti anjlok sebesar 69% yoy dari periode yang sama tahun 2024 lalu yang sebesar Rp6,79%,” terang dia.
Sejatinya, Perseroan menargetkan sektor tekstil menjadi contributor utama, namun faktanya mengalami perlambatan. Kata dia, sektor tekstil ini tengah menghadapi tekanan berat, ditandai dengan penutupan sekitar 30 pabrik besar dalam dua tahun terakhir, termasuk kepailitan PR Sritex, sebagai salah satu produsen tekstil terbesar di Indonesia.
“Sehingga dampak kondisi tersebut berimbas pada ekosistem bisnis perseroan, menimbulkan tantangan berupa keterlambatan pembayaran klien di sektor tekstil. Makanya kemungkinan target omset dari segmen tekstil tidak tercapai. Di awal tahun kami targetkan untuk segmen ini sebesar 61% atau setara Rp127 miliar,” katanya.
Untuk itu, lanjut Tony, di semester II ini, sektor energi akan menjadi andalan. Dengan pasar utamanya adalah PT Pertamina (Persero) dan grupnya.
“Momentum (pertumbuhan) di energi ini harus terus dijaga. Namun jangan sampai ada over capacity,” katanya dengan buru-buru menambahkan, “Ini bukan berarti tidak terserap pasar. Selama ini sudah terserap pasar. Hanya saja kami berhati-hati saja, agar neraca tidak berat.”
Selama ini, kata dia, pasar utamanya adalah ke Pertamina dan anak usaha dengan memasok chemical. Dengan pelanggan utamanya PT Pertamina Hulu Rokan. “Untuk pasar baru tetap kita ikuti tender-tender, tapi sumber utama dari Pertamina,” tandasnya.
Di tempat yang sama, Direktur CHEM, Wenty Rasjid menambahkan, saat ini kondisi industry masih adanya persaingan ketat dengan pabrikan besar dalam tender memberikan tekanan harga menjadi rendah.
Ditambah adanya regulasi SKK Migas yang menetapkan TKDN sebesar minimal 70%. Plus, harga material impor berkualitas tinggi (Eropa/Amerika) masih mahal dan waktu pengiriman lama.
“Sehingga perlu modal, investasi, dan perencanaan stok dalam negeri dengan risiko dead stock. Apalagi tantangannya, permintaan pasar akan barang berkualitas dengan harga rendah. Sehingga strategi kita adalah memperkuat sourcing material dari berbagai negara dengan pemasok produk berkualitas, delivery time cepat, dan harga kompetitif. Juga kami akan memperluas segmen industry minyak dan gas ke geothermal, pengolahan kilang, drilling, dan perawatan,” tutur Wenty.
