Jakarta, TopBusiness – Perumda Pembangunan Sarana Jaya mengklaim telah melaksanakan prinsip governance, risk management and compliance (GRC) dalam bisnis proses. Hal tersebut dibuktikan dengan terbentuknya beberapa tim divisi seperti legal, pengembangan usaha, manajemen risiko dan corporate secretary.
Saat memaparkan materi presentasi bertema ‘Resilience to Sustainability: Leading Through GRC’, pada poin Penjelasan Pandangan dan Kebijakan Manajemen tentang hubungan GRC dengan Sustainable Business Perusahaan, Direktur Utama, Andira Reoputra, menyinggung soal perumda telah mengimplementasikan prinsip GRC di dalam operasionalnya melalui pembentukan tim divisi.
“Di dalam proses bisnis, kami sudah membuat tim GRC. Waktu itu ada keputusan direksi (BoD) untuk membuat seluruh proses bisnis, apalagi yang mau, akan membutuhkan keputusan bisnis yang sangat penting,” kata Andira, kepada Dewan Juri TOP GRC Awards 2025 secara online melalui aplikasi zoom meeting, di Jakarta, Senin (25/08/2025).
Dia menyebutkan tim GRC terdiri dari divisi legal, usaha, manajemen risiko dan corporate secretary. “Kami sudah membuat tim GRC tersebut,” ucapnya.
Bahkan dalam pandangan Andira, pihaknya mempunyai komitmen agar GRC terus selaras dengan proses bisnis dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. “Komitmen dari kami, BoD, segala sesuatu yang sesuai dengan peraturan perusahaan dan manual book, serta roadmap perusahaan maka aktivitas manajemen GCG, kemudian risiko dan audit, itu ada dipucuk pimpinan,” beber dia.
Dan juga bagaimana GRC kami, lanjut Andira, itu selaras dengan bisnis-bisnis dan sustainable ke depannya. Kemudian, dukungan-dukungan kebijakan publik pun secara GRC terus dikembangkan. “Tentunya, untuk mencapai bagaimana risiko-risiko ini bisa ter-mapping, terbaca di seluruh unit divisi kami dan untuk menunjang aktivitas proyek dan bisnis di seluruh Sarana Jaya,” ungkap dia.
Dengan penerapan prinsip GRC tercermin dari penguatan kinerja operasional perumda. “Beberapa kebijakan dan implementasi yang sudah kita lakukan di Sarana Jaya dari tahun 2024 sampai hari ini, ada GCG (tata kelola), yang juga sudah diaudit oleh BPKP yang dinyatakan sehat,” kata Andira.
Selain itu ada penetapan struktur organisasi dalam rangka penegakan GRC. “Serta adanya kebijakan risk management dimana divisi manajemen risiko terletak di bawah direktur administrasi dan keuangan, di luar dari pada dirut. Maka, dirut sudah ada tim divisi legal, jadi kami tempatkan risk management di bawah direktur administrasi dan keuangan,” tutur dia.
“Serta, untuk compliance atau kepatuhan, dimana secara POJK juga tentang laporan keberlanjutan serta WBS-nya. Dan keputusan bahwa WBS ini, karena sebelum-sebelumnya itu tidak terinfo dengan bagus, maka kami mengurusi secara internal karena sesuai dengan UU IT. Juga, data base kita tidak bisa ke luar kemana-mana sehingga diurus oleh divisi manajemen risiko. Dan dilaporkan kepada direksi setiap bulan, triwulan serta semester,” ungkap Andira.
Dalam kesempatan itu pula, dirinya berharap agar kenaikkan peringkat di dalam ajang TOP GRC Awards 2025, seiring dengan perbaikan di kinerja keuangan. “Kita sudah ada TOP GRC Awards 2024, kami laporkan juga kepada Dewas (Dewan Komisaris), dimana kami mendapatkan bintang 3 di tahun 2024. Semoga tahun ini, naik di bintang 4. Kenapa? Karena dari laporan keuangan itu sudah laba dibandingkan tahun sebelumnya yaitu laba kita Rp 27 miliar, sebelumnya tahun 2023, itu minus Rp 98 miliar,” kata Andira.
Selanjutnya, penilaian BPKP Perwakilan DKI Jakarta. “Dan kami juga sudah dinilai oleh BPKP Perwakilan DKI Jakarta dengan nilai predikat 77,234 persen yang dikategorikan baik atau sehat. Alhamdulillah. di tahun 2024. Dinilainya tahun buku 2024, dan kita sudah dikatakan sehat. Sebelumnya masih belum sehat karena ada beberapa case diantaranya, dan menjadikan revenue kita negatif di tahun 2023. Dan 2024, kita sudah dinyatakan oleh BPKP Sehat atau Hijau, tapi kita mengarah ke Biru. Nah, ini mohon dukungan juga ke semua stakeholder yang ada di Jakarta,” pungkas dia.
