Jakarta, TopBusiness – PT PLN Batam mempunyai cara unik dalam rangka melakukan pengembangan kompetensi talenta-talenta di bawah usia 35 tahun. Ini dilakukan sebagai upaya agar mereka tetap loyal, sekaligus mewujudkan generasi pemimpin di masa mendatang.
Saat memberikan pernyataan di akhir sesi pemaparan materi presentasi berjudul ‘PLN Batam Human Experience Management System (HXMS) Mendorong Sustainability High Quality Growth’, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko & Human Capital PT PLN Batam, Muhammad Romy Andry, menyinggung soal kiat-kiat agar para talenta di bawah usia 35 tahun tetap loyal bekerja di perusahaan.
“PLN Batam ini beda, kita punya pegawai , pegawainya rata-rata 35 tahun ke bawah. Itu tantangan tersendiri bagi kami, di manajemen human capital. Bahwa kita harus mindset shifting. Kami menyamakan view seperti apa yang dimaui, teman-teman umur 35 tahun ke bawah,” beber Romi, demikian dirinya disapa.
Kepada Dewan Juri TOP Human Capital Awards 2025, Romi mengungkapkan kiat-kiat agar talenta-talenta di bawah usia 35 tahun ini tetap nyaman dalam bekerja, namun potensi bakat yang mereka miliki tetap terus bisa berkembang melalui platform COP.
“Kalau view saya ada dua. Satu, kita harus punya komunikasi yang intens, makanya kita punya kartu tadi, COP (community of practices). COP awalnya adalah alat absen yang muncul karena adanya Covid-19. Dulu absen pakai fisik, digital print, berhubung Covid mulai menggunakan hape, menggunakan GPS,” kata dia, melalui aplikasi zoom meeting, di Jakarta, Kamis (28/08/2025).
Dia melanjutkan bahwa COP bisa dimanfaatkan guna lebih dekat kepada para pegawai. “Saya melihat inilah, hal yang seluruh pegawai lihat setiap hari. Jadi, di situlah kami optimalkan ketika orang mengabsen, kami masukkan berbagai hal yang mereka harus lihat dulu, entah ketika absen datang atau pulang. Tidak lama, hanya sebentar tetapi message (pesan)-nya dapat. Jadi, di situlah kami berkomunikasi, bisa menyampaikan apresiasi dan memicu engagement (keterikatan) seluruh pegawai PLN Batam,” papar Romi.
Terus yang kedua, menurut Romi, yaitu investasi. Umur 35 tahun dengan banyaknya media sosial orang berpikir kerja itu bukan lagi kebutuhan, bukannya karier dicari tapi yang dicari lebih work life balance.
“Makanya, untuk menjaga talenta-talenta yang ada ini tetap loyal, engaged, kita berinvestasi ke mereka. Kita harus kasih kesempatan ke mereka. Kita harus tunjukkan bahwa perusahaan ini tempat mereka berkembang, bukan hanya tempat bekerja. Jadi, saya minta agar ditingkatkan capability-nya bukan hanya di sisi kompetensi kelistrikan, tapi hal bersifat general. Mulai dari kemampuan berbahasa Inggris, kemampuan presentasi,” kata Romi.
Secara sederhana, work life balance merupakan kemampuan untuk menyeimbangkan tanggung jawab pekerjaan dengan kehidupan pribadi dan keluarga, yang memungkinkan seseorang merasa puas dan berfungsi baik di kedua area tersebut. Berarti, menemukan kombinasi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan, seperti mengatur waktu untuk hobi, keluarga, dan rekreasi. Manfaatnya termasuk peningkatan produktivitas, penurunan stres, peningkatan kesejahteraan mental dan fisik, serta kualitas hubungan pribadi yang lebih baik.
Apabila perusahaan mampu mengembangkan potensi yang ada di masing-masing pegawai di bawah usia 35 tahun, bukan tidak mungkin PLN Batam akan mempunyai pemimpin yang bisa diandalkan.
“Karena hal itulah yang mereka butuhkan ke depannya dan saya yakin 10 tahun lagi, yah mereka semualah yang akan menggantikan kami, yang akan memegang posisi ini. Kalau kami, menggunakan pola yang sama, yah PLN Batam 10 tahun lagi sama saja dengan kondisi sekarang. Kalau kami menerapkan pola yang berbeda, 10 tahun lagi PLN Batam tentu lebih maju dari sekarang,” ungkap Romi.
Akhirnya, Romi berharap agar peringkat TOP Human Capital Awards 2024 bisa dipertahankan. “Semoga tetap terjaga bintang 5,” ucap dia.
