Jakarta, TopBusiness—Di tengah kondisi global yang masih diwarnai ketidakpastian, penuh kejutan (uncertain), dan juga sulit ditebak (unpredictable), Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menjadikan ekonominya lebih tangguh, berdaya saing, dan tumbuh lebih dinamis.
Untuk itu, Indonesia perlu menjawab tantangan utama di dalam negeri, yaitu menjaga keseimbangan antara stabilitas perekonomian dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung saat meluncurkan buku Kajian Stabilitas Keuangan No.45, Februari 2025 (KSK 45), yang bertema ‘Mendorong Intermediasi, Memperkuat Ketahanan di Tengah Peningkatan Ketidakpastian Global’, di Jakarta, hari ini.
Dari sisi likuiditas, kebijakan makroprudensial longgar, operasi moneter, dan insentif likuiditas telah menambah ruang gerak bagi perbankan.
“Ke depan, bank perlu meningkatkan kesiapan untuk segera melakukan realokasi dari likuiditas ke kredit, dan berani memercepat penurunan suku bunga dana serta kredit,” kata Juda melalui keterangan tertulis.
Untuk mendorong percepatan transmisi kebijakan moneter dan makroprudensial tersebut maka kebijakan BI difokuskan pada 4 hal. Pertama, Mencermati ruang pelonggaran BI rate lebih lanjut untuk mendorong bekerjanya transmisi lebih lanjut. Kedua, memperkuat efektivitas transmisi melalui penyesuaian struktur instrumen moneter dan swap valas.
Ketiga, menambah likuiditas pasar uang secara terukur, melalui penyesuaian SRBI dan pembelian SBN di pasar sekunder.
“Keempat, melanjutkan pelonggaran kebijakan makroprudensial untuk mendorong kredit/pembiayaan, menurunkan suku bunga, dan memperkuat ketahanan perbankan.”
