Jakarta, TopBusiness – Ketua Umum Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Prof. Mardiasmo, menegaskan akan pentingnya penerapan prinsip governance, risk, and compliance (GRC) sebagai kerangka strategis untuk membawa perusahaan dari ketahanan (resilience) menuju keberlanjutan (sustainability).
Demikian pesan ini disampaikan dalam sambutan pada ajang TOP GRC Awards 2025, yang digelar pada Senin (8/09), untuk memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan konsisten menerapkan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan terbaik.
“Resilience to sustainability, leading through GRC, merupakan sebuah kerangka kerja strategis yang semakin penting bagi perusahaan modern. Suatu keniscayaan bahwa organisasi harus membangun ketahanan agar mampu mencapai keberlanjutan,” ujar Mardiasmo, dalam pidatonya.
Baca Juga: TOP GRC Awards 2025: Danantara Dorong Transformasi GRC Menjadi Strategi Kompetitif Jangka Panjang
Ketahanan sebagai Fondasi
Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa ketahanan organisasi bukan hanya soal kemampuan bangkit kembali pascakrisis, melainkan juga bouncing forward atau melompat ke depan agar menjadi lebih kuat dan adaptif. “Ketahanan adalah kemampuan organisasi untuk mengantisipasi, menahan, beradaptasi, dan pulih dari berbagai macam gangguan, baik yang berasal dari dinamika internal maupun eksternal perusahaan,” jelasnya.
Dirinya mencontohkan beberapa krisis yang dapat menguji resiliensi organisasi, mulai dari pandemi, serangan siber, gangguan rantai pasok, bencana alam, krisis ekonomi, hingga perubahan regulasi yang mendadak. Organisasi yang resilien, katanya, mampu menjaga kelangsungan operasional, stabilitas finansial, melindungi aset, dan menjaga reputasi di tengah guncangan.
Keberlanjutan sebagai Tujuan Akhir
Selain ketahanan jangka pendek, Ketua KNKG menekankan bahwa keberlanjutan adalah tujuan jangka panjang setiap organisasi. Keberlanjutan didefinisikan sebagai pendekatan bisnis yang menciptakan nilai jangka panjang dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.
“Tujuannya adalah menciptakan nilai yang langgeng bagi semua pemangku kepentingan, termasuk investor, karyawan, pelanggan, masyarakat, hingga planet,” ungkapnya.
Isu-isu keberlanjutan yang perlu menjadi perhatian antara lain perubahan iklim, hak asasi manusia dalam rantai pasok, keberagaman dan inklusi, etika bisnis, serta penggunaan sumber daya alam secara bertanggung jawab. Menurutnya, organisasi yang berkelanjutan tidak hanya bertahan, melainkan juga memberikan kontribusi positif bagi dunia di sekitarnya.
Ketua KNKG menegaskan, GRC adalah “mesin utama” yang memandu perjalanan dari ketahanan menuju keberlanjutan. GRC dipahami sebagai kerangka kerja terintegrasi yang menyatukan tiga pilar: tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan.
Governance (Tata Kelola): Struktur, aturan, dan proses untuk mengarahkan serta mengendalikan organisasi. Tata kelola yang baik, menurutnya, adalah tone from the top yang membentuk reputasi sekaligus harga diri organisasi.
Risk Management (Manajemen Risiko): Proses mengidentifikasi, menilai, mengelola, memitigasi, dan memantau risiko yang berpotensi menghambat pencapaian tujuan.
Compliance (Kepatuhan): Upaya memastikan organisasi mematuhi hukum, regulasi, standar, serta kebijakan internal yang berlaku, termasuk terkait keselamatan kerja, privasi data, hingga pelaporan ESG.
“Konsep resilience to sustainability memandang perjalanan ini bukan sebagai dua tujuan terpisah, melainkan sebuah rangkaian berkesinambungan, dan GRC adalah peta serta kompasnya,” tegasnya.
Ketua KNKG menggambarkan perjalanan organisasi melalui dua tahap penting:
1. Membangun Ketahanan
Pada tahap awal, organisasi menggunakan GRC untuk memastikan kelangsungan hidup dan stabilitas. Tata kelola menetapkan struktur krisis yang jelas, manajemen risiko mengantisipasi ancaman operasional seperti serangan siber atau gangguan rantai pasok, sementara kepatuhan menjaga agar perusahaan tidak melanggar aturan mendasar yang bisa menghentikan operasional.
2. Memimpin Menuju Keberlanjutan
Setelah fondasi ketahanan terbentuk, organisasi memperluas cakupan GRC untuk mengelola isu-isu keberlanjutan jangka panjang, mulai dari risiko transisi menuju ekonomi rendah karbon, risiko iklim fisik akibat cuaca ekstrem, hingga risiko sosial terkait praktik ketenagakerjaan. Tata kelola di tahap ini juga menuntut dewan direksi untuk mengintegrasikan tujuan keberlanjutan ke dalam strategi inti dan menetapkan indikator kinerja utama (KPI) terkait ESG.
Paradigma Kepemimpinan Strategis
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberlanjutan adalah tujuan akhir kesuksesan sebuah organisasi. “Jangka panjang sejati hanya dapat dicapai dengan menjadi organisasi yang bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial. Tidak mungkin kita tidak bertanggung jawab lingkungan dan sosial,” katanya.
Menurutnya, kerangka kerja GRC yang matang dan terintegrasi adalah alat paling efektif untuk mengelola risiko jangka pendek maupun jangka panjang secara holistik. Hal ini memastikan organisasi tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan cara yang benar.
Apresiasi untuk TOP GRC Awards
Di akhir sambutannya, Ketua KNKG menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan Top GRC Awards 2025 yang konsisten memberikan penghargaan kepada perusahaan-perusahaan berprestasi di bidang tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan.
“Penerapan GRC menjadi faktor penting dalam keberlangsungan operasional perusahaan serta menjaga kepercayaan dari seluruh pemangku kepentingan. Semoga penghargaan ini menjadi pemacu sekaligus pemicu semangat untuk semakin memajukan praktik governance, risk management, dan compliance di Indonesia,” ujarnya.
Ia juga mengucapkan selamat kepada para penerima penghargaan yang diumumkan dalam ajang tersebut.
