TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Perjuangan Konservasi Mangrove Pokmaswas Muara Tangguh Pangkahwetan

Albarsyah
23 September 2025 | 11:07
rubrik: Business Info
Perjuangan Konservasi Mangrove Pokmaswas Muara Tangguh Pangkahwetan

Pengembangan Ekowisata Banyuurip Mangrove Center (BMC), dan Selamatkan Lingkungan Hidup Ujungpangkah.

Jakarta, TopBusiness – Saka Indonesia Pangkah Limited (SIPL) terpanggil, sekaligus menjalankan inisiatif strategis perusahaan untuk mendukung upaya pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan berbasis konservasi dan ekowisata.

Maka, program dilaksanakan di Kawasan  pesisir Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik. Program ini berfokus pada penyelesaian permasalahan lingkungan yang ada di pesisir Ujungpangkah, di antaranya, penurunan luasan tutupan lahan hutan mangrove yang disebabkan oleh faktor alam abrasi dan desforestasi oleh masyarakat. Lalu, berkurangnya kuantitas dan kualitas keanekaragaman hayati Kawasan mangrove, keterbatasan kapasitas dan rendahnya kesadaran masyarakat akan pemahaman dalam menjaga dan mengelola lingkungan.

Tujuan dari program adalah untuk mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan konservasi lingkungan, meningkatkan kapasitas dan kemandirian Pokdarwis dan Pokmaswas dalam mengelola ekowisata berbasis mangrove, mengembalikan fungsi ekologis Kawasan pesisir melalui penanaman mangrove secara massif dan berkelanjutan, serta mengembangkan potensi ekonomi lokal melaui pendekatan wisata alam dan konservasi.

Program Pengembangan Konservasi Alam di Kawasan Ujungpangkah telah berjalan sejak tahun 2016 dengan berbagai kontribusi yang diberikan SIPL terhadap masyarakat, diantaranya, penguatan kapasitas dan peran masyarakat lokal, khususnya kelompok sadar wisata (Pokdarwis), kelompok masyarakat Pengawas (Pokmaswas) dan kelompok peduli lingkungan lainnya dalam menjaga dan memanfaatkanpotensi ekosistem pesisir secara berkelanjutan. Pengembangan Ekowisata Banyuurip Mangrove Center (BMC), Ruang Terbuka Hijau Desa Pangkahwetan.serta upaya rahabilitasi mangrove.

Pada tahun 2022, melalui program Konservasi alam SIPL Bersama dengan pemerintah Desa Pangkahwetan dan Pokmaswas Muara Tangguh melakukan inisiasi pembangunan area pembibitan mangrove di area Ruang Terbuka Hijau (RTH)Desa Pangkahwetan. Pembangunan area pembibitan mangrove seluas kurang lebih 400m2 ini dapat menampung bibit mangrove sebanyak 70.000 bibit mangrove. Selain itu SIPL juga berkontribusi pada penguatan kapasitas pengolahan dan praktik pembibitan mangrove.

Sementara kontribusi lainnya dalam bentuk sarana pendukung konservasi adalah gazebo pusaat belajar mangrove, pos pantau Pokmaswas serta area pembibitan mangrove itu sendiri.

Dengan model kolaborasi bersama antara SIPL,Pemerintah Desa dan Kelompok Masyarakat dalam menjalankan program, kini dampak perubahan telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dari adanya program Pengembangan Konservasi Alam, yaitu:

  1. Nilai potensi penurunan emisi kegiatan pengelolaan dan rehabilitasi ekosistem mangrove (vegetasi dan tanah) sebesar 5.180
  2. Peningkatan flora dan fauna, dimana pada tahun 2024 jumlah jenis tumbuhan di Ujungpangkah ditemukan sebanyak 125 jenis (tahun2024). Sementara pada tahun 2023 ditemukan sebanyak 22 jenis. Selain itu, pada tahun 2024 ditemukan sebanyak 27 jenis burung di area mangrove Banyuurip, sedangkan tahun 2023 ditemukan sebanyak 13 jenis burung.
  3. Peningkatan pendapatan dari pengelolaan ekowisata mangrove sebesar Rp 800.000/0rg/bln
  4. Peningkatan pendapatan dari pembibitan mangrove sebesar Rp 5.000.000/org/bln
  5. Peningkatan pendapatan dari kegiatan penanaman mangrove sebesar Rp 150.000/org/hari
  6. Terimplementasinya kegiatan penenaman mangrove SIPL sebanyak 366.130 (inventarisasi penanaman SIPL tahun 2009-2025)
BACA JUGA:   Kimia Farma Segera Rilis Surat Utang Rp 1,5 Triliun

Ketika team media energi ibukota sedang melakukan media visit JABANUSA ke Ecowisata Banyuurip Mangrove Center (BMC). Di tempat BMC itu sedang ada training dari sekolah untuk kegiatan mangrove dari pembudidayaan hingga perawatan. Ada sebagian bibit tanaman yang belum tersiram air. Sesekali derai tawa mereka terdengar. Rupanya inilah kali pertama mereka mengenal, sekaligus menyiram bibit tanaman mangrove yang terhampar di lahan seluas kurang lebih 50 meter x 90 meter.

Seusai menyemprotkan air ke bibit mangrove, Farah, siswi yang duduk di kelas VI SDN 305 Gresik mengaku senang belajar langsung di areal pembibitan mangrove. “Senang aja,” katanya, singkat. Dengan malu-malu, Farah yang mengenakan kerudung putih mengatakan, dirinya baru kali ini datang ke lahan pembibitan tanaman pencegah irosi dan abrasi.

Tidak hanya Farah. Ega, siswa yang kini duduk di kelas VI SDN 305 Gresik juga mengamini pernyataan Farah. “Tadi nyabutan bibit mangrove yang mati,” kata Ega, sembari tertawa kecil

Dia pun tidak sungkan mengaku senang belajar di pembibitan mangrove. “Mangrove untuk memecah gelombang air laut yang besar menjadi gelombang air laut yang kecil,” ujarnya.

Ke datangan pelajar SD Negeri 305 didampingi oleh Auliyatus Saadah, guru kelas VI UPT SDN 305 Gresik. Menurutnya, kungjungan anak didiknya ke lahan pembibitan tanaman mangrove dimaksudkan sebagai edukasi mangrove. “Di Kelas VI ada pelajaran mangrove,” katanya.

Sebagai guru kelas, dirinya berkewajiban untuk menjelaskan pada anak didiknya soal manfaat mangrove. “Buahnya digunakan untuk apa. Ini agar anak didik bisa mengetahui mangrove,” ujarnya. Apalagi posisi Pangkah Wetan terletak di pesisir yang rawan abrasi.

Dia berharap anak didiknya mengetahui cara menanam dan memelihara mangrove. “Anak didik bisa mempelajari lingkungan hidup,” ujar Aliyatus seraya mengapresiasi PGN Saka yang memfasilitasi program pembibitan mangrove. “Program ini bagus sekali. Apalagi bisa mengedukasi pelajar,” tandasnya.

BACA JUGA:   Upaya Menaikkan Daya Saing Industri melalui Aksi Dekarbonisasi Industri

Kehadiran pelajar SD Negeri 305 Gresik tersebut diapresiasi Aunillah, Ketua Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas). Menurutnya, lahan pembibitan mangrove memang dimanfaatkan pula oleh para pelajar sebagai edukasi lingkungan hidup. Ada beberapa lembaga pendidikan dasar datang. “Ada Madrasah Ibtidaiyah dan lembaga pendidikan SD lain,” katanya.

Program Pembibitan Mangrove

Sebelum berdirinya program pembibitan mangrove, pihaknya membeli bibit di Tuban dan Pasuruan. Program Pembibitan Mangrove didirikan pada akhir Agustus 2023. Semula terdapat 80.000 bibit mangrove yang dikembangkan. Kemudian sebanyak 70 ribuan bibit ditanam ke beberapa wilayah. Diantaranya ke wilayah Kali Lewean di Pangkah Kulon, Mangrove Center di Banyuurip, Kali Sumbalan di Pangkah Wetan, dan Kali Rojula di Pangkah Wetan.

Menurut data yang dicatat Kelompok Muara Tangguh Desa Pangkah Wetan, yang diketuai oleh Aunillah, saat ini terdapat 92.000 bibit mangrove. “Kita membeli bibit per batang Rp300 Kalau sudah tumbuh 3-5 daun siap tanam dijual Rp1.500 per pohon,” ungkapnya.

Menanam bibit mangrove di pesisir pantai tentu berbeda dengan menaman di daratan. Tantangannya saat menanam ada ombak besar atau musim/cuaca yang tidak bersahabat dan cuaca terik. “Kita menggunakan alat yang dinamakan Pancalan, semacam ski lumpur. Untuk dapat menggunakan alat Pancalan ini harus ada keseimbangan tubuh,” ungkapnya. Jadi tidak semua orang dapat menggunakan Pancalan.

Kenapa harus menggunakan Pancalan? “Karena kita tidak bisa menanam bibit mangrove di lumpur tanpa gunakan pancalan. Kita tidak bisa berdiri di atas lumpur atau terperosok dalam lumpur,” paparnya sembari menjelaskan para pekerja penanam bibit terdiri dari 30 – 35 orang untuk 10.000 bibit mangrove.

Lebih jauh Aunillah mengutarakan support PGN Saka sangat besar untuk merealisasikan Program Pembibitan Mangrove. “Pionir penanaman dan pembibitan mangrove,” tegas Aunillah.

Pihak PGN Saka tidak menampik pernyataan Aunillah. External Relations Supervisor PGN Saka, Subali mengaku tidak mudah mengajak masyarakat Desa Pangkah Wetan untuk menjadi petani karena habbit warga adalah petambak dan nelayan.

“Kebiasaan nelayan adalah pagi berangkat, siang pulang dan dapat uang. Sementara petani untuk mendapatkan uang dibutuhkan waktu tiga hingga empat bulan,” aku Subali pada Energindo, Rabu (17/9/2025) di lahan pembibitan Mangrove Desa Pangkah Wetan. Mengubah mindset tidak mudah, dibutuhkan strategi, lanjutnya.

Apa strateginya? “Strateginya, memberikan waktu jangka panjang. Kita ada kerjasama dengan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University, untuk menyadarkan masyarakat. Bila mangrovenya lestari maka sirkulasi air di tambak makin lancar sehingga udang, kepiting bakau, dan kerang makin bagus serta berkelanjutan. Maka tagline program kita namakan PANCALAN (Pangkah, Cantik, Lestari, Berkelanjutan).

BACA JUGA:   Anak Usaha SSIA Promosikan Investasi di Subang ke Investor Tiongkok

Disamping itu, PGN Saka juga mengajak studi banding ke lokasi pembibitan yang telah bagus. Memberi pencerahan membibit adalah usaha tidak sulit bila ada kemauan.

PGN Saka mengedukasi warga bahwa Pangkah Wetan selain menjadi Muara Bengawan Solo juga merupakan desa paling luas di Kabupaten Gresik. Luasnya setara dengan satu kecamatan di Gresik karena sedimen Bengawan Solo. Bila tidak dijaga maka luasnya akan semakin berkurang karena abrasi dan lain sebagainya. Oleh karenanya, penanaman dan pembibitan mangrove menjadi solusi alternatif melestarikannya melalui program penanaman dan pembibitan mangrove melalui Kelompok Pengawas Masyarakat.

Gerakan sektor lingkungan PGN Saka turut disokong oleh Kepala Desa Pangkah Wetan Syaifullah Mahdi. Menurutnya PGN Saka tidak sekadar menjadi champion. Bahkan menjadi sales untuk pengembangan di beberapa perusahaan lainnya, seperti Smelting Freeport Indonesia. “Ia tawarkan bahwa kelompok binaan PGN Saka juga menyediakan bibit mangrove,” kata Syaifullah. Dia menambahkan, upaya penanaman dan pembibitan mangrove di daerahnya diapresiasi oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono.

Menteri KLHK Siti Nurbaya periode sebelum ini, lanjut Syaifullah, juga mengapresiasi gerakan ini dengan menampilkan aksi penanaman dan pembibitan mangrove di medsos IG pribadi menteri. Tidak kalah menarik, Ibu Menteri salut terhadap cara penanaman mangrove dengan menggunakan teknologi sederhana PANCALAN/Ski Lumpur karya anak Desa Pangkah Wetan. “Metode penanaman yang efektif, cepat, efisien dan sederhana,” cetus Syaifullah.

Seiring perkembangan, gerakan PGN Saka diduplikasi oleh stakeholders lain. Pertamina Patra Niaga dan perusahaan-perusahaan lain turut menanam mangrove. “Champion pertamanya adalah PGN Saka,” tegas Subali.

Bahkan, Gubernur Jawa Timur dan Dirjen KLH mengapresiasi gerakan tanam dan pembibitan mangrove melalui penghargaan. SKK Migas menetapkan PGN Saka walaupun KKKS kecil, sebagai juara III Tingkat Nasional untuk Program Penanaman Mangrove.

Sebagai catatan, target potensi luas wilayah penanaman mangrove di Desa Pangkah Wetan sekitar 1500 hektar. Selain itu, gerakan pembibitan mangrove sebagai upaya untuk mewujudkan swasembada bibit mangrove.

Tags: SIPL
Previous Post

RI Siap Gandeng Produsen Baterai Mobil Listrik Turki

Next Post

Media Visit Dewan Juri TOP BUMD ke Wonosobo, Pastikan Siap Serap Aspirasi dari Banyak BUMD

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR