Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan (IHSG) sampai akhir tahun ini diprediksi bertahan di level 8.000, yang didorong oleh kondisi makro ekonomi Indonesia yang relatif stabil pascapengangkatan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai menteri keuangan (menkeu).
Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Wisnubroto menerangkan bahwa kebijakan fiskal dari Menkeu Purbaya yang menginjeksi sektor perbankan Rp 200 triliun akan membuat likuiditas sektor keuangan RI melonggar.
“Impaknya adalah pertumbuhan uang beredar di masyarakat meningkat. Selain itu, ekspektasi akan penurunan suku bunga juga cukup besar setelah Bank Indonesia menurunkan BI rate dalam setahun ini hingga 150 basis poin,” kata Rully dalam Media Day Mirae Asset, Selasa (23/9/2025).
Rully mengakui bahwa meski Bank Indonesia sejak September 2024 hingga September 2025 telah menurunkan suku bunga acuan hingga 150 basis poin, perbankan masih belum terlalu agresif menurunkan suku bunga kredit. Bahkan dalam setahun ini masih ada kenaikan suku bunga simpanan di bank-bank nasional.
“Artinya masih ada perebutan uang beredar. Diharapkan dengan adanya likuiditas yang semakin longgar karena ada injeksi Rp 200 triliun dan penurunan suku bunga acuan BI, akan membuat bunga kredit semakin turun dan akhirnya bisa mengakselerasi pertumbuhan kredit bank,” ujar Rully.
Dia optimistis pertumbuhan kredit perbankan tahun ini masih sesuai ekspektasi Bank Indonesia, yakni sebesar 8-11 persen.
Kondisi ekonomi RI juga tercermin dari angka defisit fiskal sampai Agustus 2025 yang masih terjaga dengan baik, yakni sebesar 1,35 persen. Pemerintah menargetkan defisit APBN 2025 ini sebesar Rp 662 triliun, atau 28 persen dari produk domestik bruto (PDB). “Jadi angka defisit kita saat ini masih belum signifikan,” ucapnya.
Terlebih, pemerintah juga banyak meluncurkan paket stimulus fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Empat Saham Konglomerat
Terkait penguatan IHSG hingga menembus level 8.000 dalam beberapa hari terakhir, menurut Rully, hal itu lebih didorong oleh saham emiten konglomerat, sehingga belum mampu mencerminkan perbaikan kinerja pasar saham secara fundamental.
Ada empat saham konglomerasi yang banyak mendongkrak IHSG,yakni saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), hingga PT Multipolar Technology Tbk (MLPT). “Jadi kalau tidak ada saham-saham tersebut, mungkin masih berada di bawah 7.500,” kata Rully.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham DCII meroket 612,59%, DSSA melonjak 206,76%, BRPT terbang 250%, dan MLPT melesat 749,86% sepanjang tahun berjalan 2025. Empat saham itu juga tercatat sebagai pendorong utama atau top leaders IHSG secara year-to-date (YtD).
Adapun, laju IHSG di level 8.000 pertama kali terjadi saat indeks berhasil ditutup di level 8.025,17 pada Rabu (17/9/2025). Setelahnya, indeks mengukir level penutupan tertinggi sepanjang masa pada 19 September 2025 di level 8.051,12.
