Jakarta, TopBusiness – ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) sebagai perusahaan hulu migas dari USA, turut berinvestasi dalam mengelola sumber daya alam Indonesia.
EMCL dalam beroperasi mencari potensi minyak dan gas yang terkandung dalam perut bumi, turut membangun perekonomian daerah agar bisa bangkit, maka program pengembangan masyarakat (PPM) terus digiatkan di wilayah Kerja Produksi (WKP) Bojonegoro.
Salah satu program besutan EMCL yaitu membangun sekolah lapang pertanian (SLP), dan berharap akan tercipta petani tangguh guna menciptakan berbagai benih unggul dari sekolah lapang tersebut.
Alhasil, pola pertanian alami yang diterapkan ECML melalui petani Bojonegoro meningkatkan pendapatan dan terjaga Lingkungan.
“Sekolah lapang ini diciptakan sebagai laboratorium perbenihan di seluruh produk pertanian dan sayur-sayuran agar ketahanan pangan bisa tercipta dengan bibit unggul yang telah di budidayakan dalam pertanian dan pembenihan bibit di sekolah lapang EMCL,” kata Marsha C. Ariej strategic Community Invesment EMCL.
Menurut Marsha, program sekolah lapang yang digagas EMC dirasakan program paling bagus. “Kami perusahaan migas sangat konsen dan peduli akan ketahanan pangan nasional dan para petani di Bojonegoro ini menerapkan pertanian dengan ramah lingkungan, tanpa pestisida. Tentunya program sekolah lapang ini akan memberikan kontribusi besar dalam pembangunan ketahanan pangan nasional”, ucapnya.
Dikatakan, pihaknya melakukan riset dan uji coba benih unggul di perpadian dengan 7 varietas yang sudah dihasilkan dengan keunggulan padi tahan kekeringan serta tahan dengan lahan basah dan tergenang.
“Kami menghasilkan produk sayuran yang higienis tanpa pestisida, harapan kami Bojonegoro sebagai penyumbang bagi ketahanan pangan nasional,” ujar Marsha.
Petani di Desa Brabowan, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, dalam beberapa tahun ini sudah menerapkan pertanian ekologis yang ramah lingkungan dan terbukti menekan biaya produksi dan memperbaiki kualitas tanah.
Salah satu petani lasmidi, berhasil mengurangi ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia dengan menggunakan pupuk kompos dan cair buatan sendiri serta mengandalkan predator alami untuk mengendalikan hama. Metode ini tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga meningkatkan keuntungan dari hasil panen cabai sehat dan produktif.
Transformasi ini dimulai sejak Lasmidi mengikuti Sekolah Lapangan Pertanian (SLP) yang digagas ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) Bersama Yayasan Daun Bendera (FIELD Indonesia). Program ini mendorong petani untuk berkelompok, saling mendukung dan berbagi pengetahuan.
Sejak 2020, lebih dari 600 petani dari delapan desa di Kecamatan Gayam dan Kalitidu telah bergabung dan menerapkan metode pertanian ekologis. EMCL menyatakan bahwa dukungan mereka berfokus pada kebutuhan petani di sekitar Banyu Urip dan Kedung Keris, dengan tujuan meningkatkan kesejahteran petani.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro turut mendukung perubahan ini. Menurut Yuni Arba`atun dari Dinas Peranian dan Peternakan, SLP telah memberikan perspektif baru dalam dunia pertanian lokal dan membentuk ekosistem pertanian yang lebih sehat. Kerusakan tanah mulai berkurang dan petani menjadi lebih mandiri.
Lasmidi pun optimis menghadapi musim panen, yakoin bahwa pendekatan ekologis yang dijalnkan akan terus membawa keuntungan dan keberlanjutan bagi komunitas petani di Brabowan.
Sekolah Lapang Menjadi Sentra Penelitiian bibit dan Benih
Keberadaan sekolah lapang pertanian yang digagas EMCL ini memiliki tujuan mulia dalam rangka menjadi sentra peneliatian bibit dan benih pertanian dan sayuran-sayuran serta menerapkan pola pertanian sehat dan ekologis dengan memanfaatkan bahan baku alami untuk pertanian agar menghasilkan produk unggul bebas pestisida dan kesuburan tanah pun semakin sehat.
Di sekolah pertanian ini telah dilakukan uji benih pani tahan dengan rendaman air padi yang tergenang dengan air melimpah. Pun, dikembangkan benih padi dengan varietas tahan kekeringan, jadi padi bisa ditanam di daearah kering dan bisa menghasilkkan panen padi yang cukup baik.
Di sekolah lapang ini sudah menghasilan bibit unggul padi tahan kering dan tahan basah dan pengembangan padi terus dilakukan uji tanam, dan sudah bisa menghasilkan bibit unggul jenis padi tahan kering dan tahan basah, dengan presatsi apik para petani dan ini sudah menghasilkan bibit padi dengan varietas 7 bibit padi unggulan, dan juga pula bibit dan benih padi unggulan ini pun sudah dilakukan uji tanam di sekolah lapang ini, dan hasilnya selalu dipantau dan untuk bisa disebarkan secara luas benih padi unggulan ini melalui tahapan uji tanam selama 30 bulan, jadi setelah uji tana mini bisa didapatkan hasil yang diharapkan.
Dan juga menjadi kebangaan pula ada 2 orang petani, sekolah lapang EMCL ke negara Vietnam, kegiatan ini juga para petani sekolah lapang mendapatkan kesempatan untuk presentasi di kalangan pertemuan forum petani se-ASEAN.

