Jakarta, TopBusiness – ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK MIGAS), melalui program pengembangan masyarakat (PPM), membangun kelompok komunitas Perempuan Indonesia Merajut (PRIMA).
Siti Nurul Lestari, salah satu komunitas PRIMA, menegaskan, kami sangat senang sekali dengan PPM yang dilakukan EMCL. “Sebagai kaum wanita yang terlibat di rajutan, sangat menyambut baik kegiatan yang bisa mendongkrak perekonomian keluarga dan bahkan juga sekarang sudah dirasakan sekali hasilnya,” kata Siti Nurul Lestari kepada TopBusiness.id, dalam kunjungan media visit JABANUSA, beberapa waktu lalu.
Dia mengatakan, program PRIMA bisa meningkatkan potensi dan keunggulan daerah Kabupaten Bojonegoro sebagai pemasok rajutan yang sudah bisa menembus pasar luar negeri. “Dan, kami berharap seluruh stakeholder dapat memberikan dukungan positif agar potensi lokal, ini bisa diperhatikan di pasar luar negeri”, tegas Nurul.
Ditegaskan Marsha C. Ariej selaku strategic Community Invesment EMCL, pihaknya sebagai perusahaan hulu migas sangat bangga akan suksesnya program yang menargetkan kaum wanita dan difabel. Komunitas dapat berpartisipasi dalam meningkatkan perekonomian keluarga dan bahkan sekarang ini produk rajutan PRIMA, ini sudah menembus pasar ekspor luar negeri,” ungkap dia.
“Kami terus memberikan pembinaan, dalam hal ini, pengrajin kita diberikan pendidikan untuk bagaimana pricing dengan vendor, aktif bisa speaking dengan bahasa internasional, Inggris, tentunya, karena seluruh buyer luar negeri dengan Bahasa Inggris,” ungkap dia.
Selanjutnya, menurut Marsha, pihaknya juga melakukan training bagi kaum muda atau milenial agar bisa turut bergabung di rumah produksi PRIMA. “Kita fokuskan para milenial agar bisa menggarap porsinya di bidang marketing communication. Juga, bisa membangun brand di ranah digital. Harapan kami, Bojonegoro sebagai produsen sentra rajutan skala rumah tangga bisa tumbuh berkembang dan mendapatkan pasar nasional dan internasional”, jelas Marsha.
Program PRIMA diluncurkan tahun 2018 yang menyasar pada pemberdayaan perempuan (gender) dan penyandang disabilitas yang digagas oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan dukungan penuh SKK MIGAS.
Program PRIMA terus menunjukkan hasil positif di Bojonegoro dan Tuban. Ini terbukti lebih dari 500 perempuan aktif dalam komunitas mejarut dan tidak kurang dari 100 orang telah menjadi perajut mahir, dengan 60 di antaranya tergabung dalam kelompok komunitas Perempuan Indonesia Merajut (PRIMA). Hingga kini lebih dari 26.000 panel rajutan terbuat dan terjual di pasar dalam dan luar negeri dengan penghasilan total mencapai Rp 950 juta per bulan.
Dalam delapan bulan terakhir, para perajut perempuan dan disabilitas berhasil memproduksi 3.950 produk rajutan dengan total pendapatan mencapai Rp 127.000.000. Hampir sebagian besar produknya merupakan hasil kerja sama dengan empat merk fesyen dari Yogyakarta, sementara sisanya dijual sebagai produk merk pribadi.
Program PRIMA pada tahun 2021 mendapatkan apresiasi tertinggi yang diberikan atas kontribusi perusahaan hulu migas dalam mencapai SDGs yakni berupa penghargaan Platinum dari Indonesia Suistanable Development Goals Award (ISDA) bidang pemberdayaan ekonomi perempuan. ISDA mengakui program tersebut dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Goals.
Zulfa Nurin, dari Zulfa Rajut yang menjadi pelatih sekaligus mitra pembeli memberikan apresiasi para perempuan di Bojonegoro yang menguasai teknik baru. Teknik-teknik baru diajarkan untuk memenuhi pesanan dari perusahaan. Zulfa membeli 200 gantungan kunci setelah pelatihan, dan akan melanjutkan pemesanan jika respon pasar mumuaskan.
Kepala Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, Rakhmat Ahsan memberikan dukungan penuh terhadap program ini. “Mereka mendorong para perajut untuk terus berinovasi dan memenuhi permintaan pasar demi mencapai kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Lebih dari itu, Pemdes Bonorejo memfasilitasi para perajut dengan menyediakan gerai untuk berjualan,” pungkasnya.
