Jakarta, TopBusiness – Di dunia logistik yang keras, persaingan biasanya diukur dari armada, teknologi, dan jaringan distribusi. Namun PT Cipta Krida Bahari (CKB) memilih cara berbeda, yakni sumber daya manusia sebagai pusat mesin pertumbuhan.
Hal ini diungkap Muhammad Isarino, Head of Human Capital and Support Services PT Cipta Krida Bahari. Menurutnya, bagi perusahaan ini, inovasi terbesar bukanlah truk tambahan atau gudang baru, melainkan talenta yang terus diasah untuk membawa perusahaan ke level berikutnya.
“Kami percaya, keberhasilan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan aset fisik, tetapi juga oleh kualitas dan kompetensi sumber daya manusianya,” ujar Rino dalam wawancara penjurian TOP Human Capital Awards 2025, Rabu (1/10/2025).
Dalam kesempatan ini juga hadir, Sari Yunita, Div. Head HC & Support Services HO, JASUM, P&S, Aisha Octavianti, Sr. Specialist Talent & Performance Management, dan Christine Natalia Purba selaku Officer Human Capital HO & Shipping.
CKB merupakan bagian dari Grup Tiara Marga Trakindo yang bergerak di bidang logistik industri. Selama 28 tahun, perusahaan ini menggarap segmen B2B dengan fokus pada industri mining, heavy equipment, oil and gas, power plant, hingga manufacturing. Saat ini, CKB beroperasi di 46 lokasi di 42 kota, dari Banda Aceh hingga Sorong.
“Kami ini memang bermainnya di industri, jadi fokusnya di B2B. Jadi di sektor industri seperti mining, heavy equipment, oil and gas, power plant, manufacturing, itu memang menjadi core business kami,” jelas Rino.
Posisi CKB di pasar logistik B2B pun cukup kuat. Menurut data Frost & Sullivan 2023, perusahaan ini berada di urutan keempat setelah DHL, UNINAR, dan LDVX. Meski demikian, CKB memiliki keunggulan di sektor mining dan oil and gas yang menjadi core bisnisnya.
Kini, perusahaan tengah menapaki fase krusial. Tahun 2025 menandai tahap akhir dari strategi lima tahunan CKB (2021–2025) dengan tagline “Double Up”, target melipatgandakan revenue dan laba bersih dibandingkan 2020.
“Target kami tahun ini adalah revenue Rp2,6 triliun dan laba bersih Rp225 miliar. Jadi memang targetnya melipatgandakan dibandingkan tahun 2020,” ungkap Rino.
Human Capital Sebagai Pengungkit Bisnis
Ambisi besar ini tentu membutuhkan fondasi kuat di sisi SDM. Karena itu, CKB menempatkan strategi Human Capital dalam tiga fase: stabilize the foundation, build up, dan reset the benchmark. Rino menegaskan, peran HC bukan hanya administratif, melainkan enabler bagi kinerja bisnis.
“Fokus kami adalah menciptakan organisasi yang sesuai kebutuhan bisnis, memastikan capacity dan capability terpenuhi melalui learning dan talent development,” bebernya.
Kerangka kerja HC CKB mengikuti people development framework Grup Tiara Marga Trakindo, dengan fokus pada peningkatan employee experience, motivasi, serta produktivitas.
Tantangan pun terus berkembang. Jika 6–7 tahun lalu mayoritas karyawan masih Gen X, kini mayoritas sudah bergeser ke milenial dan Gen Z dengan pola pikir berbeda. Karena itu, strategi pengelolaan SDM harus dirancang adaptif agar generasi baru ini tetap produktif sekaligus engaged.
Pemenuhan tenaga kerja ditempuh lewat dua jalur: eksternal (prohire, new entry, dan third party labor sourcing) serta internal (promosi dan rotasi). Dari total 1.800 karyawan, sekitar 700 berasal dari labor sourcing, terutama driver, operator forklift, helper, dan admin warehouse. Sementara itu, untuk posisi strategis, CKB menargetkan rasio 70:30 dengan prioritas pemenuhan dari internal.
Dalam aspek performance & talent management, karyawan dinilai berdasarkan dua dimensi: kompetensi (potential) dan KPI (performance). Evaluasi dilakukan setiap tahun melalui nine-box grid untuk memetakan kategori talent, mulai dari high talent yang diprioritaskan hingga under performer yang diberi Performance Improvement Plan. Pemetaan ini menjadi dasar bagi salary increment maupun annual bonus.
Inovasi Program HC
Untuk mendukung pengembangan kompetensi, CKB membangun Logistic Academy yang fokus pada pelatihan teknis. Sementara program kepemimpinan difasilitasi holding ABM Investama. Prinsipnya sederhana namun fundamental: “didik dulu baru duduk.”
Dari sisi budaya, sejak tiga tahun terakhir CKB menginternalisasi winning culture dengan spirit warRinor—berani menghadapi tantangan untuk menang. Implementasinya dilakukan bertahap, mulai dari awareness, understanding, hingga perubahan perilaku nyata di lapangan.
Inovasi juga menjadi napas yang terus ditumbuhkan. Perusahaan menerapkan 4DX di unit bisnis dan Six Sigma di level korporat, serta rutin menggelar Innovation Challenge. Hasilnya terlihat: Silver di OPEXCON dan Bronze di Stevie Award Asia Pasifik pada tahun lalu.
“Kami terus mendorong budaya kolaborasi dan inovasi. Setiap karyawan diberikan ruang untuk berkontribusi, menyampaikan ide, bahkan menjadi bagian dari transformasi digital perusahaan,” tegas Rino.
Lebih dari sekadar mengejar target finansial, CKB juga memiliki ambisi menjadi best employer of choice di industri logistik B2B. Salah satu langkah strategisnya adalah digitalisasi HR: mulai dari onboarding hingga offboarding kini sepenuhnya berbasis SAP SuccessFactors (SAP Falcon).
Bagi Rino, arah besar perusahaan ini jelas: investasi terpenting bukanlah pada aset fisik, melainkan pada manusianya.
“Human capital adalah fondasi keberlanjutan bisnis kami. Investasi terbesar kami adalah pada manusia,” tutupnya.
