Jakarta, TopBusiness — PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) atau PT Vale, salah satu produsen nikel terkemuka di Indonesia, hari ini mengumumkan kinerja operasional dan keuangan untuk triwulan ketiga tahun 2025 (3T25) serta periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2025 (9M25).
PT Vale mencatat pendapatan sebesar US$278,6 juta pada 3T25, meningkat 27% dibandingkan triwulan sebelumnya, yang terutama didorong oleh volume penjualan yang lebih tinggi dari produk nikel matte dan bijih saprolit.
Harga rata-rata realisasi nikel matte tetap stabil di angka US$12.272 per ton, mencerminkan kondisi pasar yang stabil meskipun terjadi normalisasi harga secara umum dibandingkan tahun lalu.
Untuk periode sembilan bulan, total pendapatan mencapai US$705,4 juta, relatif sejalan dengan US$708,6 juta yang tercatat pada periode yang sama tahun 2024.
Perseroan juga mencatat peningkatan signifikan dalam profitabilitas, dengan EBITDA naik menjadi US$74,6 juta pada 3T25 dari AS$40,0 juta pada 2T25, dan laba bersih meningkat menjadi US$27,2 juta dari AS$3,5 juta pada triwulan sebelumnya.
“Hasil keuangan kami pada triwulan ini menunjukkan peningkatan profitabilitas yang didorong oleh produksi yang lebih tinggi, peningkatan nilai jual nikel, dan pengendalian biaya yang disiplin,” ujar Rizky Putra, Direktur dan Chief Financial Officer PT Vale, dalam keterbukaa informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu (29/10/2025).
“Kami juga mulai melihat kontribusi dari penjualan bijih saprolit Bahodopi, yang memperkuat kekuatan portofolio kami yang terdiversifikasi,” imbuhnya.
Kineja Operasional
Vale sendiri mencatat kemajuan yang solid di seluruh operasinya selama triwulan ini, didukung oleh peningkatan kinerja produksi dan keberhasilan dimulainya operasi di lokasi Bahodopi.
Produksi nikel dalam matte mencapai 19.391 metrik ton, meningkat 4% dibandingkan triwulan sebelumnya. Untuk sembilan bulan pertama tahun 2025, total produksi mencapai 54.975 metrik ton, naik 4% dibandingkan tahun sebelumnya.
Hasil yang membaik ini mencerminkan perencanaan pemeliharaan yang proaktif oleh Perseroan di awal tahun, yang memungkinkan proses produksi berjalan lebih lancar dan efisien di paruh kedua tahun ini.
Selain operasi utama nikel matte, PT Vale juga memperkuat portofolio komersialnya dengan penjualan perdana bijih nikel saprolit dari Blok Bahodopi dan Pomalaa.
Awalnya direncanakan pada triwulan keempat, namun tambang Bahodopi berhasil melakukan pengiriman lebih awal pada Juli 2025.
Selama periode sembilan bulan, total penjualan bijih nikel saprolit mencapai 896.263 metrik ton basah, menegaskan kelincahan operasional PT Vale dan responsivitas terhadap peluang pasar.
“Kami senang dengan kemajuan konsisten yang dicapai pada triwulan ini,” ujar Bernardus Irmanto, Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale.
“Kinerja kami mencerminkan dedikasi tim kami dan ketangguhan operasi kami dalam terus beradaptasi dan memberikan nilai di tengah dinamika pasar. Kami tetap fokus pada keunggulan operasional, keselamatan, dan kontribusi berkelanjutan terhadap pertumbuhan Indonesia,” imbuh Bernardus.
Efisiensi
Selama triwulan ini, PT Vale mencatat peningkatan moderat dalam konsumsi energi seiring dengan meningkatnya aktivitas produksi.
Di saat yang sama, harga bahan bakar yang lebih rendah dan optimalisasi pengadaan yang berkelanjutan mendukung efisiensi biaya lebih lanjut. Biaya kas per unit penjualan nikel matte turun menjadi AS$9.304 per ton, dibandingkan AS$9.384 per ton pada triwulan sebelumnya.
Efisiensi ini, dikombinasikan dengan operasi yang stabil, menegaskan komitmen PT Vale untuk menjaga daya saing dan mengelola biaya secara bijak dalam lingkungan pasar yang terus berkembang.
Sementara untuk investasi, per 30 September 2025, kas dan setara kas PT Vale tercatat sebesar AS$496,3 juta, dibandingkan AS$506,7 juta pada akhir Juni. Belanja modal selama periode sembilan bulan mencapai AS$331,4 juta, lebih tinggi dibandingkan AS$200,9 juta pada tahun sebelumnya, mencerminkan percepatan kemajuan proyek Bahodopi dan Pomalaa.
PT Vale terus berinvestasi untuk pertumbuhan jangka panjang, dengan berpedoman pada prinsip pertambangan yang bertanggung jawab dan keunggulan operasional.
