Jakarta, TopBusiness—Permintaan lahan industri di kuartal III 2025 sebagian besar didorong oleh investor asal Tiongkok. Hal itu seiring dengan perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Riset pasar dari Cushman and Wakefield Indonesia, yang diterima redaksi Topbusiness.id (3/11/2025), menjelaskan hal itu.
Transaksi penjualan lahan selama kuartal itu tercatat sebesar 28,4 hektar, menandai penurunan sebesar 46,4% YoY/year on year.
Penurunan ini disebabkan oleh tingginya permintaan dari sektor otomotif kendaraan listrik (EV/electric vehicle) pada periode yang sama tahun lalu (kuartal III 2025, permintaan tinggi itu tak terjadi lagi—red.).
Pada kuartal ini, industri tekstil menjadi pemimpin dalam permintaan, diikuti oleh sektor kosmetik dan barang konsumsi cepat edar (FMCG).
Sementara itu, per September 2025, tingkat hunian rata-rata pergudangan sewa meningkat menjadi 83,4%, mencerminkan kenaikan sebesar 1,8% dibandingkan kuartal sebelumnya. Ekspansi pasar terus dipimpin oleh sektor logistik, dengan penyedia logistik pihak ketiga (3PL) dan perusahaan yang bergerak di bidang otomotif tetap menjadi kontributor utama, khususnya di sub-pasar Bekasi dan Karawang.
Harga Rata-rata
Pada akhir kuartal tiga tahun 2025, rata-rata harga lahan industri mencapai Rp 2.891.000/m2, mencerminkan kenaikan sebesar 3,5% YoY. Hal ini menunjukkan tren kenaikan moderat yang berlanjut dari kuartal sebelumnya.
Riset pasar itu pun menjelaskan bahwa, sebaliknya, rata-rata tarif sewa gudang tetap relatif stabil di angka Rp 79.980/m2/bulan.
