Jakarta, TopBusiness — PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (IDX: KRAS) tengah mempersiapkan kawasan industri ketiga seluas 2.000 hektare (Ha) menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Langkah ini menjadi bagian dari transformasi perusahaan untuk memperkuat kontribusi sektor non-baja sebagai sumber pendapatan baru.
“Saat ini kami mempunyai dua kawasan industri. Kita akan kembangkan kawasan industri ketiga yang rencananya akan kami jadikan kawasan ekonomi khusus,” ujar Direktur Komersial, Pengembangan Usaha dan Portofolio Krakatau Steel, Hernowo dalam keterangannya yang dikutip Rabu (26/11/2025).
Kawasan baru ini akan difokuskan pada pengembangan industrialisasi baja, industri petrokimia, industri farmasi, renewable feedstock, serta berbagai sektor yang mengusung prinsip green industry. Dengan skema insentif KEK, manajemen berharap kawasan tersebut dapat menarik lebih banyak investasi strategis.
Saat ini Krakatau Steel telah mengelola dua kawasan industri dengan total hampir 3.000 hektare dan sekitar 100 tenant aktif. Melihat perkembangan tersebut, pengembangan kawasan ketiga dinilai menjadi momentum penting memperluas basis bisnis di luar baja.
Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menegaskan bahwa di tengah dinamika pergerakan saham, manajemen tetap berfokus pada transformasi menyeluruh. Program efisiensi operasional, perbaikan biaya energi, serta optimalisasi portofolio anak usaha menjadi bagian dari strategi perusahaan memperkuat fundamental jangka panjang.
“Fokus kami menjalankan transformasi operasional, efisiensi biaya, dan memperkuat fundamental jangka panjang. Setiap informasi material pasti kami sampaikan melalui keterbukaan informasi,” ujar Akbar.
Ia menambahkan, berbagai inisiatif tersebut mulai memberikan kepercayaan baru dari investor yang melihat arah transformasi Krakatau Steel semakin positif.
Selain transformasi internal, Krakatau Steel juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pemain global untuk memperkuat posisi perusahaan dalam rantai pasok baja internasional.
Optimisme perseroan semakin besar setelah Krakatau Steel resmi bergabung dengan keluarga besar Danantara, pengelola aset global dengan nilai sekitar US$ 1 triliun. Akbar menilai sinergi tersebut akan mempercepat proses kebangkitan perusahaan.
“Kami sudah masuk dalam keluarga besar Danantara. Kami sangat yakin Krakatau Steel akan bangkit, Krakatau Steel akan kembali menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujarnya.
