Jakarta, TopBusiness—Angka belanja industri kesehatan selama sepuluh tahun terakhir setiap tahun tumbuh 9–10%, tetapi pertumbuhan itu tidak serta-merta menjadi angka pertumbuhan GDP sektor kesehatan. “Hal ini karena banyaknya aktivitas produksi produk kesehatan masih impor,” kata Menteri Kesehatan RI (Menkes), Budi G. Sadikin, dalam keterangan resmi (8/12/2025).
Sebagai pembicara kunci diskusi bertema “Kawasan Ekonomi Khusus Akseleratif, Atraktif: Tingkatkan Investasi dan Lapangan Kerja”, belum lama ini, Budi mengatakan konsekuensi impor itu.
“Yakni, economic activities yang create value, create GDP, dan create jobs itu terjadi di luar negeri,” kata dia dalam diskusi yang digelar di Experience Center, Biomedical Campus, BSD City (Tangerang Selatan).
Karena itu, menkes sangat mendukung adanya inisiatif-inisiatif di Kawasan Ekonomi Khusus, baik manufacturing medical devices, pharmaceutical, hospital, laboratorium, maupun industri kesehatan lainnya, untuk membangun manufacturing facility di Indonesia. Hal itu agar kontribusinya menjadi pertumbuhan ekonomi di dalam negeri dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Ke depan, industri kesehatan akan tumbuh luar biasa karena populasi Indonesia semakin menua, spending kesehatan meningkat, dan belanja kesehatan berpotensi naik dari Rp640 triliun menjadi Rp1.400 triliun.
“Opportunity ini besar sekali, sehingga saya ingin teman-teman terus mendorong konsep membangun industri di dalam negeri, khususnya industri kesehatan,” kata Menkes Budi Sadikin.
Susiwijono Moegiarso, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, menambahkan, “Ketidakpastian ekonomi global masih cukup tinggi dan menjadi faktor penting dalam menentukan arah investasi.”
Kawasan Ekonomi Khusus memiliki peran penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Pengembangan aglomerasi industri di Kawasan Industri dan KEK diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. “KEK dalam Transformasi Ekonomi hadir melalui hilirisasi yang menambah nilai industri manufaktur, pertumbuhan Industri Jasa, ekonomi hijau dan biru, serta integrasi ekonomi domestik ke rantai pasok global, hingga pengembangan teknologi, inovasi dan digitalisasi,” kata Susiwijono.
Mulyawan Gani, Strategy Advisor KEK ETKI Banten/DHUB SEZ menyampaikan, “Dengan daya tarik investasi jangka panjang, KEK menawarkan insentif fiskal seperti tax holiday/tax allowance, perizinan yang lebih sederhana, serta kelancaran arus barang dan tenaga kerja.”
“Kami optimistis bahwa kolaborasi yang solid bersama pemerintah akan memercepat terwujudnya KEK ETKI Banten/DHUB SEZ sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berdampak luas bagi Indonesia.”
Adapun Lindawaty Chandra, Kepala Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK ETKI Banten/DHUB SEZ mengatakan, ”Penyelenggaraan forum tingkat nasional ini menegaskan posisi D-HUB SEZ sebagai salah satu KEK paling prospektif di Indonesia, bukan hanya sebagai kawasan bisnis, tetapi sebagai platform strategis yang menciptakan ekosistem kolaboratif antara pemerintah, industri, dan akademisi.”
“Melalui fasilitas modern, regulasi yang mendukung, dan jejaring internasional, D-HUB SEZ berkomitmen untuk menarik investasi berkualitas tinggi, untuk penciptaan lapangan kerja baru dengan memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta,” kata Lindawaty.
