TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Mengintip Cuan IPO Jumbo

Busthomi
9 December 2025 | 06:41
rubrik: Featured
FOTO2 BURSA EFEK

Bursa Efek Indonesia (Rendy MR/TopBusiness)

Share on FacebookShare on Twitter

Kendati jumlah IPO tak sebanyak 2024, namun masih ada penawaran raksasa yang melantai ke bursa di 2025. Investor pun banyak mengantre. Lantas, apakah cuannya juga tetap tinggi?

Juli 2025 baru memasuki hitungan hari. Tapi dunia investor langsung heboh. Hari kedua di bulan itu, serbuan investor mengantri untuk mulai membeli saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA). Dan memang di tanggal 2-7 Juli itu, emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu tersebut tengah melakukan penawaran awal di periode penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Dan terbukti, ratusan ribu investor pun ikut berpartisipasi. Dalam catatan Bursa EFek Indonesia (BEI), saham CDIA mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed. Bahkan melonjak tinggi. Tak tanggung-tanggung, kelebihannya tembus 563,64 kali dengan total partisipasi 400.126 investor sepanjang masa penawaran.

Antusiasme ini terlihat selama seluruh proses penawaran. Mulai dari masa penawaran awal pada 19-24 Juni 2025 hingga masa penawaran umum pada 2-7 Juli 2025. Dari aksi korporasi itu, CDIA meraup dana segar hingga Rp2,37 triliun. Dengan penerbitan sebanyak 12.482.937.500 lembar saham baru di harga penawaran Rp190 per saham.

Presiden Direktur CDIA, Fransiskus Ruly Aryawan menyampaikan, pencatatan saham perdana ini menjadi momen penting bagi perseroan dalam membangun fondasi yang kuat untuk pertumbuhan jangka panjang. “Kami menyampaikan apresiasi atas kepercayaan investor yang mendukung kesuksesan proses IPO ini,” katanya, kala itu usai pencatatan saham di BEI.

“Asia Tenggara, termasuk Indonesia, saat ini berada dalam fase pertumbuhan industri yang sangat dinamis dan menuntut dukungan infrastruktur yang andal dan efisien,” dia menegaskan. “Kebutuhan akan layanan logistik, kepelabuhanan dan penyimpanan, jaringan energi serta pengelolaan air menjadi potensi yang besar dalam pengembangan perseroan,” imbuh dia memberi penjelasan terkait lini bisnisnya itu.

Potret itu menjadi fenomena salah satu IPO jumbo di 2025. Tercatat, dari 24 perusahaan baru yang melantai ke Bursa hingga akhir November 2025, empat perusahaan masuk kategori IPO jumbo.

Mereka adalah PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menjadi IPO terbesar di sepanjang tahun. Anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tersebut berhasil menggalang dana tembus Rp4,65 triliun.

Disusul CDIA dengan Rp2,37 triliun. Kemudian PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) mengantongi Rp2,30 triliun dan PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) mampu menghimpun dana Rp2,04 triliun. Sehingga total dana IPO hingga akhir November 2025 itu mencapai Rp15,57 triliun.

BACA JUGA:   BEI Incar 35 Emiten Baru 2015; Target 2014 Luput

Semaraknya investor dalam memburu saham baru tak lepas kian menariknya pasar saham di mata investor. Hal ini pun membuat jumlah investor kian menggemuk. “Jumlah investor kita sudah mencapai Rp19,5 juta. Dengan nilai kapitalisasi pasar kita sudah mencapai Rp15.300 triliun dan nilai transaksi harian sudah mencapai Rp16,9 triliun,” sebut Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik.

Sementara data calon emiten baru per 28 November 2025, BEI mencatat sudah ada 13 perusahaan yang siap jadi “Tbk”. Dari 13 ternyata masih ada potensi IPO jumbo. Seperti PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) atau Superbank milik Grup EMTEK. SUPA membidik dana hingga Rp3,06 triliun yang kemungkinan listing tanggal 17 Desember ini.

Lalu ada PT Anugrah Neo Energy Materials, perusahaan tambang nikel dan pengembang rantai pasok baterai kendaraan listrik. Sinyal lainnya datang dari PT Titan Infra Sejahtera, raksasa logistik energi dan batu bara dari Sumatera Selatan.

“Per 28 November, ada 13 perusahaan dalam pipeline IPO saham,” jelas Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, kepada wartawan, baru-baru ini, sembari merajut asa, “Apabila tidak terdapat concern terkait penawaran umum dan pencatatan oleh OJK dan BEI, maka kami perusahaan itu dapat melaksanakan IPO pada sisa tahun ini.”

Dari 13 itu, kata dia, ada tujuh calon emiten berskala besar atau aset di atas Rp250 miliar. Lalu, sebanyak empat di antaranya berskala menengah dengan aset Rp50 miliar sampai Rp250 miliar, serta dua memiliki aset di bawah Rp50 miliar.

Prospek IPO

Proyeksi pasar IPO masih menarik 2026 nanti. Dalam laporan terbarunya, Deloitte menilai, perbaikan kondisi pasar membuat calon emiten semakin mencermati perkembangan pasar modal untuk menentukan momentum terbaik melantai di bursa.

“Hal ini agar mereka dapat memaksimalkan valuasi dan memanfaatkan permintaan likuiditas yang selama ini tertahan, sehingga membuka value yang belum terealisasi,” ujar Tay Hwee Ling, Capital Markets Services Leader Deloitte Southeast Asia, saat konferensi pers yang diikuti TopBusiness.
Deloitte mencatat Malaysia dan Indonesia menjadi pemimpin volume IPO di Asia Tenggara sepanjang 2025. Di Indonesia, terdapat 24 IPO dengan total dana terkumpul US$ 921 juta atau sekitar Rp 15,35 triliun.

BACA JUGA:   Agar UMKM kian Hijau

Sektor energi dan sumber daya mendominasi jumlah dana yang dihimpun, terutama dari perusahaan minyak dan gas, energi terbarukan, dan jasa pendukung pertambangan. Kontribusi terbesar datang dari IPO EMAS dan CDIA.

Kata Tay, aktivitas IPO di Indonesia didukung oleh sektor industri, energi, konsumsi, dan layanan kesehatan. Investor menunjukkan minat kuat pada perusahaan dengan fundamental solid, prospek pertumbuhan jangka panjang, serta dukungan kebijakan pemerintah. Deloitte menyebut pipeline IPO kuartal IV-2025 mencakup perusahaan teknologi, logistik, dan jasa keuangan.

Mengutip laman Kontan, Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai peluang IPO di Indonesia pada 2026 akan membaik. “Peluang IPO di Indonesia tahun depan cukup besar. Tren regional menunjukkan investor kembali masuk ke IPO yang lebih besar dan berkualitas,” ujar dia, baru-baru ini.

Menurutnya, keberhasilan IPO 2026 akan sangat ditentukan oleh stabilitas pasar dan kesiapan fundamental emiten. “Investor sekarang fokus pada kualitas. Mereka mencari perusahaan dengan laba, arus kas, dan rencana pertumbuhan yang realistis,” jelasnya.

Dari sisi sektor, dia menilai, peluang terbesar ada pada consumer goods, healthcare, jasa keuangan, serta energi dan transisi energi yang sudah memiliki model bisnis matang. Sektor teknologi tetap menarik, tetapi investor diperkirakan hanya akan melirik perusahaan yang telah menunjukkan jalur profit yang lebih jelas.

Namun begitu, dia tetap mewanti-wanti. Karena risiko tetap ada di depan mata. Volatilitas IHSG, arah kebijakan suku bunga BI yang saat ini berada di level 4,75%, serta ketidakpastian geopolitik dapat membuat emiten menunggu waktu yang lebih kondusif.

Sementara Budi Frensidy, pengamat pasar modal Universitas Indonesia memproyeksi, jumlah IPO jumbo pada 2026 tak akan terlalu banyak. Kata dia, kemungkinan yang masuk kategiori jumbo itu ada dari grup ABC, grup Orang Tua, Inalum, dan beberapa perusahaan lighthouse lain.
Jumlah perusahaan yang melantai di bursa pada 2026 diperkirakan tidak jauh berbeda dari tahun ini. Namun, kualitasnya kemungkinan lebih baik. “Sebab yang dikejar bukan lagi sekadar jumlah, tetapi perusahaan dengan fundamental kuat dan aset atau pendapatan besar,” tandasnya.

BACA JUGA:   KSEI Catat Investor Pasar Modal Tembus 10 Juta

Bidik Cuan

Mengacu kiprah 2025 ini, tak selamanya IPO kategori jumbo itu mendulang cuan terus menerus. Meski tetap menguntungkan. Dari 24 perusahaan yang IPO, saham CDIA memang sudah membuktikan. Namun saham YUPI ternyata tidak berbanding lurus.

Berdasar data BEI, kiprah saham CDIA masuk daftar ketiga yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi. Di urutan pertama, saham baru yang terafiliasi dengan perdagangan kripto yang banyak diburu. Saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) bercokol di posisi pertama melesat 3.470% dari harga IPO di Rp100 menjadi Rp3.570 per saham sampai akhir perdagangan Jumat, 28 November 2025.

Berikutnya ada saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) meroket 954,35%, saham CDIA melambung 915,79% dan saham PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) melejit 171,28%. Namun sebaliknya, saham PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI) menjadi saham pendatang baru dengan pergerakan yang paling buruk.

Ya, saham KAQI sudah terkoreksi 40,68% sejak IPO. Lalu kedua terbawah ada saham PT Cipta Sarana Media Tbk (DKHH) turun 36,36%, PT Raja Roti Cemerlang Tbk (BRRC) merosot 33,33%, dan saham YUPI anjlok 29,92%.

Tim Riset Kiwoom Sekuritas menyubut, kinerja lemah sektor konsumer selepas IPO berkaitan dengan sentiment negatif dalam negeri. Seperti tekanan daya beli, suku bunga yang masih belum terasa dampaknya, hingga persaingan ketat antarperusahaan.

Sementara, tim riset Mirae Asset Sekuritas mengatakan, perusahaan seperti CDIA dengan modal besar dan latar belakang kuat, serta PT Diastika Biotekindo Tbk (CHEK) yang berada di sektor bioteknologi, menawarkan peluang menjanjikan. Begitu pula dengan COIN yang bermain di bidang kripto, memberikan kesempatan bagi investor yang siap dengan risiko lebih tinggi tapi potensi keuntungan besar.

“Dengan sikap selektif dan pemahaman yang mendalam, memilih saham IPO yang tepat akan membantu investor memaksimalkan keuntungan sekaligus meminimalkan risiko. Jangan lupa untuk terus mengikuti berita pasar modal dan rekomendasi dari analis terpercaya agar keputusan investasi semakin matang dan menguntungkan,” saran tim riset Mirae.

*Tulisan Ini Juga Dimuat di E-Magz TopBusiness Edisi Desember 2025

Tags: bursa efek indonesiaipo jumbo
Previous Post

Menteri Dody Minta Kaji Jalur Alternatif Padang-Bukittinggi dan Penanganan Jembatan Malalak

Next Post

Menkes: Belanja Industri Kesehatan Belum Dorong GDP RI

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR