Kemitraan UMKM dengan ritel modern adalah dorongan penting agar para pelaku UMKM mampu meningkatkan kualitas produk dan daya saing, termasuk untuk tujuan ekspor.
Dalam satu dekade terakhir, wajah perdagangan ritel Indonesia mengalami perubahan besar. Minimarket modern seperti Alfamart dan Indomaret menjamur hingga level kelurahan dan desa. Hal ini membawa efisiensi distribusi sekaligus kekhawatiran akan tergerusnya ruang usaha kecil.
Namun di balik dinamika tersebut, kolaborasi ritel modern dan pelaku UMKM kian menonjol sebagai salah satu strategi penting dalam memperkuat rantai pasok nasional.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut bahwa ritel modern kini menjadi tulang punggung distribusi produk dalam negeri. Pemerintah, katanya, ingin memastikan produk lokal dapat bersaing secara layak di pasar domestik, dan itu hanya mungkin bila rantai distribusi bekerja secara efisien. “Sepuluh tahun yang lalu kita sudah memulai pola kemitraan antara ritel modern dengan UMKM,” ujar Mendag dalam peringatan Hari Ritel Nasional di Jakarta pada November 2025 lalu.
Kemitraan itu, lanjut Budi, bukan hanya antara ritel dan produsen kecil, tetapi juga dengan toko tradisional yang ingin meningkatkan kapasitas usaha mereka. Dia mengakui bahwa porsi produk UMKM di rak ritel modern secara nasional masih sekitar 15 persen. Tapi ia menemukan sejumlah ritel modern di Jakarta telah meningkatkan porsi produk UMKM menjadi 80 persen, terutama untuk produk makanan dan minuman.
Hal ini menjadi pertanda bahwa produk UMKM semakin berdaya saing dan diterima oleh masyarakat Tanah Air. “Kalau produk diterima di dalam negeri, produk bisa bersaing, sebenarnya ini adalah salah satu cara bagaimana kita menahan laju impor. Karena kita sudah mengonsumsi produk-produk dalam negeri,” tegas Budi.
Selain bisa menahan laju impor, kata Budi, produk UMKM yang sukses menembus ritel modern punya peluang besar untuk menjajaki ekspor. Untuk itu, kata dia, pola kemitraan UMKM dengan ritel modern adalah dorongan penting agar para pelaku UMKM mampu meningkatkan kualitas produk dan daya saing, termasuk untuk tujuan ekspor.
“Kami ingin UMKM naik kelas dan bisa masuk ke pasar global. Ketika sebuah produk UMKM diterima di ritel modern, artinya produk ini sudah memiliki standar ekspor. Kami ingin usaha menengah ke bawah juga dapat menikmati ekspor, maka UMKM dan ritel modern kami ajak jalan bersama untuk mengisi pasar dalam negeri sekaligus go global,” ujar dia.
Selain mendorong pola kemitraan UMKM dengan ritel modern, Kemendag juga akan memperkuat dukungan dengan memberikan pelatihan digital bagi pelaku UMKM dan pedagang pasar rakyat agar mampu menjangkau konsumen melalui platform daring. “Kita melakukan pembinaan ke UMKM, ke toko-toko kelontong biar nggak tertinggal, termasuk ke pasar rakyat. Kita ajarin cara jualan online seperti apa,” kata Mendag.
PR Besar UMKM
Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin mengaku anggotanya terus berkolaborasi dengan toko UMKM. Tak jarang Aprindo juga melakukan program pembinaan untuk menambah wawasan pelaku UMKM agar mampu meningkatkan skala bisnis dan melakukan manajemen yang optimal.
Selain itu, sebelum masuk ke sebuah wilayah, kata Solihin, ritel besar selalu memastikan warga dan pelaku-pelaku usaha di sana tak tertekan dengan kehadiran mereka. “Standar pembukaan toko kita yang pertama itu soal potensi pasar. Kemudian lingkungan sekitar, apakah warga menyetujui,” kata Solihin.
Persetujuan itu, jelas dia, termasuk soal syarat jarak atau permintaan khusus dari warga dan pejabat wilayah sekitar. Ia mengaku, tak jarang pemilik warung di sekitar justru menyambut ritel besar karena melengkapi kebutuhan masyarakat yang tak terpenuhi oleh toko UMKM yang sudah ada.
Terkait porsi produk UMKM di gerai ritel modern yang masih sekitar 15 persen, Solihin menyatakan bahwa para pelaku ritel modern sebenarnya telah memberikan banyak kelonggaran bagi UMKM, termasuk skema pembayaran yang lebih fleksibel. Tetapi, keberlanjutan kemitraan hanya mungkin bila kualitas produk terjaga dan pasokan tidak terputus. “Jangan sampai hari ini barang tersedia, tetapi dua minggu kemudian habis,” ucapnya.
Solihin mengakui, produk UMKM yang masuk gerai ritel modern saat ini didominasi makanan dan minuman. Namun di sinilah masalah teknis muncul. Banyak negara mensyaratkan produk yang masuk ritel memiliki masa kedaluwarsa minimal satu tahun. Sedangkan produk UMKM Indonesia rata-rata hanya bertahan enam hingga delapan bulan.
Masa simpan yang pendek membuat manajemen inventori menjadi sulit serta meningkatkan risiko retur. Aprindo kini mencari solusi untuk meningkatkan standar ketahanan produk UMKM, salah satunya melalui teknologi pengemasan dan peningkatan higienitas produksi.
Aprindo mencatat, hingga akhir 2025, Indomaret memiliki sekitar 24.141 gerai dan Alfamart 20.120 gerai, dengan target ekspansi sekitar 1.000 gerai baru setiap tahun.
Salah satu contoh sukses kemitraan antara UMKM dan ritel modern adalah adanya UMKM BRI x SOGO di SOGO Central Park Jakarta yang baru diresmikan pada 28 November 2025 lalu. Momentum ini menandai dimulainya kolaborasi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk alias BRI dan SOGO dalam menampilkan produk UMKM binaan di ritel modern.
Melalui kolaborasi ini, BRI memberikan kesempatan bagi UMKM terpilih untuk menghadirkan produknya secara langsung kepada konsumen. Saat ini terdapat 26 UMKM binaan BRI yang menjual produknya di gerai SOGO Central Park Jakarta.
Ke depan, kolaborasi ini akan diperluas dengan melibatkan hingga 50 UMKM dan menjangkau gerai SOGO lainnya, seperti Lippo Mall Puri, Summarecon Mall Kelapa Gading, Emporium Pluit Mall, dan Tunjungan Plaza. BRI menargetkan lebih dari 200 UMKM dapat bergabung dalam program ini pada tahun 2026.
*Tulisan Ini Juga Dimuat di E-Magz TopBusiness Edisi Desember 2025
