Jakarta, BusinessNews Indonesia—Dalam setahun terakhir, industri media sempat terpuruk karena rendahnya daya beli masyarakat yang berdampak pada perekonomian.
Namun di tahun 2018 hal tersebut tampaknya telah usai, industri media bakal bangkit. Demikian menurut Analis Bahana Sekuritas, Henry Wibowo.
Dia mengatakan, tahun ini adalah momentum yang menguntungkan bagi industri media, lantaran berbagai event besar di dalam dan luar negeri siap menyambut.
“Pertumbuhan belanja iklan pada tahun ini bakal melesat cukup tinggi bila dibandingkan dengan tahun lalu. Berkisar 13 persen sampai 15 persen bila dibandingkan dengan belanja iklan tahun lalu yang hanya berada pada kisaran 3 persen sampai 5 persen,” kata Henry di Jakarta (11/2/2018), kepada wartawan Majalah BusinessNews Indonesia.
Henry menjelaskan ada tiga faktor utama yang membuat korporasi kembali bergairah berbelanja iklan pada tahun 2018.
Pertama, beberapa event olahraga terakbar yakni perhelatan Piala Dunia 2018 yang berlangsung pada Juni, dan pesta olah raga Asian Games pada Agustus. Selain itu, Indonesia juga akan merayakan pesta demokrasi melalui Pilkada serentak.
“Kedua, seiring dengan pemulihan daya beli masyarakat yang secara historis sering terjadi di masa-masa pemilihan umum, ada kenaikan sirkulasi uang di masyarakat, serta efek berganda dari kenaikan harga batu bara akan mendongkrak penjualan barang konsumer. Sehingga perusahaan FMCG akan kembali menggunakan belanja iklannya. Iklan barang konsumer yang bergerak cepat atau fast moving consumer good (FMCG) menguasai sekitar 75 persen dari total belanja iklan di media,” paparnya.
Adapun yang ketiga, kata Henry, pelaku industri e-commerce akan semakin gencar melancarkan iklan di tahun ini. “Perusahaan [e-commerce] ini bisa memberi sumbangan sekitar 5 persen terhadap belanja iklan,” ujarnya.
Semua faktor ini mendorong Bahana menaikkan rating saham perusahaan media, dari yang tadinya netral menjadi overweight.
