Jakarta, TopBusiness — Di tengah dinamika ekonomi global dan perubahan perilaku konsumen, industri alas kaki nasional masih menunjukkan kinerja yang relatif solid. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, industri alas kaki bersama industri kulit tumbuh 8,31 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan II 2025 dan meningkat 0,72 persen secara kuartalan (quarter to quarter/qtq) pada triwulan III 2025.
Dari sisi investasi, nilai penanaman modal industri alas kaki menembus lebih dari Rp18 triliun sepanjang Januari–September 2025. Kinerja ekspor juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 11,89 persen pada periode Januari–Agustus 2025, sekaligus menempatkan Indonesia di peringkat keenam dunia sebagai negara eksportir alas kaki.
“Kinerja ekspor industri alas kaki Indonesia menunjukkan tren positif,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita dalam keterangan resmi, Senin (3/1/2026).
Sejalan dengan capaian tersebut, Kemenperin terus memperkuat daya saing pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM), termasuk sentra-sentra industri alas kaki yang menghadapi tantangan perubahan pasar. Melalui Ditjen IKMA, berbagai kebijakan, program fasilitasi, pelatihan, dan pendampingan dijalankan untuk meningkatkan kapasitas usaha agar IKM mampu bersaing di pasar domestik maupun global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai sentra IKM secara umum masih menghadapi tantangan mendasar. “Tantangan yang sering dihadapi sentra IKM antara lain keterbatasan akses permodalan dan pasar, rendahnya literasi manajemen usaha dan keuangan, serta kurangnya inovasi produk. Di sisi lain, sentra IKM juga dihadapkan pada perubahan tren pasar yang cepat dan meningkatnya persaingan dengan produk impor,” kata Agus.
Salah satu contoh kondisi lapangan terdapat di sentra IKM alas kaki Ciomas, Kabupaten Bogor, yang menjadi perhatian Kemenperin setelah dikunjungi Dirjen IKMA pada September 2025. Hasil dialog dengan para perajin menunjukkan perubahan perilaku konsumen pascapandemi Covid-19 turut memengaruhi kinerja usaha di kawasan tersebut.
“Selain itu, isu regenerasi perajin juga menjadi perhatian serius. Sebagian besar perajin merupakan generasi senior yang belum sepenuhnya memiliki pengetahuan dan keterampilan baru. Karena itu, dibutuhkan peran generasi muda yang lebih adaptif terhadap dinamika pasar dan perkembangan teknologi,” ujar Reni.
Menurutnya, kontribusi sentra IKM alas kaki terhadap kinerja industri nasional cukup signifikan karena menaungi jumlah pelaku usaha yang besar. Namun demikian, diperlukan langkah-langkah penguatan agar sentra IKM dapat beroperasi secara optimal dan berkelanjutan.
Sebagai langkah konkret, Ditjen IKMA berkolaborasi dengan Direktorat IKM Kimia, Sandang dan Kerajinan (IKM KSK), Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI), serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bogor untuk melaksanakan rangkaian program peningkatan daya saing bagi perajin sentra IKM alas kaki Ciomas.
