Pintu lift lantai 22 Gedung JB Tower, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, terbuka perlahan. Dari balik lorong kaca, sebuah ruangan kantor berukuran sekitar 60 meter persegi menyambut dengan kesan tenang sekaligus penuh cerita. Dindingnya dipenuhi pigura penghargaan, plakat, dan piala dari berbagai fase perjalanan karier.
Ada pula suvenir ikon dari puluhan negara tertempel rapi di dinding, oleh-oleh perjalanan panjang seorang profesional yang tak pernah berhenti belajar.
Di ruangan itulah Dr. Sahat Parlindungan Simarmata, Ak., S.E., M.M., Direktur Keuangan & Administrasi PT Transportasi Gas Indonesia (TGI), menapaki hari-harinya.
Ketika tim redaksi TopBusiness menyambangi ruangannya untuk mewawancarai sosok di balik keberhasilan TGI meraih tiga penghargaan bergengsi dalam ajang TOP Human Capital Awards 2025, lelaki berusia 54 tahun ini menyambut dengan senyum ramah.
“Mau minum apa? Kopi atau jeruk?” ujarnya, sedikit batuk, sambil mempersilakan duduk di sofa, beberapa waktu lalu.
Dari percakapan itulah, perlahan terbuka kisah panjang tentang hidup, integritas, dan apa yang ia sebut sebagai algoritma kehidupan.
Sahat bukan produk keberuntungan atau koneksi. Ia tahu betul sejak awal karier bahwa dirinya tidak memiliki “orang dalam” yang bisa membuka pintu jabatan. Lulus dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) pada 1995, ia mengawali langkah di Kementerian Keuangan dengan membawa satu modal utama berupa kemauan untuk terus belajar.
“Saya sadar tidak punya siapa-siapa,” katanya jujur. “Jadi satu-satunya jalan adalah kompetensi dan menyelesaikan masalah atasan.”
Prinsip itu ia pegang teguh sepanjang lebih dari tiga dekade kariernya. Ia bukan tipe penjilat atau pencari muka. Ia memilih jalan yang lebih berat: memperkuat diri dengan pengetahuan. Daftar gelar profesional internasional yang kini menyertai namanya, CPA (Australia), CMA, CA, Asean CPA, CFP, hingga GRCCE, bukan sekadar simbol prestise, melainkan strategi bertahan. “Kalau kita jadi orang rata-rata, kita tidak akan dipilih,” ujarnya lugas. “Kalau tidak belajar, kita mudah dibodohi oleh situasi.”
Bahkan kini, di tengah kesibukannya sebagai direktur, Sahat masih menempuh pendidikan Sarjana Hukum secara daring. Baginya, memahami aspek legal adalah bagian dari tanggung jawab moral dalam mengambil keputusan bisnis.
Sahat kecil tumbuh di Pematangsiantar, Sumatera Utara sebelum pindah ke Palembang, Sumatera Selatan. Masa kecilnya tidak selalu ramah. Ia pernah di-bully karena penampilan dan logat Bataknya. Ia juga bukan anak paling menonjol di kelas. Namun, dari situ ia belajar satu hal penting yaitu diam, mengamati, dan bekerja lebih keras.
Nilai hidup terpenting justru datang dari ibunya, seorang pegawai Pertamina, yang menanamkan disiplin, kejujuran, dan keyakinan bahwa rezeki tidak pernah salah alamat. Pesan sang ibu sederhana, tetapi membekas seumur hidup: jangan takut jujur, dan jangan berhenti belajar.
Kelak, nilai itulah yang menjadi pagar ketika Sahat berada di posisi rawan godaan.
Bertahan di Tengah Godaan Jabatan
Selama 10 tahun di PT Perusahaan Gas Negara (PGN), Sahat berkutat di dunia tender dan pengadaan, area yang penuh risiko. Ia menyaksikan sendiri bagaimana sebuah kasus pengadaan besar menyeret direksi, manajer, hingga panitia lelang ke penjara.
“Saya juga panitia,” katanya pelan. “Tapi saya menolak tanda tangan di dua dokumen bermasalah.”
Keputusan itu membuatnya menjadi common enemy. Tekanan datang bertubi-tubi. Ia bahkan sempat membeli tiga patung monyet bijak ala China —menutup mata, telinga, dan mulut— sebagai pengingat untuk menahan diri.
Karena sikap itulah, ia selamat. Ia mencatat setiap proses pengadaan, menyimpan bukti, dan memilih menjauh ketika tak sepakat. Dari ratusan pengadaan, hanya dua yang benar-benar tak bisa diselamatkan karena melanggar aturan.
“Menolong itu jangan sampai mencelakakan diri sendiri,” ucapnya. “Lebih baik tidur nyenyak daripada hidup waswas.”
Salah satu figur yang sangat memengaruhi Sahat adalah Muhammad Afdal Bahauddin, mantan Direktur Keuangan Pertamina. Dari sang mentor, ia belajar satu konsep yang terus ia pegang, yaitu algoritma kehidupan.
“Kalau jadi direksi, jangan pakai duit,” kenangnya. “Beliau bilang, kalau kita konsisten pegang value, kita akan bertemu orang-orang dengan value yang sama.”
Bagi Sahat, integritas bekerja seperti hukum sebab-akibat. Semakin kuat prinsip dijaga, semakin bersih lingkungan yang terbentuk. Hingga hari ini, ia bersyukur tidak pernah sekali pun dipanggil KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), bukan karena merasa paling benar, tetapi karena berusaha konsisten.
Mencetak Pemimpin, Bukan “Yes Man”
Sebagai Direktur Keuangan & Administrasi TGI, Sahat membawahi HR, IT, procurement, general affairs, accounting, dan finance. Namun kebanggaannya bukan pada luasnya fungsi, melainkan pada sistem pembinaan SDM.
Di TGI, ada tiga jenjang pengembangan mulai staf, officer, dan manajer. Officer wajib mempresentasikan capaian kerja setiap tiga bulan. Manajer justru dilatih menjelaskan ide hanya dalam lima menit, tanpa presentasi panjang.
“Profesional hebat itu bukan cuma yang pintar kerja, tapi yang bisa menjelaskan ide dengan sederhana,” tegasnya.
Uniknya, pelatihan tidak dilakukan di hotel, melainkan di museum-museum bersejarah. Sahat ingin peserta belajar makna kepemimpinan dan perjuangan, bukan sekadar teori.
Ia juga menanamkan dua ciri orang yang benar-benar menguasai bidangnya: mampu menyederhanakan hal rumit, dan mampu menghitung risiko sebelum mengambil keputusan.
Model pembinaan itu terbukti. Banyak mantan bawahannya kini telah menjadi VP, SVP, Group Head, bahkan direktur di anak usaha lain. Bagi Sahat, pemimpin sejati adalah yang melahirkan pemimpin baru.
Filosofi Hidup
Sahat memiliki filosofi hidup sederhana, baik di pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Prinsipnya jangan terlalu hitung-hitungan. Hidup ini tidak sekadar soal untung-rugi. Ia sering bilang ke pegawai di TGI, kalau disuruh mengerjakan sesuatu yang bukan jobdesk-nya, kerjakan saja.
Saat masih menjadi staf, Sahat sering membantu teman-teman kerja lembur tanpa dibayar. Hanya dapat imbalan makan malam saja. Tapi dari situ, Sahat menjadi tahu semua pekerjaan di satu ruangan.
“Ketika saya naik jabatan, saya jadi tahu semuanya dan nggak bisa dibohongin sama anak buah. Jadi, walau dulu lembur nggak dibayar, sekarang gaji saya jauh lebih besar dari kerjaan itu. Artinya, kalau kita mau melampaui gaji kita hari ini, suatu saat kita akan dibayar lebih dari apa yang kita kerjakan. Intinya, jangan ngedumel, jangan hitung-hitungan. Kalau kamu hitung-hitungan, orang lain juga akan hitung-hitungan sama kamu. Itu filosofi hidup saya yang sampai sekarang masih saya tulis di status WA: Hidup ini bukan soal untung-rugi,” kata Sahat.
Dan satu lagi, kata Sahat, usaha juga harus dibarengi dengan doa. “Kadang kita nggak ngerti kenapa hidup bisa berjalan seperti ini, banyak faktor X. Tiba-tiba pintu rezeki terbuka dari arah yang nggak disangka-sangka,” ucapnya
Sahat juga dikenal dekat dengan pegawai. Ia menyapa staf di lorong, menjamu pegawai pensiun makan bersama, dan membangun budaya sharing knowledge. Pegawai yang mendekati pensiun diminta menuliskan pengalaman untuk dibukukan sebagai warisan pengetahuan.
Tradisi itu berangkat dari kenangan sederhana. Saat ibunya pensiun dari Pertamina, ia dijamu makan oleh Direktur Utama. Cara sederhana, tetapi membekas seumur hidup.
Keseimbangan Hidup
Tak hanya sibuk dalam berkarier. Sahat juga memperhatikan work-life balance. Baginya, worklife balance adalah perjalanan untuk menemukan harmoni antara tanggung jawab profesional, kehidupan pribadi, dan pertumbuhan spiritual. Di usia yang tidak lagi muda, ia semakin menyadari bahwa keseimbangan hidup bukan hanya tentang membagi waktu, tetapi tentang memaknai setiap peran yang Tuhan percayakan kepada dirinya, baik sebagai pemimpin di perusahaan maupun sebagai pribadi dalam keluarga dan masyarakat.
“Sebagai seorang yang beriman, saya percaya bahwa pekerjaan adalah bentuk pelayanan. Karena itu, saya berusaha menjalankannya dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan dedikasi, tanpa kehilangan waktu untuk menenangkan diri dalam doa dan refleksi,” tuturnya.
Di sisi lain, Sahat uga menempatkan waktu bersama istri sebagai bagian penting dari keseimbangan hidup. Ia memanfaatkan waktu bersama untuk travelling ke berbagai kota di Indonesia juga berkeliling ke berbagai negara di dunia sambil mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang sebelumnya sudah saya pelajari dari buku , film maupun internet. Bersama istri, setidaknya sudah lebih dari 60 negara yang dikunjungi.
Selain travelling, ia juga mengikuti berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, kegiatan keagamaan maupun kegiatan yang difasilitasi oleh organisasi internasional seperti MENSA Indonsia dan National Geographic Community. Momen-momen seperti ini memberinya ketenangan batin dan memperbarui semangat dalam menjalani tanggung jawab di kantor.
Karir Sahat Parlindungan Simarmata
- Direktur Keuangan & Administrasi PT Transportasi Gas Indonesia (Mei 2021 – sekarang)
- Direktur Keuangan & Administrasi PT PGN LNG Indonesia (Desember 2017 – Mei 2021)
- Direktur Keuangan & Administrasi PT Kalimantan Jawa Gas (Januari 2017 – November 2017)
- Group head Accounting & Tax PT PGN (Persero) Tbk (Maret 2013 – Desember 2016)
Peran di Dewan dan Perusahaan Afiliasi
- Komisaris di PT Padoma Global Neo Energi (Desember 2018 – sekarang)
- Komite Audit di PT Transportasi Gas Indonesia (Desember 2010 – Juni 2012)
