Jakarta, TopBusiness — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (IDX: PGEO) atau PGE terus memperluas pemanfaatan panas bumi tidak hanya sebagai sumber listrik, tetapi juga sebagai sumber energi bernilai tambah melalui berbagai inisiatif beyond electricity.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung transisi energi bersih dan penguatan ekonomi hijau nasional.
Selain pembangkitan listrik, PGEO mengembangkan pemanfaatan panas bumi untuk green hydrogen, green ammonia, serta inisiatif green data center berbasis panas bumi. Pengembangan tersebut sejalan dengan proyeksi pertumbuhan pasar domestik green hydrogen dan green ammonia yang diperkirakan meningkat signifikan pada 2030.
Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Ahmad Yani, menyatakan bahwa strategi beyond electricity merupakan upaya PGEO untuk menghadirkan solusi energi bersih yang lebih luas dan berkelanjutan.
“PGE berupaya menghadirkan solusi energi bersih yang inklusif dan inovatif sekaligus memperkuat peran panas bumi sebagai penopang transisi dan swasembada energi nasional,” ujar Ahmad Yani.
Sepanjang 2025, PGEO juga mencatat penguatan dari sisi pembangkitan listrik. Beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 meningkatkan kapasitas terpasang PGEO menjadi 727 MW, dari sebelumnya 672 MW.
Di sisi hulu, PGEO memulai eksplorasi greenfield PLTP Gunung Tiga di Lampung dengan potensi kapasitas sekitar 55 MW, sebagai bagian dari penyiapan cadangan panas bumi jangka menengah dan panjang.
Di luar sektor kelistrikan, PGEO mendorong pemanfaatan panas bumi untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Sejumlah program telah dijalankan, antara lain inovasi melon geothermal di Ulubelu, pengembangan Pupuk Booster Katrili di Lahendong, serta Geothermal Dry House untuk pengeringan kopi di Kamojang.
Inisiatif tersebut telah mendorong peningkatan produktivitas petani hingga ekspor perdana kopi Kamojang ke pasar Asia dan Eropa.
Ahmad Yani menegaskan bahwa pengembangan panas bumi dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan dan tata kelola perusahaan yang baik.
“Setiap langkah pengembangan kami pastikan selaras dengan prinsip keberlanjutan, menjaga keandalan operasi, serta memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.
Ke depan, PGEO menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 GW dalam dua hingga tiga tahun mendatang, dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2033. Target tersebut ditopang oleh potensi panas bumi hingga 3 GW dari 10 Wilayah Kerja Panas Bumi yang dikelola secara mandiri, sekaligus memperkuat peran PGEO dalam mendukung ketahanan dan swasembada energi nasional.
