Jakarta, TopBusiness – Pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir dinilai bukan disebabkan oleh mencuatnya isu Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono yang dikabarkan bakal mengisi posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Tekanan terhadap rupiah lebih dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan internal yang masih cukup kuat.
Pengamat ekonomi dan analis mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menegaskan, isu pencalonan Thomas tidak memiliki korelasi langsung dengan pergerakan rupiah di pasar.
“Depresiasi rupiah ini bukan karena isu Thomas Djiwandono akan menjadi Deputi Gubernur BI. Pelemahan memang murni karena sentimen eksternal dan internal yang menghantam rupiah cukup telak,” ujar Ibrahim, Selasa (20/1/2026).
Bahkan, menurut Ibrahim, masuknya Thomas ke jajaran pimpinan BI justru dapat memperkuat fondasi kebijakan moneter nasional. Ia menilai Thomas sebagai figur profesional yang memiliki kapasitas dan pengalaman memadai.
“Thomas masuk menjadi Deputi Gubernur itu justru memperkuat fondasi moneter Indonesia. Dia profesional. Generasi muda masuk ke posisi Deputi Gubernur itu bagus dan memang perlu dipersiapkan,” kata Ibrahim.
Secara pergerakan, rupiah tercatat terus melemah dalam lima hari perdagangan terakhir. Pada pembukaan Rabu (14/1/2026), rupiah berada di level Rp16.860 per dolar AS. Hingga Selasa siang pukul 14.00 WIB, rupiah melemah ke posisi Rp16.975 per dolar AS. Meski sempat menguat terbatas ke level Rp16.940 pada pukul 10.46 WIB, tekanan jual kembali membawa rupiah ke zona merah.
Di tengah pelemahan tersebut, nama Thomas Djiwandono memang kian santer disebut sebagai kandidat Deputi Gubernur BI, menyusul pengunduran diri Juda Agung dari jabatan tersebut. Namun, Ibrahim menilai pasar lebih merespons faktor fundamental dibanding isu personal.
Cuma memang nama Thomas sendiri kerap dikaitkan dengan reaksi pasar karena di adalah keponakan dari Presiden Prabowo Subianto. Sekaligus juga anak dari Gubernur BI periode 1993-1998, Soedradjad Djiwandono.
“Hubungan rupiah dengan isu Thomas menjadi Deputi Gubernur itu tidak terlalu berdampak. Pelemahan ini karena akumulasi masalah, baik eksternal maupun internal,” tegasnya.
Dari sisi global, tekanan datang dari berbagai arah. Ketegangan geopolitik masih membayangi, mulai dari konflik di Eropa dan Timur Tengah, isu Greenland yang melibatkan Amerika Serikat dan Denmark, hingga memanasnya kembali perang dagang antara Uni Eropa dan China.
Selain itu, dinamika di Amerika Serikat juga turut memengaruhi sentimen pasar. Pemanggilan Ketua Federal Reserve Jerome Powell oleh Kejaksaan Agung AS serta ekspektasi suku bunga tinggi yang lebih lama memperkuat dolar AS dan menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
“Terkait suku bunga, pasar mengindikasikan The Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi. Ini jelas menekan rupiah,” ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, tekanan datang dari kondisi fiskal, khususnya pelebaran defisit yang turut membebani sentimen pasar terhadap aset keuangan domestik.
Ibrahim juga menanggapi pernyataan sejumlah pejabat terkait arah suku bunga. Menurutnya, komentar dari pejabat non-otoritas moneter tidak terlalu berdampak pada pasar. Salah satunya Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. “Kalau yang berkomentar Presiden, itu bisa berdampak ke independensi BI dan pasar uang. Tapi kalau dari pembantu Presiden, seperti Pak Purbaya, itu tidak terlalu berpengaruh,” pungkasnya.
