Jakarta, TopBusiness – Danantara Indonesia menegaskan perannya sebagai motor pembiayaan pembangunan nasional melalui penguatan kapasitas investasi dan kolaborasi global. Dalam forum Indonesia – Endless Horizons di Indonesia Pavilion, World Economic Forum (WEF) Davos 2026, Danantara memaparkan strategi ekspansi investasi yang menyasar sektor energi terbarukan, kesehatan, dan ekonomi berbasis layanan publik.
Managing Director Investasi Danantara Investment Management, Stefanus Ade Hadiwidjaja, menyampaikan bahwa penguatan investasi tidak hanya dilakukan melalui kemitraan strategis dengan investor global dan sovereign wealth funds (SWF), tetapi juga lewat optimalisasi instrumen pembiayaan berbasis utang untuk memperbesar daya ungkit investasi jangka panjang.
“Danantara menjalankan mandat ganda, yaitu mendorong imbal hasil berkelanjutan sekaligus menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang nyata bagi Indonesia,” ujar Stefanus dalam forum diskusi tersebut di Davos, Swiss, yang disiarkan live di Youtube Danantara, Selasa (20/1/2026).
Tiga Proyek Flagship Nasional
Dalam kesempatan tersebut, Danantara memperkenalkan tiga proyek unggulan (flagship projects) yang dirancang memberikan dampak lintas sektor.
Proyek pertama adalah pengembangan Waste to Energy (WTE) skala nasional. Danantara menargetkan pembangunan sekitar 33 fasilitas WTE di berbagai wilayah. Program ini dirancang untuk mengolah hingga 11,2 juta ton sampah per tahun, atau sekitar 23 persen dari total timbulan sampah nasional. Selain menekan emisi gas rumah kaca dari sektor limbah, proyek ini diproyeksikan menciptakan sekitar 30 ribu lapangan kerja, baik langsung maupun tidak langsung.
Proyek kedua adalah pengembangan Plasma Derived Medicinal Products (PDMP) melalui pembangunan fasilitas fraksionasi plasma di dalam negeri. Selama ini, Indonesia masih bergantung penuh pada impor PDMP. Melalui kerja sama strategis dengan mitra internasional, termasuk Korea Selatan, proyek ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional, sekaligus membuka peluang alih teknologi dan penciptaan ratusan lapangan kerja di sektor farmasi.
Sementara proyek ketiga adalah Kampung Haji Indonesia, sebuah ekosistem layanan haji terintegrasi di Arab Saudi. Proyek ini mencakup pengembangan hotel, kawasan komersial, dan fasilitas pendukung yang dirancang khusus bagi jemaah Indonesia. Selain meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi penyelenggaraan ibadah haji, proyek ini juga diharapkan memperkuat branding Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
Perluasan Kapasitas Investasi
Untuk mendukung realisasi proyek-proyek tersebut, Danantara memperluas kapasitas pendanaan melalui berbagai skema. Salah satunya adalah Revolving Credit Facility (RCF) dengan nilai hingga USD 10 miliar. Hingga saat ini, empat bank global telah menandatangani perjanjian fasilitas kredit, dan proses sindikasi tengah berjalan.
Selain itu, Danantara juga menyiapkan penerbitan Patriot Bonds, obligasi dengan kupon sekitar 2 persen, di bawah tingkat pasar. Instrumen ini ditujukan kepada investor terbatas melalui skema private placement dan difokuskan untuk pembiayaan proyek-proyek prioritas nasional.
“Kami ingin memastikan proyek strategis nasional memiliki akses pembiayaan yang kompetitif, berkelanjutan, dan selaras dengan kepentingan jangka panjang negara,” kata Stefanus.
Danantara menegaskan bahwa strategi investasi ini didukung oleh kemitraan dengan berbagai institusi global, mulai dari sovereign wealth funds, lembaga keuangan internasional, hingga perusahaan multinasional. Fokus kerja sama mencakup sektor ketahanan pangan, infrastruktur, hilirisasi, energi, energi terbarukan, dan industri hijau.
Melalui skema joint venture dan co-investment, Danantara menawarkan peluang bagi investor asing untuk memperoleh imbal hasil berkelanjutan di pasar negara berkembang, sekaligus mendorong transfer pengetahuan dan teknologi serta penciptaan nilai jangka panjang.
“Kami tidak sekadar mencari modal, tetapi mitra strategis yang tumbuh bersama Indonesia,” ujar Stefanus. (AI)
