Jakarta, TopBusiness—Narasi makro Indonesia semakin condong ke cautious optimism, ditopang perbaikan penilaian eksternal, diplomasi ekonomi yang aktif, serta pipeline proyek berbasis negara yang terus melebar. Hal itu dipaparkan dalam riset ekonomi dari Samuel Sekuritas Indonesia, pagi ini.
Revisi naik proyeksi pertumbuhan dari lembaga multilateral memerkuat keyakinan terhadap resiliensi jangka menengah, meski reformasi domestik masih berjalan tidak merata.
“Keterlibatan luar negeri Presiden Prabowo mengindikasikan penekanan yang lebih kuat pada economic branding, daya tarik FDI (foreign direct investment), dan kemitraan strategis dengan negara maju’, demikian ditulis di riset itu.
Pada saat yang sama, eksperimen regulasi di cukai, pengawasan kripto, dan pengembangan waste-to-energy mencerminkan upaya pemerintah mencari sumber penerimaan baru sekaligus solusi sustainability.
Pengawasan sektor keuangan tetap aktif, dengan otoritas memperkuat perlindungan konsumen dan pemulihan dana fraud. Tata kelola komoditas juga diperketat, terutama di batubara dan tembakau, yang menambah risiko kebijakan berbasis enforcement.
Riset Samuel Sekuritas itu pun menyebut bahwa proyek pengelolaan sampah dan transisi energi mulai mendapatkan momentum, namun masih menghadapi tantangan trust publik dan eksekusi.
Di ranah politik, isu tata kelola pemilu dan urusan keagamaan tetap sensitif, namun dikelola secara incremental, bukan melalui reform yang abrupt.
“Secara keseluruhan, Indonesia sedang menyeimbangkan ambisi pertumbuhan dengan konsolidasi institusional di tengah backdrop global yang kompleks’.
