Jakarta, TopBusiness – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menegaskan akan mempertahankan strategi bisnis yang sama dengan tahun lalu untuk menjaga kinerja positif pada 2026, dengan fokus utama pada pertumbuhan kredit (loan) dan dana murah (CASA). Seiring tren penurunan suku bunga, BCA akan lebih agresif meningkatkan volume transaksi nasabah.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan, kinerja positif yang dibukukan sepanjang 2025 menjadi fondasi kuat bagi strategi perseroan ke depan. Menurutnya, dinamika global maupun domestik justru membuka berbagai peluang bisnis baru yang dapat dimanfaatkan BCA.
“Seperti dilihat dari hasil 2025, kinerja kami cukup positif. Di 2026 strateginya tetap sama. Dengan tren suku bunga yang menurun, kami akan menaikkan volume dan lebih agresif mengejar bisnis nasabah agar transaksi melalui BCA semakin meningkat,” ujar Hendra dalam press conference, Selasa.
Terkait Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026, Direktur BCA Vera Eve Lim menyampaikan bahwa perseroan meningkatkan panduan (guidance) pertumbuhan kredit. Jika pada 2025 kredit tumbuh sekitar 7,7 persen, maka untuk 2026 BCA menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 8 hingga 10 persen.
“Kami lebih positif melihat perkembangan tahun ini. Mudah-mudahan pertumbuhan kredit bisa lebih cepat dibanding tahun lalu, mulai kuartal pertama dan seterusnya,” kata Vera.
Namun demikian, Vera menjelaskan bahwa margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) diperkirakan akan mengalami tekanan. Setelah menutup 2025 dengan NIM 5,7 persen, BCA memproyeksikan NIM 2026 berada di kisaran 5,4–5,6 persen, seiring dampak penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia.
Sementara itu, kualitas kredit tetap menjadi prioritas utama. BCA menargetkan rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di kisaran 1,8–2 persen.
Perbaikan Kualitas Kredit
Dari sisi manajemen risiko, Vera menjelaskan bahwa pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) meningkat secara persentase, terutama sebagai langkah kehati-hatian di segmen ritel dan konsumen, sesuai standar PSAK 71. Meski demikian, kualitas aset membaik, tercermin dari rasio loan at risk (LAR) yang turun menjadi 4,8 persen dari 5,3 persen pada tahun sebelumnya.
“LAR justru menurun di akhir tahun, menunjukkan adanya perbaikan kualitas kredit,” kata Vera.
Hendra juga optimistis terhadap prospek pertumbuhan kredit industri perbankan pada 2026. Menurutnya, peluang pertumbuhan kredit dua digit masih terbuka, didukung oleh berbagai program pemerintah dan arus investasi asing, khususnya dari China, yang banyak bermitra dengan BUMN.
“Sebagian pelaku usaha masih ekspansi, sebagian wait and see. Itu normal di tengah situasi geopolitik yang cepat berubah. Tapi investasi asing masih cukup banyak masuk dan ini akan membantu pertumbuhan ekonomi dan kredit perbankan,” kata Hendra.
