Home Ekonomi Business Info Menggelembungnya Bisnis Bubble Tea 

Menggelembungnya Bisnis Bubble Tea 

Antrean di salah satu gerai Bubble Tea (sumber: dokumentasi pribadi)

BISNIS bubble tea sudah menjadi fenomena, di kalangan masyarakat khususnya kaum millenial. Bubble tea atau yang sering disebut juga Boba Milk Tea memiliki daya tarik tersendiri dan mampu ‘menghipnotis’ konsumen. Mereka rela antre berjam-jam demi merasakan sensasi minuman dengan berbagai macam varian ini. Sebenarnya apa sih penyebab di balik menjamurnya bisnis ini?

Asal Muasal Bubble Tea

Menurut beberapa artikel yang menganalisis minuman ini, hampir seluruhnya mengatakan bahwa bubble tea berasal dari Taiwan. Awalnya, minuman ini merupakan ‘teh susu’ yang dicampur dengan ‘mutiara’ terbuat dari tapioka.

Ada dua versi yang saling bersaing, mengenai asal mula bubble tea. Pertama, The Hanlin Tea Room di Tainan, Taiwan. Versi pertama mengklaim bahwa minuman tersebut ditemukan pada tahun 1986 ketika pemilik kedai teh Tu Tsong-he terinspirasi oleh bola-bola tapioka putih yang dilihatnya di pasar Ya Mu Liao. Dia kemudian membuat teh dengan menggunakan bola tapioka, menghasilkan apa yang disebut “teh mutiara” atau bubble tea. Tak lama setelah itu, Hanlin mengubah bola tapioka putih ke versi hitam. Kemudian dicampur dengan gula merah atau madu, yang seperti terlihat hari ini. Di banyak lokasi, orang dapat membeli bola tapioka hitam dan bola tapioka putih.

Versi lainnya, berasal dari The Chun Shui Tang Tearoom di Taichung, Taiwan. Pendirinya, Liu Han-Chieh, mengamati bagaimana orang Jepang menyajikan kopi dingin (saat berkunjung pada tahun 1980-an) dan menerapkan metode ini pada minuman teh. (sumber: www.wikipedia.org)

Omset Bisnis Bubble Tea

Bubble tea merupakan racikan antara teh yang dicampur dengan susu, ditambahkan ‘bola’ yang dibentuk dari tepung tapioka. Rasanya yang manis dicampur dengan kenyalnya bola tapioka, menambah kenikmatan dan kekayaan rasa yang terkandung di dalamnya. Bisnis bubble tea di Indonesia sendiri, sedang mencapai titik tertinggi. Dimana, di beberapa gerai yang menjual minuman ini, ditemukan antrean yang panjang. Bahkan, di salah satu gerai yang ternama, ditemukan antrean sampai 2 jam, hanya untuk dapat menikmati minuman bubble tea.  

Terdapat beberapa nama gerai terkenal di kalangan masyarakat. Sebut saja Xing Fu Tang, Ban Ban, Heycha, Tiger Sugar, Gulu Gulu, dan sebagainya. Untuk harga jual sendiri, bervariasi antara 25 sampai 40 ribu rupiah, tergantung varian rasa dan ukurannya. Varian rasa yang sedang ngetrend di kalangan millenial adalah brown sugar, dimana rasa manis merupakan rasa dominan yang dapat dirasakan kala mencicipi jenis minuman ini. Walaupun banyak artikel kesehatan yang mengatakan bahwa kandungan gula yang terdapat pada brown sugar bubble tea cukup tinggi dapat membahayakan kesehatan, namun ini tidak menghalangi antusias masyarakat yang ingin mencoba. Bayangkan, tanpa topping bubble juga sudah mengandung gula dan perasa buatan. Dalam seperempat gelas bubble tea dapat menambah lebih dari 100 kalori.

Bicara masalah omset, semisal harga per gelasnya 35 ribu rupiah dan jumlah 40 pengunjung per hari, maka dalam sehari penghasilan bisnis ini mencapai 1.4 juta dan dalam sebulan bisa menyentuh angka 42 juta rupiah! Sedangkan biaya operasional per bulan, diperkirakan Rp 15 juta. Jika dikurangi dengan biaya sewa gerai sebesar 10 juta per bulan, maka keuntungan yang didapat bisa mencapai Rp 17 juta perbulan.

Wow, angka yang cukup besar untuk sebuah bisnis minuman. Hal ini tentu memicu para pebisnis untuk melebarkan sayapnya ke dunia kuliner khususnya bisnis bubble tea.

Pertumbuhan penjualan bubble tea dirasakan oleh Grab, perusahaan transportasi daring yang juga menyediakan jasa pembelian makanan secara online melalui GrabFood. Seperti dikutip dalam situs Grab yang merilis data kenaikan pertumbuhan penjualan bubble tea pada tahun 2018. Berdasarkan data tersebut, terjadi pertumbuhan penjualan sekitar 3000% di Asia Tenggara. Indonesia menempati peringkat pertama di antara negara-negara di Asia Tenggara dengan angka pertumbuhan penjualan lebih dari 8,500%! Fakta menariknya, rata-rata setiap orang meminum 4 gelas bubble tea per bulan melalui pemesanan via GrabFood.

Gambar 2 Rata-rata bubble tea yang dikonsumsi per bulan (sumber: grab.com)

Meski bubble tea identik dengan minuman manis, namun terdapat beberapa inovasi yang menyajikan dalam bentuk selain minuman. Sembari menumpang pada kepopuleran bubble tea, beberapa gerai mulai membuat menu andalannya ditambahkan dengan bubble tea. Semisal, roti panggang dengan topping bubble tea, kue mini dengan topping bubble tea, bubble tea milk tea cheese tart, dan sebagainya.

Menggelembungnya bisnis bubble tea tentunya merupakan efek dari keingintahuan masyarakat terhadap hal-hal baru. Hal ini juga tidak lepas dari promosi yang dilakukan oleh pemilik usaha sehingga menambah kesan ‘penasaran’ bagi konsumen. Jika anda adalah seorang pebisnis yang sedang bingung untuk menambah investasi anda, bisnis bubble tea merupakan salah satu alternatif yang sangat menjanjikan. Tertarik?

Penulis: Bintang Harry Jonathan Tua Sitorus
(Pelaksana pada Biro Organisasi dan Ketatalaksanaan, Sekretariat Jenderal, Kementerian Keuangan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here