Jakarta, TopBusiness — PT BPR Kerta Raharja Gemilang (Perseroda) atau Bank Kerta Tangerang menegaskan ambisinya untuk menjadi BPR dengan aset menembus Rp 1 triliun dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Target tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Utama Bank Kerta, Ai Suherlan, dalam presentasi penjurian TOP BUMD Awards 2026 yang digelar secara online, Rabu (28/1/2026).
“Judul yang kami angkat Terbaik, Berdaya Guna, Sejahtera Menuju Rp 1 Triliun itu memang mencerminkan mimpi kami. Insyaallah dalam satu sampai dua tahun ke depan target itu bisa terealisasi,” ujarnya.
Hadir pula dalam penjurian ini, Direktur Operasional Uus Mustaudi, Direktur SDM, Umum & Kepatuhan Deni Setia Wahyudi, Komisaris Independen Bangbang Purnawan, Komisaris Independen Beni Subarsyah.
Secara industri, kata Ai, BPR dengan aset di atas Rp 1 triliun cenderung lebih stabil, baik dari sisi permodalan, manajemen risiko, maupun kemampuan ekspansi usaha. Namun demikian, Bank Kerta tetap menempatkan prinsip kehati-hatian sebagai fondasi utama pertumbuhan.
“Kami ingin BPR yang besar, tetapi tetap sehat. Bukan besar lalu sakit-sakitan,” ucap Ai.
Dalam paparan penjurian, Ai Suherlan memaparkan bahwa hingga akhir 2025, total aset Bank Kerta telah mencapai Rp 775,8 miliar, tumbuh 16,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Realisasi tersebut bahkan melampaui target Rencana Bisnis Bank (RBB) hingga 105 persen.
Total pendapatan Bank Kerta Tangerang pada 2025 mencapai Rp131,85 miliar, meningkat 32 persen dibandingkan total pendapatan 2024 sebesar Rp 99,76 miliar. Dari sisi penyaluran dana, total pembiayaan pada 2025 mencapai Rp119,86 miliar, meningkat signifikan dibandingkan realisasi pembiayaan 2024 sebesar Rp 91,72 miliar.
Peningkatan ini mencerminkan konsistensi Bank Kerta dalam mendorong pembiayaan sektor produktif, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Sementara itu, penyaluran kredit tercatat sebesar Rp 613,16 miliar, tumbuh 11,17 persen secara tahunan. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 260 miliar, dengan pertumbuhan 9,83 persen. Dari sisi profitabilitas, Bank Kerta membukukan laba bersih Rp 9,1 miliar, melonjak 51,87 persen dibanding tahun sebelumnya dan terealisasi 155,97 persen dari target.
“Kinerja ini mencerminkan pertumbuhan yang tidak agresif berlebihan, tetapi terukur dan berkualitas,” kata Ai.
Payroll ASN dan Digitalisasi
Salah satu faktor kunci yang menopang kinerja Bank Kerta adalah kepercayaan Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam pengelolaan payroll gaji sekitar 5.200 ASN dan PPPK. Skema ini tidak hanya memperkuat basis dana murah, tetapi juga menjaga kualitas kredit, khususnya kredit payroll yang mencatat NPL 0 persen.
Di sisi lain, Bank Kerta juga terus mendorong transformasi digital sebagai bagian dari strategi jangka menengah. Sejak 2022, penguatan teknologi informasi menjadi prioritas, termasuk pengembangan mobile banking “GEMA”.
“Mobile banking GEMA sudah mendapatkan izin dari OJK dan tinggal satu tahap lagi dari Bank Indonesia. Kami harapkan pada semester I 2025 sudah bisa beroperasi penuh,” jelas Ai.
Selain mobile banking, Bank Kerta juga menyiapkan pengembangan QRIS, transfer online, serta aplikasi digital tabungan dan deposito untuk meningkatkan kemudahan layanan kepada nasabah.
Tata Kelola dan SDM Jadi Fondasi
Dalam aspek tata kelola, Bank Kerta telah menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG) sesuai POJK Nomor 9 Tahun 2024. Hasil penilaian menunjukkan peringkat 2 (memadai) untuk tata kelola, profil risiko rendah, serta tingkat kesehatan bank pada peringkat 2 (sehat).
Penguatan SDM juga menjadi perhatian serius. Bank Kerta mengalokasikan anggaran pengembangan SDM di atas 5 persen dari biaya tenaga kerja, melampaui ketentuan minimum regulator. Program sertifikasi Direksi, pejabat eksekutif, auditor, manajemen risiko, hingga SDM IT terus dijalankan secara berkelanjutan.
“Kami percaya kualitas SDM dan tata kelola yang kuat akan menentukan keberlanjutan pertumbuhan bank,” ujarnya.
Kontribusi Nyata bagi Daerah
Sebagai BUMD, Bank Kerta juga memberikan kontribusi signifikan kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang. Hingga 2024, dari modal disetor sebesar Rp55 miliar, Bank Kerta telah menyetorkan dividen Rp49,2 miliar, atau sekitar 85 persen.
Selain itu, Bank Kerta aktif mendukung program Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), antara lain melalui program One Student One Account (OSOA) yang telah menjangkau 436 sekolah dari tingkat PAUD hingga SMP, serta penyaluran kredit mikro produktif tanpa agunan hingga Rp10 juta dengan bunga kompetitif.
Terkait proyeksi kinerja 2026, Bank Kerta menargetkan aset meningkat menjadi Rp837 miliar, kredit tumbuh 11,25 persen, serta laba naik menjadi Rp11,3 miliar. Capaian tersebut dinilai sebagai pijakan kuat menuju target aset Rp1 triliun.
“Visi kami sekarang bukan hanya terbaik di Banten, tetapi terbaik secara nasional. Terbaik dari sisi kualitas, tata kelola, layanan, dan kontribusi bagi masyarakat,” ujar Ai Suherlan.
Berkat kinerja dan berbagai inovasinya tersebut, Bank Kerta Tangerang secara berturut-turut pada 2024 dan 2025 meraih penghargaan TOP BUMD Awards kategori BPR bintang 5, penghargaan kategori bintang tertinggi dalam ajang tersebut. Tak hanya itu, bank BUMD ini juga meraih TOP GRC Award 2025 “ BPR Bintang 4”. Tahun ini, Bank Kerta Tangerang juga menjadi salah satu bank BUMD finalis peraih TOP BUMD Awards 2026.
Masukan Dewan Juri
Dalam sesi pemberian nilai tambah, dewan juri memberikan sejumlah masukan strategis untuk memperkuat langkah Bank Kerta menuju target Rp1 triliun. Dr Subandi, praktisi consulting dan dosen Universitas Budi Luhur, mengapresiasi kesiapan infrastruktur teknologi informasi Bank Kerta, namun mengingatkan pentingnya selektivitas dalam pengembangan IT.
“IT-nya sudah cantik. Tapi BPR itu tidak bisa disamakan dengan bank besar. Tetap harus dikurasi, mana IT yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang belum perlu. Kalau terlalu masuk ke wilayah besar, justru bisa merepotkan dari sisi pengelolaan dan kepatuhan,” ujarnya.
Masukan lain disampaikan Dr Amni Zarkasyi Rahman dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro. Ia menekankan pentingnya memperkaya survei kepuasan nasabah dengan survei harapan (expectation survey) sebagai dasar peningkatan kualitas layanan.
“Kalau kinerja layanan dinilai sangat baik, tapi harapan nasabah juga sangat tinggi, di situlah celah perbaikan bisa ditemukan. Layanan yang berkualitas adalah layanan yang memenuhi atau bahkan melampaui ekspektasi,” katanya.
Ia juga menekankan perlunya skema pembiayaan baru yang lebih produktif untuk memberdayakan ekonomi lokal, tidak hanya bergantung pada pembiayaan payroll.
Sementara itu, Febrizal Efendi dari Asosiasi Peranti Lunak Telematika Indonesia (Aspiluki) menyoroti pentingnya determinasi Bank Kerta dalam menguasai ekosistem ekonomi daerah. Menurutnya, target Rp 1 triliun mencerminkan tekad kuat yang harus diikuti dengan langkah konkret.
“Bank Kerta berada di wilayah dengan potensi ekonomi besar. Jangan hanya mengandalkan payroll. Kalau bisa, seluruh transaksi proyek dan tender daerah harus melibatkan Bank Kerta. Di situlah fungsi determinasi itu bekerja,” ujarnya.
Febri juga menyinggung peluang optimalisasi program CSR dan dukungan fiskal, termasuk pemanfaatan regulasi terbaru yang memungkinkan insentif fiskal hingga 5 persen sebagai pengungkit peran sosial dan ekonomi bank daerah.
Adapun Ina Sawitri dari Yayasan Pakem, yang bertindak sebagai moderator, menekankan pentingnya pengukuran yang jelas dan terstruktur dalam mencapai target Rp 1 triliun. Menurutnya, target besar harus diterjemahkan ke dalam indikator kinerja yang konkret hingga level operasional.
“Target Rp1 triliun itu harus punya ukuran yang jelas. Misalnya capaian kredit dari sekian menjadi sekian, lalu divisualisasikan dalam dashboard kinerja. Angka-angka ini harus disosialisasikan sampai ke level bawah agar seluruh komponen organisasi memahami perannya menuju target tersebut,” jelasnya.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Ai Suherlan menyatakan bahwa Bank Kerta Tangerang terbuka terhadap evaluasi dan akan menjadikan rekomendasi dewan juri sebagai bahan penyempurnaan strategi ke depan.
Menurutnya, proses penjurian TOP BUMD Awards bukan sekadar kompetisi, tetapi forum pembelajaran dan benchmarking untuk memperkuat kualitas BUMD.
“Kami melihat masukan dewan juri sebagai pengayaan strategi. Target Rp1 triliun harus dibangun dengan tata kelola yang kuat, pengukuran yang jelas, serta keberpihakan nyata pada ekonomi daerah,” tegasnya.
