Jakarta, BusinessNews Indonesia—Harga mata uang digital Bitcoin yang tak kunjung naik kembali setelah jatuh dari posisi tertingginya senilai USD 19.340 (Rp 261 juta) per 7 Desember 2017 menjadi hanya USD 11.360 (Rp 155 juta) per 5 Maret 2018, menunjukkan bahwa nilainya semakin dekati realitas.
Menurut Purjono Agus Suhendro, pengamat e-commerce, ada beberapa hal yang menyebabkan harga Bitcoin tak mungkin naik setinggi pada pertengahan Desember 2017, setidaknya dalam waktu dekat.
Pertama, karena fundamentalnya sangat minimalis. Jumlah mata uang digital yang beredar tidak ada jaminan benar-benar akan dibatasi sampai 21 juta koin, yang kabarnya sekarang sudah beredar sebanyak 19 jutaan koin.
“Siapa yang menciptakan, siapa yang mengedarkan, dan siapa yang bisa menjamin kalau Bitcoin hanya akan ada 21 juta koin nantinya?” kata Purjono melalui telepon genggam, hari ini.
Kedua, Bitcoin tidak memiliki jaminan aset apa pun seperti saham sehingga untuk disebut sebagai produk investasi sangatlah sulit. “Oleh karena itu, mata uang digital masih sekadar bahan trading yang menarik, tapi sifatnya spekulatif,” ungkap pengamat teknologi digital tersebut.
Ketiga, melesatnya harga Bitcoin dari USD 753 pada pertengahan Desember 2016 menjadi USD 19.340 setahun kemudian, itu hanyalah reaksi dari banyaknya orang yang penasaran dan tak mau ketinggalan untuk memeroleh keuntungan dari pergerakannya.
Keempat, hampir semua negara masih melarang Bitcoin menjadi alat pembayaran karena dikhawatirkan akan memengaruhi nilai mata uang resmi seperti rupiah di Indonesia.
Lagi pula, alasan kelima, turunan Bitcoin terus bermunculan. Sampai saat ini, berdasarkan data CoinMarketCap.com, sudah lebih dari 1.500 koin digital beredar di pasar dengan fluktuasi dalam hitungan detik.
Jadi, wajar jika harga Bitcoin yang tercipta semakin wajar. “Sebab, masyarakat juga sudah semakin tahu apa itu Bitcoin dan sejenisnya, juga semakin realistis dalam mengambil keputusan apakah turut melakukan jual-beli kripto atau tidak. Soalnya, kalaupun tiba-tiba naik tinggi, masyarakat juga sudah tahu itu bakal turun kembali,” kata pemilik Strato Coffee Inc. tersebut.
